Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
23. Cemas


__ADS_3

Hujan sudah reda, meskipun mendung masih bergelayut manja di langit sore. Balqis baru selesai mandi dan bergegas salin memakai gamis dan jilbab untuk pergi ngaji.


Albar yang sedang ngobrol dengan Fajar sambil nonton TV tampak terkejut melihat Balqis tiba-tiba tampil rapi jali dan tercium memakai parfum yang lebih wangi dari biasanya.


"Aku mau ngaji, sebelum maghrib udah pulang kok, titip rumah yah."


Kata Balqis pada Albar.


"Bawa jas hujan, ntar kehujanan."


Kata Albar.


"Iya."


Sahut Balqis yang kemudian menutup pintu kamar.


"Bang Fajar, temenin Bara dulu ya."


Ujar Balqis pada Fajar yang langsung mengacungkan ibu jari.


"Eh, salam buat Dinda enggak?"


Tanya Balqis membuat Fajar cekikikan.


"Salam pake lengkuas dong."


Sahut Fajar.


"Sekalian saja serai."


Kata Albar menyela.


Balqis mengucap salam lalu setengah berlari keluar rumah lewat pintu samping seperti biasa.


"Kalian mau langsung nikah begitu balqis lulus?"


Tanya Fajar begitu Balqis pergi.


Albar yang lupa dengan gosip buatannya sendiri mengerutkan kening.


"Hah Balqis mau nikah? Sama siapa?"


Tanya Albar dodol.


Fajar meninju lengan Albar.


"Lha bagaimana, bukannya kalian dijodohkan."


Fajar malah jadi bingung sendiri.


"Ah iya itu, hehe..."


Albar nyengir.


Lupa dia soal perjodohan hoax buatannya.


Maklum, karena tadi dia lihat iklan mie instan yang masih memasang wajahnya sebagai bintang iklan jadi otaknya geser ke Jakarta lagi.


"Kalau dipikir-pikir kamu sama Albar Harrys yang artis itu emang mirip banget Bar, kamu yakin kalian bukan saudara kembar? Jangan-jangan kalian anak kembar yang ditukar."


Kata Fajar.


Haish... Laki korban sinetron. Batin Albar.


"Dia operasi kali ngikutin wajahku."


Kata Albar, memancing tawa Fajar saja.


"Yang ada kamu yang kayaknya operasi, mana ada artis operasi ngikutin orang biasa."


Fajar geleng-geleng kepala seperti kipas angin.


Albar menyandarkan tubuhnya.


"Eh Bar, kalau nanti Aki pulang sampai malam, apa kamu sama Balqis cuma berdua saja di rumah?"


Tanya Fajar lagi kepo.


"Kenapa memangnya?"


"Ya kan kalian cewek cowok satu rumah berdua saja nanti ketiganya setan."


"Kamu setan?"


Tanya Albar.


"Sialan, aku ganteng gini dibilang setan."


"Ya tadi kamu bilang kan yang ketiga setan."


"Aku kan mau pulang."


Kesal Fajar.

__ADS_1


Haish... Lama-lama sembelit ngobrol sama cowok ini.


"Ah biasa saja, aku ngga mesum, kalo kamu mungkin bisa jadi nanti aneh-aneh kalau ditinggal berduaan sama Dinda."


Kata Albar.


"Sembarangan, nggak lah, nggak berani aku, kakak Dinda kan polisi di Bandung."


Kata Fajar.


"Oh yah."


Albar menoleh pada Fajar.


Fajar mengangguk.


"Makanya aku juga tahu diri, mau deketin Dinda nunggu nantilah kalau sudah bisa beli pick up, kayaknya masih kurang pede kalau cuma punya tossa."


Kata Fajar.


"Besok saja beli."


Sahut Albar santai.


"Sialan, kamu pikir pick up mainan bocah."


Fajar ngedumel.


"Serius, aku beliin."


Kata Albar santai.


Fajar geleng-geleng kepala lagi.


"Memangnya tabungan kamu banyak banget apa bagaimana sih Ra?"


Tanya Fajar.


"Ya belum banyak banget, tapi yang jelas jauh lebih banyak daripada artis yang suka pada pamer saldo ATM."


kata Albar sambil tertawa.


"Seriusan?"


Fajar melongo.


Albar nyengir.


Yaiyalah, uang jajan dia aja sebulan dua ratus juta dari Mami nya.


**----------**


Balqis duduk di antara teman-temannya di sudut ruangan tempat ngaji di Ustadzah Nur.


Mereka mendengarkan Ustadzah Nur yang sedang menjelaskan tata cara mandi wajib setelah haid.


Sebetulnya, Ustadzah Nur sudah sering membawakan ceramah soal ini, tapi kata Ustadzah Nur, ia sengaja selalu mengulangnya agar yang semula lupa jadi ingat, yang baru ngaji akhirnya juga jadi dengar.


