Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
74. Andai Tak Ada Jarak


__ADS_3

Jam mendekati pukul tiga dini hari saat akhirnya Albar dan Flo sepakat pulang.


Tiga piring gorengan, tiga mangkuk mie rebus dan lima cangkir kopi instan seduh serta satu bungkus rokok mild habis tanpa sisa.


"Kenikmatan nyatanya tak melulu soal harga."


Kata Flo saat masuk ke dalam mobil.


"Aku bahkan ketagihan hidup sederhana rasanya."


Sahut Albar yang menyusul masuk mobil dan duduk di sebelah Flo.


Pardi siap kembali di belakang kemudi.


"Langsung pulang kan Tuan?"


Tanya Pardi pada Albar yang duduk di belakangnya.


"Iya pulang aja, capek dan ngantuk aku."


Kata Albar.


"Kamu tidur aja di rumah Flo, ngapain balik ke apartemen."


Ujar Albar.


"Iya... Iya... cerewet."


Kata Flo.


Pardi menyalakan mesin mobilnya.


"Besok jumpa pers jam berapa?"


Tanya Albar.


"Jam sebelas."


Kata Flo tepat saat mobil mulai bergerak.


"Tapi kau harus sudah siap dari jam sembilan maksimal Bar."


Ujar Flo pula.


"Iya aku tahu."


Kata Albar.


Flo kemudian menyandarkan tubuhnya, ia juga rasanya mengantuk luar biasa.


Mobil bergerak memasuki komplek perumahan di mana Albar tinggal.


Perumahan yang terlalu elite macam perumahan di mana rumah Maminya berada, tapi paling tidak, Albar cukup berbangga hati karena membelinya dengan uang sendiri sejak jadi artis.


Hanya lima menit dari warkop yang mereka baru saja kunjungi, mobil Albar sudah sampai di depan rumah dua lantai milik Albar.


Pardi turun sejenak dari mobil untuk membuka gerbang rumah, lalu masuk ke dalam mobil lagi.


"Sepertinya memang kita butuh penjaga rumah baru."


Kata Albar.


"Nanti aku carikan."

__ADS_1


Sahut Flo dengan mata yang sudah terpejam.


Mobil kemudian berhenti di pelataran rumah, Pardi turun lagi dari mobil dan setengah lari-lari ke arah gerbang untuk menutupnya dan kali ini menggemboknya.


"Jangan tidur di mobil, perempuan tidur sembarangan."


Albar menjitak Flo.


Flo yang sudah super mengantuk memaksakan matanya melek dan kemudian turun dari mobil.


Flo masuk mendahului Albar yang menatap Flo menjauh dan menuju kamar yang biasa gadis itu tempati.


Tampak Albar menghela nafas.


Kasihan sebetulnya kadang Albar pada Flo, sejak ditinggalkan kekasihnya, Flo belum pernah pacaran lagi, ia seperti ada trauma menjalin hubungan dengan laki-laki.


Albar bahkan masih ingat wajah bajingan itu, yang nyaris Albar bunuh karena saking kesalnya.


Albar masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai dua menenteng gitarnya, ia langsung menuju kamar.


Begitu sampai di kamar, diletakkannya gitar miliknya itu dan kemudian Albar merebahkan diri di atas kasur tanpa membuka sepatu lebih dulu.


Ia terlentang seperti bintang.


Matanya mengerjap menatap langit-langit kamar yang temaram karena Albar sengaja tak menyalakan lampu.


Setelah jumpa pers ia akan mendatangi rumah Nurdin, kali ini ia harus benar-benar tahu sebetulnya ada hubungan apa Papinya serta Mang Kus dengan Nurdin dan Balqis.


**-----------**


Adzan subuh belum berkumandang dari surau-surau sekitar, namun Balqis tampak sudah bangun karena mendengar Dinda mengaji.


Tampaknya Dinda bangun sholat Tahajjud dan mengaji sambil menunggu subuh. Luar biasa dia, padahal Balqis tahu jika Dinda baru masuk kamar dan tidur sekitar jam satu lebih setelah ngobrol dengan teh Inggit soal kuliah.


Balqis mendekati kandang Cimot, membukanya dan membiarkan kucing kecil itu berlarian bebas ke tanah.


