Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
130. Bimbang


__ADS_3

"Makasih Nda, aku nggak nyangka kamu ternyata bukan cuma baik sebagai sahabat tapi juga sudah macam saudara."


Kata Albar saat Dinda menelfonnya untuk memberitahu apa yang dilakukan Beni diam-diam.


"Aku hanya tak ingin Aqis sedih lagi Bar, kau tahu bukan bagaimana keadaan Aqis yang sudah kehilangan orangtuanya, dan juga mendapati semua kenyataan yang menyakitkan."


Ujar Dinda.


"Ya Nda, aku tahu."


Albar menyahut dengan cepat.


Tentu saja, Albar sangat memahami apa yang dialami Balqis selama ini. Albar sangat mengerti bagaimana sakitnya luka Balqis selama ini.


Albar sangat memahami semua situasi yang serba tak menyenangkan untuk Balqis itu, dan Albar benar-benar berharap Balqis ke depannya tak akan mengalami masa sulit lagi, apalagi jika itu dikarenakan olehnya.


Ah tidak!


Albar sungguh ingin Balqis bahagia, dan Albar ingin dialah yang akan membahagiakan Balqis.


"Gadis itu, kamu yakin nggak ada hubungan apa-apa kan Bar?"


Tanya Dinda lagi.


"Gadis apa?"


Albar hilang fokus.


"Gadis yang berpelukan denganmu di depan kampus yang tadi fotonya dikirimkan Beni."


Ujar Dinda.


"Ah... tidak Nda, tidak ada satupun gadis dalam hidupku selain Balqis. Kamu tahu kan bagaimana kehidupan di luar negeri, pelukan dan ciuman pipi itu hal biasa, tidak perlu memiliki hubungan istimewa. Kami hanya teman, dia juga anak teman Mami, hanya itu."


Albar menjelaskan panjang lebar.


Dinda menghela nafas.


"Ya Bar, baiklah. Aku tahu jika pergaulan di sana berbeda dengan di sini, tapi alangkah baiknya jika kamu mulai membatasi diri Bar, meskipun di sana mungkin sudah biasa, tapi kamu seorang muslim, kamu juga orang timur, dan yang pasti kamu sudah memiliki calon isteri, jadi alangkah lebih baik kamu mulai menjaga jarak dengan gadis lain."


Dinda mengingatkan.


"Itu jika kamu sungguh-sungguh menyayangi Aqis dan tak ingin sampai menyakitinya lagi."


Kata Dinda menambahkan.


"Iya Nda, aku akan mengingat itu."


Sahut Albar menyanggupi.


"Oke Bar, segitu saja, lain kali jaga sikap dan jauhi saja Beni, dia bukan teman yang baik."


"Iya Nda."


"Aku sudahi Bar, Eti dan Po sudah pulang bareng Bang Zul, kayaknya Aqis mau bicarain soal kerjaan Bang Zul di rumah ini."


"Ohh iya bener, Bang Zul kerja saja di rumah, sekalian nemenin kalian, jadi aku lebih tenang kalian ada kakak laki-laki yang jagain."


Kata Albar.


"Ya Bar, makasih."


"Sama-sama Nda."


Dinda menyudahi panggilannya, lalu segera masuk ke dalam rumah, di sana semua sudah berkumpul di ruang makan untuk siap santap sore.


Bi Tuti memasak udang tepung, capcay dan tahu isi.


"Telfonan sama Bang Fajar teruuuus."


Seloroh Eti begitu Dinda mendekati meja makan dan bergabung dengan mereka.


Dinda terlihat tersenyum saja, sedangkan Balqis yang juga menyangka Dinda memang telfonan dengan Bang Fajar juga jadi tersenyum melihat Dinda yang duduk di sampingnya.


"Kapan katanya mau ke Jakarta nya Nda?"


Tanya Balqis.


Dinda yang ditanya soal Bang Fajar sedangkan sebetulnya Dinda justeru menelfon Albar tentu saja bingung jawabnya.

__ADS_1


Untungnya Eti lebih dulu nimbrung.


"Memangnya Bang Fajar mau ke Jakarta?"


Tanya Eti.


"Oh ya? Seriusan?"


Po juga ikut terkejut.


"Iya Bang Fajar bilang akan ke Jakarta pekan ini, cuma harinya kapan kayaknya cuma kasih tahu ke Dinda saja."


Kata Balqis yang disambut ciye ciye dari semuanya, membuat Dinda tersipu malu.


"Baguslah Fajar ke Jakarta, aku akan ajak jalan-jalan nanti di Jakarta."


Ujar Bang Zul.


