Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
53. Jawaban Balqis


__ADS_3

Balqis sudah keluar kamar. Ia duduk bersama Wa Icih di teras belakang membantu melipat kotak kue untuk acara nanti malam. Sementara Albar dan Flo belum pulang dari pemakaman.


Supir Flo yang bernama Bang Pardi pergi mengantar Inggit, anak perempuan Wa Icih membeli jeruk dan pisang untuk tambahan suguhan, sekaligus mengambil pesanan kue yang Wa Icih pesan di Ibunya Dinda.


"Pake kotak kue saja, biar tidak capek cuci piring."


Kata Wa Icih.


Balqis mengangguk pelan.


"Iya Wa, untung ada Wa Icih yang menguruskan semuanya."


Kata Balqis lirih.


Wa Icih tersenyum lalu menepuk lembut lengan Balqis di sampingnya.


"Nanti biar Navie sama Teh Inggit tidur di sini nemenin kamu Qis, jadi kamu tidak sendirian."


Ujar Wa Icih.


Balqis terdiam.


Ah iya, Balqis jadi ingat permintaan Flo pagi tadi, dan juga permintaan Albar kemarin sore.


Balqis menghela nafas.


Sama sebagaimana yang sudah Balqis sampaikan pada Albar, rasanya Balqis juga akan menjawab sama pada Flo.


Namun sejak tadi Balqis sejujurnya juga mulai ragu jika membayangkan hidup sendirian di rumah ini.


Meskipun rumahnya memang tak begitu besar, tapi tetap saja sebagai seorang gadis tinggal sendirian rasanya Balqis agak takut juga.


Tapi, ikut menumpang hidup pada Albar juga bukan pilihan yang ingin Balqis ambil. Sudah cukup ia hidup menjadi benalu orang lain selama ini, menjadi anak angkat Mang Kus dan hidup nyaman bersama Mang Kus dan Aki.


Jika Balqis harus kembali hidup menumpang pada Albar dan keluarganya, tentu Balqis merasa hidupnya semakin menyedihkan.


Ah Balqis sudah tak peduli jika nanti Albar pulang lalu ia dianggap sudah dicampakan Abar.


Apalagi ditambah Aki meninggal, pasti orang-orang akan semakin yakin jika Albar meninggalkan Balqis karena sejak awal memang tak niat dijodohkan.


Balqis menghela nafas.


Ia sudah siap.


Tak apa. Dibicarakan seperti apapun Balqis kini sudah siap.


"Besok Tuan Bara akan pulang ke Jakarta, Wa Icih pikir ia akan tinggal di sini terus."


Kata Wa Icih tiba-tiba, membuyarkan lamunan Balqis tentang Albar.


Balqis tampak menoleh pada Wa Icih.


"Dia kan artis Wa, kalau di sini terus kerjaan dia nanti pada dikasih ke artis lain."


Kata Balqis.


"Hah artis apa?"


Wa Icih ternganga.


Balqis memang sudah memutuskan untuk bicara sejujurnya sekarang, mau bagaimana tanggapan orang juga dia pokoknya sudah tak mau lagi peduli.


"Artis yang nyanyi itu, yang main film, yang bintang iklan juga, Albar Harrys, tahu kan Wa?"


Ujar Balqis.


"Duh Aqis, kamu ini bercandanya begitu amat."


Wa Icih terkekeh.


"Tapi memang mirip sih."


Kata Wa Icih lagi.

__ADS_1


"Bukan mirip Wa, memang itu dia."


Wa Icih membulatkan matanya.


"Beneran?"


Balqis mengangguk.


"Dulu Aki kerja di rumah Kakeknya Albar, dan Abah juga menggantikan Aki di sana, makanya keluarga Albar sudah dekat sekali dengan Aki."


"Lalu kenapa itu artis jadi dijodohkan sama kamu dan tinggal di sini? Kata Aki teh dia anak saudara isteri Aki, ternyata malah cucu mantan majikan Aki. Pantas Wa mikir dari pertama dikenalkan, anak saudara istri Aki yang mana? Perasaan kan keluarga istri Aki tidak ada yang seperti indo begitu."


Ujar Wa Icih.


Balqis tersenyum.


"Aki sengaja ngenalin Albar sebagai anak saudara karena supaya tidak sampai heboh Wa."


Wa Icih mantuk-mantuk.


"Ah iya juga, kalau semua orang tahu jelas bisa langsung lebih heboh kan Qis daripada sekarang."


Balqis mengangguk.


