Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
136. Si Luni


__ADS_3

Bang Fajar di perjalanan menuju Jakarta tertidur pulas. Tak seperti yang dia bayangkan jika saat di jalan ia akan selfie-selfie ternyata malah mengantuk gara-gara semalaman tidak bisa tidur takut hantu mengganggunya lagi.


"Bang, mau ke toilet tidak?"


Tiba-tiba tubuh Bang Fajar diguncang dari samping.


Seorang pemuda yang duduk satu kursi bersamanya membangunkan Bang Fajar yang ngorok tak henti-henti.


Bang Fajar membuka matanya dengan malas, samar dilihatnya pemuda tampan di dekatnya itu nyengir saat Bang Fajar akhirnya bangun.


Bang Fajar celingak-celinguk.


Ah di pombensin rupanya.


"Udah di mana nih?"


Tanya Bang Fajar.


"Bekasi Bang, tadi nganter si ibu yang di depan dulu, setelah ini saya."


"Lha trus aku kapan?"


Bang Fajar keder.


"Ya paling setelah saya Bang, kan kita cuma tiga penumpang dan satu titipan barang itu ke Depok."


"Ah iya bener, kamu kok tahu banget."


Bang Fajar mantuk-mantuk.


"Kan tadi pada ngobrol, Bang Fajar tidur terus."


Kata pemuda bernama Tio itu.


Dia anaknya bakul cabe yang jualan dekat Bang Fajar di pasar, kebetulan kemarin saat Bang Fajar sedang mencari travel ke Jakarta, si bakul cabe dengar kegalauan Bang Fajar, walhasil dapatlah travel itu.


Tio seumuran Balqis, tahun ini dia diterima masuk salah satu Universitas swasta di Jakarta.


Berbeda dengan Balqis dan teman-temannya yang sudah berangkat setengah bulan lalu, Tio justeru baru berangkat ke Jakarta karena baru sembuh sakit.


"Saya mau ke toilet dulu Bang, mumpung supirnya rehat."


Kata Tio.


Bang Fajar mengangguk.


Ia tidak ikut karena belum ada keinginan laporan sampai sekarang.


Mungkin karena Bang Fajar tidak bolak balik minum dan malah sibuk tidur.


Huaaahmmm...


Bang Fajar menguap, berapa lama lagi kira-kira ia akan sampai di rumah Albar, rasanya Bang Fajar sudah tak sabar lagi.


Bang Fajar kemudian memeriksa hp nya, tapi ia ingat saat ini ia ada di Pombensin, jadi niatnya main hp diurungkannya.


Bang Fajar melihat jam saja di layar hp.


Sudah hampir Dzuhur, semoga sampai di rumah Albar, ia masih keburu sholat Dzuhur.


Tak lama berselang, Tio tampak berjalan bersama si supir menuju mobil travel yang diparkirkan dekat minimarket yang ada di Pombensin.


Terlihat keduanya kemudian masuk ke dalam travel.


"Tidak ke toilet Bang?"

__ADS_1


Tanya supir travel.


Bang Fajar nyengir sambil menggeleng.


"Kita antar dik Tio dulu, baru nanti Bang Fajar.


Ujar si supir.


"Ya oke.".


Bang Fajar tentu setuju saja, kalau tidak setuju nanti di tendang dari mobil.


Pak supir menyalakan mesin mobilnya lagi, bersiap melajukan mobilnya meninggalkan Pombensin untuk menuju Jatinegara di mana Tio katanya sudah dapat kos-kosan.


**-----------------**



"Siapa ini Qis?"


Tanya Dinda saat melihat hp Balqis.


Keduanya sudah dalam perjalanan pulang dari kampus.


Hari ini tak banyak kegiatan untuk mahasiswa baru, jadi mereka bisa pulang lebih awal dan kebetulan bisa menyambut Bang Fajar di rumah manakala nanti dia sampai di Jakarta.


"Ini yang namanya Bang Indra, calonnya Kak Flo."


Kata Balqis.


"Hah, jadi Kak Flo udah mau nikah juga?"


Balqis cekikikan karena Dinda malah langsung mikirnya Kak Flo mau menikah.


Dinda menabok lengan Balqis.


"Enggak apa, ya udah kita aminkan saja, semoga kalau dia laki-laki yang baik dan benar-benar bisa sayang sama Kak Flo, mereka dikasih jalan mudah buat berjodoh."


