Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
57. Yang Ketiga Kali


__ADS_3

Balqis menatap kotak yang dibungkus rapi pemberian Albar yang ia letakkan di atas meja belajarnya.


Ada keinginan untuk membukanya sekarang, tapi ia ingat pesan Albar agar Balqis hanya boleh membukanya saat nanti Albar sudah pergi.


Balqis menghela nafas.


Perasaannya jadi tak menentu. Kebat-kebit, dag dig dig bagai bedug masjid pindah ke sebelah jantungnya.


Apa ya kira-kira isinya?


Cincin?


Ah kotak itu terlalu besar jika hanya isinya cincin, lagipula terlalu GR rasanya jika Balqis belum apa-apa membayangkan Albar memberinya cincin.


Tapi, kotak seukuran itu kira-kira apa isinya?


Tidak mungkin mie instan bukan? Atau sabun colek? Atau bumbu dapur? Ah yang benar saja.


Balqis sibuk menerka-nerka.


Balqis akhirnya daripada pusing sendiri macam sedang mengisi TTS, maka lebih baik memilih naik ke atas tempat tidur saja.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih.


Besok pagi Balqis ingin bangun lebih awal sebelum subuh, ia ingin masak untuk terakhir kali buat bekal Albar di jalan.


Balqis menghela nafas lagi.


Apa sebetulnya yang terjadi pada dirinya sekarang? Kenapa sekarang hatinya berpindah kepada Albar sepenuhnya, bahkan bertemu Bang Adit pun sampai rasanya biasa saja.


Balqis memejamkan matanya. Mungkin cinta memang begitu. Sulit dijelaskan dan kadang tak punya alasan.


Mungkin benar kata orang, jika cinta masih ada alasannya maka itu bukan cinta. Tapi mencintai orang tanpa alasan apa bukan kebodohan namanya?


Ah malah jadi mikir lagi, trus kapan tidurnya? Batin Balqis.


(Maap ya Qis, othor kan memang suka ngajak mikir, kalo ngajak piknik butuh duit banyak, ngajak mikir aja wkwkwk)


Sementara itu, Albar di kamar loteng juga sama, ia belum bisa tidur, ketambahan juga Flo pindah dari kamar Aki ke kamarnya.


"Kenapa kamu pindah sih Flo? Ganggu aku pengin merenung saja."


Kesal Albar.


"Lah ngga usah merenung, otak kamu kasihan udah kecil disuruh kerja keras."


Kata Flo sambil meringkuk di atas kasur Albar.


Jiaaah...


Albar geleng-geleng kepala.


Albar masih duduk sila di lantai kayu kamarnya sambil mengeluarkan beberapa baju dari koper.


"Kenapa udah dimasukin trus sekarang dikeluarin lagi sih? Kurang kerjaan, dodol."


Flo komen sambil membuka satu matanya.


Albar melempar satu bajunya ke muka Flo.


"Udah diem, tidur sono!"


Albar emosi.


Flo cekikikan.


"Galau banget mau pulang ke Jakarta, awal ketemu aja ribut mulu, sekarang udah kayak pengantin baru mau pisahan."


Seloroh Flo yang langsung mendapat lemparan kedua.


"Ini kalo dibikin film drama lagunya pake lagu Sheila on seven, judulnya tunggu aku di jakarta."


Flo tertawa.


Albar yang mendengar jadi ingat lagu itu.


Ah iya benar juga lagu itu bagus.


"Eh Flo."

__ADS_1


Albar kemudian seperti mendapat ide.


"Nanti aku mau nyanyi itu ajalah."


"Nyanyi itu apa?"


"Lagu Sheila on seven."


Kata Albar.


"Ya udah, kamu mau nyanyi apa juga terserah, aku mah judulnya kamu kerja, aku nerima duit hahahaha..."


Flo terbahak membuat Albar sekarang ingin melempar koper.


**--------**


Pukul tiga dini hari, Balqis mendengar suara alarm hp nya. Ia bangun, lalu duduk sebentar. Setelah itu berjalan pelahan keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi.


Balqis mau cuci muka, sikat gigi lalu ambil wudhu dan sholat malam sebentar.


Balqis melewati ruang dalam rumah yang lampunya dipadamkan hingga semuanya terlihat samar-samar saja, tampak Pardi dan Navie tidur pulas di atas karpet yang digelar, serta...


"Ya Allah."


Balqis nyaris melompat menabrak dinding saking kagetnya melihat seseorang duduk bersandar di sudut ruangan.


Albar yang terkantuk-kantuk juga jadi ikut kaget mendengar suara Balqis.


"Kamu kenapa bukannya tidur malah duduk begitu sih Bar."


Balqis mengelus dadanya yang hampir saja jantungnya copot keluar.


Albar mengucek matanya, lalu berdiri dan menggeliatkan tubuhnya sejenak.