"Aaah, ngomongin jalan-jalan, nanti jadi ya Bang, aku diajari mobil."


Eti pada Bang Zul.


"Iya nanti bisa kita atur jadwalnya Et."


Kata Bang Zul.


"Asiiik."


Eti mengacungkan dua ibu jarinya.


**-------------**


Albar setelah obrolannya dengan Dinda selesai sebetulnya akan segera mandi, namun tiba-tiba ia mendengar ketukan di pintu kamarnya.


Albar jadi terpaksa menunda acara mandinya, berjalan ke pintu kamar karena ia memang menguncinya.


Albar membuka pintu kamarnya dengan sedikit malas, saat kemudian terlihat Mami nya berdiri di sana dengan senyuman super lebar.


"Mami."


Albar terkejut Maminya ternyata muncul tiba-tiba.


Mami Albar cengar-cengir.


Kata Mami masih dengan senyuman lebar.


"Mami kapan pulang? Kenapa tidak kasih tahu Albar?"


Mami Albar ngeloyor masuk ke dalam kamar Albar sembari membawa paper bag kecil untuk kemudian Mami letakkan di atas meja kamar Albar.


"Rolex keluaran terbaru, untuk kamu Al."


Kata Mami Albar yang kemudian duduk di sofa kamar Albar.


Albar menyusul Maminya.


"Kalau Mami bilang kan Albar bisa jemput ke bandara."


Kata Albar.


Mami menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Ngga apa, Mami memang sengaja nggak mau ngerepotin kamu makanya ngga ngasih kabar."


Kata Mami.


Albar mengangguk mengerti.


"Ngga apa tadi Mami sekalian numpang mobil Mami Johana, kebetulan kami ketemu di Paris kemarin."


"Johana?"


Gumam Albar.


"Iya, kalian satu kampus kan? Pasti sering ketemu harusnya."


Ujar Mami.


Albar menggeleng.

__ADS_1


"Nggak lah Mam, kampus kita kan luas banget, kita juga beda jurusan, nggak bisa semudah itu ketemu."


kata Albar.


Mami tergelak kecil.


"Ah iya, bener juga."


"Tapi tadi kebeneran Albar ketemu sih, ngobrol sebentar malah, dia katanya mau masuk perusahaan Mami."


Ujar Albar.


Mami mantuk-mantuk.


"Iya, bulan depan, di bagian keuangan."


Kata Mami.


"Kamu juga harusnya mulai mikir kapan akan masuk perusahaan dong Bar, biar nanti perusahaan bisa Mami serahkan ke kamu sebelum Mami tua."


Ujar Mami lagi.


Albar yang merasa mendapat kesempatan emas untuk membuka pembicaraan tentang rencananya menikahi Balqis akhirnya membulatkan niatnya untuk langsung mengatakannya pada Maminya.


"Ya Mam, Albar memang berencana akan masuk ke perusahaan seperti Johana.


Kata Albar.


Mendengarnya tentu saja Mami Albar bahagia luar biasa.


"Serius? Kamu beneran kan Bar?"


Tanya Mami.


"Ya Mam."


"Ah ya Tuhan, terimakasih, Mami senang sekali Bar dengernya."


Mami begitu bahagia.


Albar menatap Maminya.


"Tapi Mam...".


Albar mengehentikan kalimatnya sejenak.


"Tapi apa? Kenapa? Kamu butuh apa? Bilang saja, bilang sama Mami, pasti Mami akan kabulkan."


Kata Mami.


Albar menghela nafas.


"Albar bukan ingin sesuatu yang bisa dibeli Mam."


Kata Albar.


Mami mengerutkan keningnya memandangi putra semata wayangnya.


"Lalu apa sayang?"


Tanya Mami.


"Balqis, ijinkan Albar menikahinya, Albar sangat mencintainya Mam, Albar sungguh ingin membahagiakannya, menjaganya, melindunginya seumur hidup Albar."


Mami seketika tercekat, ia tampak terkesiap mendengar penuturan Albar.


Apa?


Menikah?


Menikah dengan gadis yang telah ia buat jadi yatim piatu?


Mungkinkah gadis itu akan bisa sungguh-sungguh menerima Albar jika tahu kenyataannya?


Mami terlihat begitu ragu, tak bisa langsung mengiyakan, tapi juga tak bisa menolak.


Albar menunggu jawaban Maminya.


"Albar janji akan menuruti apapun yang Mami mau soal perusahaan, Albar akan urus perusahaan seperti yang Mami inginkan, asal Albar diijinkan menikahi Balqis Mam."

__ADS_1


Mami menghela nafas, bimbang.


**----------**


__ADS_2