"Tapi sekarang pada tahu juga ngga apa, kan Albar juga besok pulang, jadi ngga masalah."


Kata Balqis yang kemudian melanjutkan melipat kotak kue.


"Tadi Kak Flo nawarin Aqis pindah ke Jakarta."


Lirih Balqis.


"Oh ya..."


Wa Icih tampak terkejut.


"Tapi Aqis akan tetap di sini saja Wa, tinggal sebentar lagi kenaikan kelas tiga lalu kelulusan, lagipula ada yang harus Aqis lakukan di sini."


Kata Balqis.


Lalu...


"Wa."


Panggil Balqis.


"Ya Qis, kenapa?"


Tanya Wa Icih.


"Sebetulnya Aqis anak Abah bukan?"


Tanya Balqis tiba-tiba, membuat Wa Icih sontak menabok lengan Balqis.


"Istighfar Qis, kok bilangnya begitu, tidak boleh."


Kata Wa Icih.


Balqis terdiam.


Lalu...


"Wa masih ingat saat Abah dan Umi kamu dulu membawa kamu pulang ke sini, kamu cantik sejak kecil. Abah dan Umi kamu lama sekali menunggu kehadiranmu Qis, untunglah penantian mereka berbuah manis, mereka memiliki putri secantik dan sepenurut kamu."


Ujar Wa Icih.


Balqis matanya berkaca-kaca menatap Wa Icih kembali.


Melihat bagaimana Wa Icih bercerita, tampaknya ia bukan sedang berbohong atau bersandiwara.


Wa Icih seolah sungguh-sungguh menceritakan sesuatu yang memang ia lihat dan alami sendiri.


"Kamu diberi nama Balqis karena kata Umi kamu secantik ratu Balqis, dan semoga dapat jodoh yang sebaik dan sukses seperti Nabi Sulaiman."

__ADS_1


Kata Wa Icih.


Balqis mengusap air matanya.


Benarkah Umi berkata demikian?


Balqis dadanya tiba-tiba rasanya begitu penuh.


"Bagaimana bisa kamu bertanya hal semacam itu Aqis, jangan diulangi lagi, tidak baik."


Kata Wa Icih pula.


Balqis mengangguk pelan.


Nyatanya surat-surat itu ada, lalu bagaimana? Batin Balqis.


Ah...


Andai ia tak perlu melihatnya sama sekali, pasti semuanya tak perlu menjadi beban bagi Balqis saat ini.


Ya, mungkin memang Abah, Umi dan Aki merahasiakan semuanya sedemikian rupa.


Mereka tak membiarkan siapapun tahu, bahkan Balqis sendiri selama ini.


"Ayah Dinda itu yang dulu jemput Abah dan Umi kamu saat pindahan dari Jakarta bawa kamu pulang ke sini."


Kata Wa Icih lagi.


Ayah Dinda?


Balqis baru akan bertanya sesuatu lagi pada Wa Icih, saat kemudian terdengar suara Albar dan Flo mengucap salam dari pintu samping, lalu terlihat keduanya muncul dari sana.


Albar langsung permisi ke kamar mandi, sementara Flo memilih cuci muka, tangan dan kaki di air keran yang ada di sumur.


Setelah selesai, baru Flo bergabung dengan Wa Icih dan Balqis yang sudah hampir selesai melipat semua kotak kue yang jumlahnya sekitar seratus dua puluhan.


"Baru mau bantuin udah kelar."


Kata Flo yang duduk sila tak jauh dari posisi Balqis duduk.


"Nona Flo mau dibuatkan minum?"


Tanya Wa Icih.


"Ada sirup di kulkas, kalau mau nanti Wa Icih buatkan."


Kata Wa Icih.


Tentu saja Flo mengangguk semangat.


"Baiklah, tunggu sebentar, Wa buatkan sekalian untuk Tuan Albar."


Ujar Wa Icih yang kini akhirnya sudah tahu jika Bara adalah Albar Harrys.


"Wa Icih tahu Albar sekarang?"


Bisik Flo pada Balqis yang tersenyum simpul.


"Barusan Aqis kasih tahu, biarlah, kan besok Albar pulang inih."


Kata Balqis.


"Pulang sekalian kamu juga kan Qis?"


Tanya Flo.


Balqis menggeleng.


"Terimakasih Kak Flo, tapi biarlah Aqis di sini saja, mungkin lain waktu saat Aqis kuliah baru akan hubungi Kak Flo jika Aqis butuh menumpang."


"Hey, jangan pakai istilah menumpang."


Kata Flo cepat, membuat Balqis tertawa.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2