"Aamiin... Aamiin."


Dinda pun mengaminkan.


"Cakep sih, tapi laki-laki ngga cukup cuma cakep, karena fisik nggak jaminan bikin bahagia."


Kata Dinda kemudian.


Balqis mengangguk.


"Sama saja, perempuan juga begitu."


Dinda kali ini mantuk-mantuk juga.


"Betul itu Non."


Bang Pardi nimbrung pembicaraan Balqis dan Dinda membuat keduanya jadi tertawa.


Bang Pardi hari ini adalah terakhir di rumah Albar karena sore nanti Bang Zul resmi pindah sepenuhnya di rumah Albar.


Bang Pardi akan kembali ke tempat Flo.


"Eh Bang Fajar sudah sampai mana Nda katanya?"


Tanya Balqis.


Dinda segera mengambil hp nya dari dalam tas, dari sejak chat kasih kabar otw pada Dinda, hingga tadi terakhir Dinda cek hp belum ada notif pesan masuk dari Bang Fajar.

__ADS_1


Dinda membuka hp nya, dan masih sama saja, tak ada notif dari Bang Fajar.


"Kenapa ya Qis, padahal kan ini sudah mau Dzuhur, kok belum ada kabar malahan."


Dinda jadi khawatir.


Rasanya kesal dirinya pada diri sendiri, saat dalam kondisi khawatir, dia malah kepikiran soal kecelakaan dan lain-lain, yang otomatis membuat kekhawatiran nya meningkat tiga kali lipat, dan itu tentu saja sangat mengganggu.


"Ngga usah khawatir Nda, paling ketiduran."


Kata Balqis.


"Kan semalam kayaknya Bang Fajar tidak tidur, pasti sekarang dia ngantuk berat."


Lanjut Balqis pula.


Dinda yang mendengar Balqis seperti paham betul kondisi Bang Fajar jadi menatap curiga.


"Kamu kok sampai tahu Bang Fajar nggak tidur Qis?"


Tanya Dinda menyelidik.


Balqis mengerutkan kening mendengar Dinda seperti curiga pada Balqis.


Tampak sekian detik kemudian Balqis jadi tertawa.


"Apa sih Nda? Kamu cemburu apa gimana?"


Tanya Balqis.


Dinda ditanya begitu malah jadi salah tingkah.


"Ayolah, kamu tahu banget aku sama Bang Fajar bukan tipe manusia tak tahu diri sampai main serong di belakangmu. Aku kan lihat status dia Nda, makanya aku tahu Bang Fajar tidak bisa tidur. Ada hantu katanya di rumahnya, hahaha..."


Balqis kembali tertawa.


Dinda tersenyum keki.


Ah ya benar, Bang Fajar semalaman membuat status di akun aplikasi chat nya, dari yang insomnia berat, hingga masalah ia diteror hantu yang menirukannya bersiul.


Balqis menepuk tangan Dinda.


"Aku chat aja sama Bang Fajar cuma masalah ayam, selain itu ngga pernah kami chat. Kita tahu batasan Nda, meskipun aku sudah menganggap Bang Fajar sebagai kakakku sendiri, tapi tetap saja aku tahu jika ada perasaan kamu yang harus dijaga."


Kata Balqis.


Ah Dinda rasanya jadi malu mendengar Balqis bicara demikian.


Memang sebetulnya Dinda paham jika baik Balqis maupun Bang Fajar bukan tipe orang yang tak memiliki adab dan tak tahu aturan dalam pergaulan.


Ya, mungkin Dinda hanya terlalu sensitif belakangan ini, entah karena apa juga Dinda tidak tahu.


Sementara itu Flo yang pagi tadi membawa kitten anabul dari jalan taman kota ke kafenya, akhirnya dibuat sibuk oleh si kitten.


Si kitten yang sepertinya sangat suka diajak pulang oleh Flo terlihat melompat ke sana kemari.


Flo sebetulnya ingin memandikan si kitten itu, tapi ia tidak tahu caranya memandikan anak kucing.


Mungkin nanti sore saja menunggu Balqis datang agar bisa dimandikan.


Flo kembali bermain dengan si kitten, Flo mengambil foto dan videonya, lalu ia unggah di status aplikasi chat nya, dan juga di akun media sosialnya.


Si Kitten ia kasih nama "Luni".


**-----------------**

__ADS_1


__ADS_2