Balqis sendiri pergi ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi, baru setelah itu ia akan ke dapur untuk masak sarapan.


Meskipun Aki kini sudah tiada dan Albar juga tak ada, tapi kebiasaan Balqis rasanya tak bisa hilang begitu saja.


Ia tak biasa bermalas-malasan, ia selalu ingin mengerjakan apapun.


Balqis baru selesai dari kamar mandi, ia kemudian menuju dapur saat dilihatnya Teh Inggit sedang menyalakan kompor untuk merebus air.


"Teteh."


"Eh kamu Qis."


Teh Inggit tersenyum melihat Balqis yang muncul di pintu dapur dan menyusulnya masuk.


"Dingin banget, mau mandi pake air anget saja."


Kata Teh Inggit.


"Oh iya Teh."


Balqis mantuk-mantuk lalu berjalan menuju kulkas.


"Mau apa Qis?"


Tanya Teh Inggit.


"Masak Teh buat sarapan."

__ADS_1


Kata Balqis.


"Hmm ngga usah masak, nanti Teteh beli sarapan saja sama Nurul, ini kebeneran mau ke pasar pagi-pagi, makanya Teteh mau mandi ini."


"Teteh ke pasar pagi-pagi?"


Tanya Balqis heran.


Teh Inggit mengangguk.


"Teh Nurul mau kulakan buat warung Emaknya."


Kata Teh Inggit.


"Sekalian Teteh juga mau beli beberapa bahan sayuran sama bumbu yang udah habis."


"Kalau gitu Aqis ambil uang dulu Teh."


"Heh, apa sih, ngga usah, ini Teteh ada, udah Qis gampang, kamu tuh apa-apa jangan ngga enakan, Teteh nemenin kamu di sini kan juga sama aja ikut numpang, kita bareng-bareng aja pokoknya, jangan apa-apa kamu mikir nanggung semuanya."


Ujar Teh Inggit.


Balqis terdiam.


Ia tetap tampak tak enak.


Jelas karena Balqis masih dalam bayang-bayang kenyataan dia aslinya bukan bagian dari keluarga asli Aki dan Abahnya.


Sedih sebetulnya hati Balqis setiap kali menyadari hal itu, namun Balqis tak bisa menunjukkannya secara terang-terangan saat ini, ia juga masih memikirkan sekolahnya yang masih tinggal satu tingkat lagi.


Meski hati rasanya sudah ingin mencari keberadaan kedua orangtua kandungnya dan mengetahui silsilah aslinya, namun nyatanya Balqis sadar sepenuhnya jika ia belum cukup usia untuk melakukan semuanya.


Ia juga tak bisa serta merta meninggalkan rumah Aki dan bersikap seolah tak menghargai semua yang telah dilakukan Aki dan Abahnya selama ini.


Bagaimanapun hanya ini yang bisa Balqis lakukan untuk membalas kebaikan Aki dan Abahnya selama ini.


Mereka nyatanya bukan hanya membesarkan Balqis, bukan hanya merawat Balqis, namun juga menjaga, melindungi sebagaimana anak dan cucu sendiri.


Mereka juga menyekolahkan Balqis, mengajari Balqis agama, dan lain sebagainya.


Balqis tak bisa melupakan semuanya begitu saja, Balqis tak bisa melupakan satu kebaikanpun meski itu yang paling kecil.


Yah... Hanya ini yang bisa Balqis lakukan, sebelum nantinya Balqis lulus sekolah dan akan ke Jakarta mencari orangtua kandungnya, Balqis juga akan merawat rumah Aki sebaik mungkin.


"Qis, Teh Inggit mandi dulu ya."


Tiba-tiba suara Teh Inggit mengejutkan Balqis.


Tampak Balqis segera mengangguk.


"Iya Teh."


Teh Inggit mematikan kompor dan mengangkat panci berisi air yang telah mendidih ke kamar mandi.


Balqis keluar dari dapur juga di belakang Teh Inggit. Terlihat Cimot mendekati kaki Balqis dan segera Balqis gendong.


"Mau makan? Masa jam segini makan?"


Balqis bergumam pada cimot yang menampol pipi Balqis dengan kaki kecilnya.


Balqis tertawa kecil.


Ah dia jadi ingat Albar setiap kali bermain dengan Cimot.

__ADS_1


**---------**


__ADS_2