Sekitar jam setengah enam sore, saat kemudian pengajian di tempat ustadzah Nur selesai.


Balqis dan teman-temannya pun saling bersalaman dengan teman-teman lain yang datang mengaji.


Tampak Amel juga ada di ruangan yang sama dengan mereka, tapi seperti biasa Amel tak peduli lagi dengan Balqis.


Ia malah bukan hanya tak peduli, tapi juga seperti sinis menatap Balqis.


"Amel lihatin aku terus dari tadi, aku jadi ngga nyaman deh."


Keluh Balqis lirih saat akhirnya mereka keluar ruangan dan menuju sepeda masing-masing.


"Ngga usah dihiraukan Qis, udah tahu dia kan gitu sama kamu dari kecil."


Kata Dinda.


"Ho oh, ngga penting juga dia mah."


Kata Po.


"Kalau macam-macam bilang aja, aku yang ladenin."


Ujar Eti.


"Ikh kamu mah malahan kompor."


Dinda menabok lengan Eti.


"Ya habisnya, kemarinan sok-sok manis sama Balqis, begitu denger Bara ternyata calon suami Balqis langsung sinis aja."


Eti yang malah emosi.


"Sssttt... Jangan keras-keras ngomongin Bara, nanti ada Bang Adit."


Ujar Po, membuat semua jadi tertawa, tak terkecuali Balqis yang senyum malu-malu.

__ADS_1


Semua sudah mulai bubar.


Geluduk terdengar di langit seperti menggelundung.


"Kayaknya mau hujan lagi nih, yuk pulang."


Kata Balqis yang mengingat posisi rumahnya jika dari rumah Ustadzah Nur paling jauh dibandingkan Dinda, Po dan Eti.


Mereka pun naik ke sepeda.


"Eh, PR fisika nanti jawabannya bagi-bagi ya di grup chat."


Kata Eti.


"Huuuu... kebiasaan ngga mau mikir."


Sahut Po.


Eti tergelak.


"Maklum gaes, aku lagi sibuk mikir postingan Babang Albar."


Kata Eti.


"Postingan apa? I miss u Eti? Kagak mungkiiiiiin."


Seloroh Po membuat Eti menarik ujung jilbab Po dari belakang.


Balqis dan Dinda jadi tertawa.


Eti mengambil hp nya dari tas kecilnya, lalu membuka akun media sosialnya dan mencari Albar Harrys.


"Nih."


Eti menunjukkan postingan terbaru Albar siang tadi.


"Apa yang harus dipikir, biasa aja."


Gumam Po heran.


"Kalian ini, apa ngga ngerasa ini kayak bukit di desa kita."


Kata Eti.


Mendengarnya Balqis segera meraih hp Eti dan melihat postingan Albar.


Lah ni artis bego apa bagaimana sih, kenapa dia seperti memberikan clue kalau dia sedang ada di mana. Batin Balqis heran.


"Ya kan Qis, kamu ngerasa ngga?"


Tanya Eti.


Balqis yang ditanya begitu jelas saja keder mau jawab apa.


"Halah tinggal cuma bukit aja dipikirin, Indonesia kan daerahnya mirip-mirip semua. Sawah, ladang, bukit, laut, gunung, hampir semua tempat ada kayak gitu mah."


Kata Po.


Balqis yang mendengarnya langsung mengangguk setuju.


"Ah iya Ti, paling cuma mirip aja, namanya bukit di mana aja sama bentuknya."


Ujar Balqis mencoba membuat Eti tidak akan mencari tahu lebih jauh.


Eti mantuk-mantuk.


"Ah yah bener juga, oke deh."


Kata Eti.


Mereka kemudian akhirnya pulang, dan karena tadi terlalu lama ngobrol tidak penting, walhasil di tengah jalan hujan keburu turun lagi.


Mereka langsung berlomba memakai jas hujan lalu kembali naik sepeda dan mengayuh sepeda masing-masing lebih cepat agar bisa lekas sampai di rumah.


Dinda yang kemudian sampai rumah lebih dulu, lalu berikutnya Eti, dan baru Po.


Balqis yang laing jauh masih harus mengayuh sepedanya lagi, saat kemudian di jalan ia berpapasan dengan mobil dan Balqis salah minggir ke kubangan.


Sepeda Balqis oleng dan Balqis pun sukses jatuh.


Mobil yang berpapasan dengan Balqis tampak berhenti, lalu mundur pelahan.


Tampak kemudian kaca mobilnya turun dan...


"Qis, kamu?"


Adit melongok dari sana, tak menyangka jika yang jatuh adalah Balqis karena wajah Balqis tertutup jas hujan.


Di rumah Albar mulai khawatir begitu hujan turun deras dan Balqis belum pulang.


"Kemana itu bocah?"


Gumam Albar sambil keluar rumah dan berdiri di jalan depan memakai payung menunggu Balqis.

__ADS_1


**---------**


__ADS_2