"Di kamar ada Flo, aku pindah ke sini juga ngga bisa tidur, Pardi ngorok sampe kayak Krakatau meletus."


Kesal Albar.


"Di kamar Aki kan kosong."


Kata Balqis.


"Hmm takut ya, orang mah pada suka aneh, pas hidup sama-sama, begitu meninggal takut dia muncul."


Kata Balqis sambil ngeloyor keluar rumah menuju sumur.


Albar mengikuti.


"Bukannya takut Bal, cuma khawatir diajakin sekalian."


Kata Albar.


Balqis langsung menoleh dan kemudian menabok Albar.


"Ngomongnya suka asal keluar aja."


Kata Balqis.


Albar nyengir lagi.


Balqis kemudian menuju kamar mandi.


"Kamu jam segini mandi?"


Tanya Albar.


"Aku mau cuci muka sekalian wudhu."


Kata Balqis.


"Oooh."


Albar mantuk-mantuk, lalu duduk di kursi meja makan yang diletakkan di teras pembatas bangunan rumah dan sumur.


Ia menemani Balqis yang kini masuk kamar mandi, duduk di sana sambil menatap langit bertabur bintang.


Hari ini ia masih melihat langit dari rumah Aki, besok mungkin ia akan melihat langit dari tempat yang berbeda.


Dari balkon kamar rumahnya mungkin, atau dari rumah Mami. Entahlah.

__ADS_1


Tak selang berapa lama Balqis tampak keluar dari kamar mandi, ia lalu menuju keran dan ambil wudhu.


Baru setelah wudhu terlihat naik ke teras, menghadap kiblat dan baca doa setelah wudhu baru selepas itu bilang ka Albar ia harus sholat dulu sebentar.


Albar menatap Balqis yang masuk ke dalam ruang dalam.


Hatinya begitu damai tiap kali melihat Balqis.


Ah ya, cantik itu bisa dipoles, tapi perempuan yang membuat hati tenang itu tak hanya cukup dengan bedak dan gincu.


Albar memilih tetap duduk di sana, menikmati indahnya bintang yang berkelip-kelip, hingga Cimot mengeong menyapa, dan hingga akhirnya Balqis kembali muncul lalu berjalan melewatinya menuju dapur.


"Kamu lapar apa mau sahur?"


Tanya Albar cerewet.


Balqis membuka kulkas menilik ada bahan masakan apa yang bisa ia olah.


"Ada daging sapi yang sepertinya Aki yang beli di dalam freezer, lalu ada beberapa sayuran, ada telur, daging ayam yang sudah diungkep juga sepertinya Wa Icih yang menyiapkan."


Balqis keluar sebentar dari dapur menghampiri Albar yang tampak menggendong Cimot.


"Kamu mau mie goreng?"


Tanya Balqis.


"Hmm boleh."


Albar cepat mengangguk.


Balqis tersenyum.


"Aku buatkan untuk sarapan sekalian, goreng Omelette juga. Nanti aku juga masakin buat bekal di jalan."


Kata Balqis sambil kemudian akan berbalik lagi ke dapur saat Albar menariknya dan kemudian memeluk Balqis tiba-tiba.


"Aku rasanya ngga ingin pulang Bal."


Lirih Albar.


Balqis terdiam dalam pelukan Albar.


Tak tahu harus bagaimana. Dadanya terlalu berdebar-debar hingga semua tubuhnya jadi terasa lemas.


"Jaraknya akan terlalu jauh, ini berat buat aku Bal."


Kata Albar.


Balqis terdiam. Membayangkan Albar akan pergi dan tidak tahu kapan akan kembali sejujurnya juga membuat Balqis sangat sedih. Apalagi Jakarta-Tasikmalaya juga tidaklah dekat.


Belum lagi Balqis masih sekolah, dan Albar adalah artis yang pasti nantinya akan sangat sibuk, belum lagi memikirkan Albar yang kelas sosialnya sangat tinggi dan pastinya dikelilingi banyak perempuan cantik serta berkelas.


Ah...


Balqis merasa begitu kecil sebetulnya sekarang.


Ia bisa apa? Ia hanya merasa seperti remahan mie instan yang kelewatan masuk panci.


Albar kemudian merenggangkan pelukannya, lalu menatap wajah Balqis lekat-lekat lalu akhirnya memberanikan diri mencium kening Balqis.


"Aku sayang kamu Bal, aku akan tunggu kamu lulus sekolah dan aku akan dampingi kamu sampai meraih cita-cita mu Bal, aku janji."


Kata Albar.


Balqis mengangkat wajahnya.


Matanya berkaca-kaca menatap Albar.


"Setelah melamarku di dekat kamar mandi, lalu di sumur, sekarang di dapur."


Kata Balqis tergugu.


Albar tertawa.


"Yang penting bukan di kamar kan bahaya."


Kata Albar membuat Balqis menabok lengannya.


**----------**

__ADS_1


__ADS_2