
"Belum ada kabar apa Nggit?"
Tanya Wak Icih pada anaknya,
"Ini lagi ditelfon tapi belum nyahut Mi,"
Kata Teh Inggit,
"Kamu telfon siapa? Balqis apa telfon Albar?'
Tanya Wak Icih lagi,
"Lah ya Balqis lah Umi, masa Albar, nggak enak atuh telfon calon suami orang,"
Teh Inggit geleng-geleng kepala,
Jep ajep ajep ajep...
"Ini kentang baladonya taruh di mana Wak?"
Tanya salah seorang tetangga yang bantu-bantu masak untuk menyambut kedatangan rombongan Balqis dan Albar, sekaligus juga untuk mengisi acara,
Tuuuuut...
Tuuuuut...
Siapa hendak turut,
Bunyi sambungan telefon Teh Inggit ke hp Balqis kembali bertatat tutut ria, hingga kemudian...
"Halo..."
Akhirnya, setelah sekian purnama di New York terlewati, terdengarlah suara Balqis berhalo mengangkat panggilan Teh Inggit,
"Aloha Qis,"
Teh Inggit menyambut senang suara Balqis,
"Ya Teh, ada apa Teh?"
Tanya Balqis,
"Posisi di mana Qis? Masih jauh apa enggak?"
Teh Inggit balik bertanya,
Seiring dengan itu terdengar suara debur ombak yang seperti bergulung,
__ADS_1
"Lagi di pantai apa Qis?"
Tanya Teh Inggit lagi,
"Oh, iya Teh, ini pada mampir dulu ke rumah makan, sudah pada mau makan kok, sekalian istirahat sebentar. Mungkin sekitar lima jam lah Teh sampai,"
Kata Balqis karena menghitung perkiraan acara makan dan lain-lain yang bisa saja sampai satu jam an.
"Oh gitu, oke deh, nanti aku bilang sama Umi dan yang lain,"
Kata Teh Inggit,
"Iya Teh, maaf ya kalau lama nunggu,"
Ujar Balqis,
"Tidak apa Qis, kita cuma pada khawatir saja, hati-hati semua di jalan, ketemu nanti di sini, met makan Qis,"
Kata Teh Inggit,
"Ya Teh, makasih Teh,"
Panggilan telfon pun kemudian terputus, dan Teh Inggit langsung menyampaikan apa yang baru saja didengarnya dari Balqis pada Wak Icih dan juga ibu lainnya yang masih sibuk menyelesaikan acara masaknya,
"Berarti masih cukup lah waktunya untuk menata prasmanan dan juga bungkus nasi berkat,"
Kata salah satu Ibu yang mendapat bagian tugas memasak mie bihun,
Sahut Wak Icih,
Teh Inggit lantas kembali bersiap dengan kesibukannya sendiri.
Di luar rumah Aki, tampak tenda telah siap dipasang, kursi-kursi untuk nanti duduk beberapa tamu undangan yang mungkin saja tak kebagian tempat duduk di dalam rumah juga sudah mulai disiapkan.
"Ini janurnya mau dipasang sekarang atau nanti saja?"
Tanya seorang pemuda yang datang dengan motor membawa beberapa janur kelapa yang terlihat masih segar,
"Dipasang di depan jalan saja Jang,"
Kata suami Wak Icih,
Ujang pun mengangguk,
"Siap laksanakan,"
Kata Ujang tegas,
__ADS_1
"Nggit... nggiiiit..."
Suami Wak Icih memanggil anak sulungnya,
Teh Inggit yang mendengar Bapaknya memanggil langsung berlari ke depan
"Kenapa Pak?"
Tanya Teh Inggit,
"Ini teh nya ditambah,"
Kata si Bapak seraya memberikan satu teko besar berisi wedang teh yang sudah dingin dan tinggal sedikit tersisa.
**-----------------**
Sementara itu, Balqis yang baru menerima telfon dari Teh Inggit kembali ke gazebo di mana Albar, Mami dan Flo duduk bersiap menyantap makanan mereka.
Rombongan yang lain duduk di gazebo yang terpisah dan lebih dekat dengan laut.
Po dan Eti bahkan tak juga selesai berfoto ria, sudah macam lumba-lumba yang senang sekali bertemu lautan.
"Teh Inggit,"
Kata Balqis begitu kembali bergabung dengan Albar dan keluarganya,
Tentu saja ia tak mau keduluan ditanya, Dan sekaligus juga agar Albar tak perlu curiga.
"Tanya sudah sampai mana?"
Flo seperti menebak, pertanyaan yang selalu akan ditanyakan seseorang jika tengah menunggu keluarga atau teman yang akan datang,
"Iya, katanya Uwak khawatir karena belum pada sampai,"
Ujar Balqis,
"Bilang, tenang saja, nanti begitu sampai langsung boleh foto bersama Albar Harrys dan dapat tanda-tangan gratis."
Kata Albar penuh percaya diri,
Flo langsung tertawa,
"Kayak situ masih dianggap artis aja, pada masih ingat kamu artis juga belum tentu,"
Seloroh Flo,
"Artis yang terlupakan,"
__ADS_1
Tambah Mami lalu menyeruput es jeruknya,
**--------------**