Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
124. Bi Mo Li


__ADS_3

"Flooo... Flooo!!"


Albar meninggikan volume suaranya, membuat Flo terkejut dan tersadar dari acar bengong rianya.


"Kamu tidur apa kelelep sih, diajak ngomong malah diem aja.".


"Oh eh... Apa Bar, kamu ngomongin apa tadi?"


Tanya Flo minta siaran ulang.


Haiish... Albar mendesis, sadar dia sudah dikacangi macam gado-gado dan ketoprak.


"Udahlah, kamu ngantuk itu, percuma diajak ngomong juga hah hoh hah hoh palingan."


Kata Albar sebel.


Flo bangkit dari rebahannya.


"Kamu udah ngomong sama Mami kamu soal rencana nikahin Balqis?"


Tanya Flo tanpa rasa bersalah, lha dia kemana saja Albar ngomongin Maminya sampe bibir jadi bimoli (bibir monyong lima senti)


Albar menghela nafas.


"Flo... Flo... Aku tadi kan bilang kalau Mami itu kemarin bilang lagi di Hamburg karena tiba-tiba ingin ngopi di sana, trus janjinya pas aku nyampe Perth dia juga akan segera pulang, tapi nyatanya sekarang dia lagi di Paris sama Mami kamu shoping, bahkan rencananya mereka juga akan ke Madrid sampai lusa."


Mendengarnya Flo jadi terpingkal, ia benar-benar tak mendengar Albar cerita apapun tadi.


Ah benar, ini semua gara-gara surat undangan dari Indra.


"Aku musti sabar nunggu Mami pulang, padahal aku berharap bisa bicara dengannya saat ini juga."


Lanjut Albar lagi.


"Yah sabarlah."


Sahut Flo sambil kemudian memandangi kertas undangan yang masih dipegangnya.


"Ngg... Bar."


Panggil Flo tiba-tiba.


"Kenapa Flo? Kamu ada tamu? Atau sibuk? ya udah nggak apa, nanti gampang lanjut lagi lah."


Kata Albar, lagipula ia rasanya terlalu bete saat ini, mengetahui Maminya malah menyalahi janjinya lagi.


Ya, lagi dan lagi...


Mami Albar nyatanya memang sejak Albar kecil selalu jarang di rumah. Albar seolah hanya tumbuh dalam kemegahan, tapi tak ada kehangatan cinta dan kasih sayang yang cukup.


"Wait Bar, bukan... Bukan karena aku sibuk, aku hanya mau tanya sesuatu."


Kata Flo.


"Tanya soal apa? jangan yang aneh-aneh."


Ujar Albar.


Flo mendengarnya jadi tertawa.


"Tanya aneh-aneh apa sih, aku juga tahu kamu belum pernah yang aneh-aneh."


Kata Flo di sela tawanya yang renyah.


Lalu...

__ADS_1


"Ngg Bar, menurutmu, kalau cowok dikasih uang lalu dia balikin uang itu gimana? Dia tipe cowok gimana? Sombong kah? Belagu kah? Atau memang karena dia bukan cowok matre?"


Tanya Flo.


"Ya tergantung dong."


Jawab Albar.


"Ikh, tergantung gimana? Kamu pikir lagi bicarain jemuran apa gimana tergantung?"


Flo ngedumel.


"Ya tergantung gimana cara dia balikin uang itu, semua kan bisa dilihat dari sikap dan omongannya."


Sahut Albar.


Flo terdiam, ia menghela nafas.


Flo mencoba membandingkan dengan pacarnya yang dulu kata Albar hanya memanfaatkan Flo saja.


Laki-laki itu memang sejak awal hanya berniat main-main saja dengan Flo, dan hanya ingin mendapatkan banyak uang dari Flo.


"Kamu lagi bucin sama siapa sih?"


Tiba-tiba terdengar suara Albar bertanya.


"Hahaha bukan gitu Bar, ini bukan masalah bucin."


Ujar Flo.


"Halah mau ngelak gimana juga aku bisa ngerasain kalo kamu lagi bucin, cerita aja, aku dengerin, lebih baik biar aku nilai dia dari sekarang, daripada nanti kamu jadian trus baru ketahuan dia bajingan."


Flo terdiam.


Bucin?


Flo menghela nafas.


"Cerita gih, aku dengerin."


Ujar Albar.


Flo kini seolah mempertimbangkan perkataan Albar, setelah itu...


"Ya, baiklah, aku akan cerita, tapi jangan ketawa, kalau ketawa aku akan ke Perth langsung besok pagi biar bisa memukulmu."


Mendengar ancaman dari Flo langsung membuat Albar jadi terbahak.


**---------**


Balqis baru saja turun ke lantai satu setelah sholat Maghrib.


Tampak semua temannya sudah berkumpul di ruang makan, di sana juga ada Bang Zul.


Eti yang hari ini dapat jadwal masak untuk makan malam terlihat membawakan menu terakhir masakannya.


Dinda tersenyum menyambut Balqis begitu melihat Balqis berjalan mendekati mereka semua.


"Yuk Qis makan."


Kata Bang Zul yang duduk bersebelahan dengan Po.


Balqis yang datang dari arah belakang po dan Bang Zul rasanya entah kenapa jadi ingin menangis lagi.


Ia sungguh merasa bersalah.

__ADS_1


Ia yakin Bang Zul kini sudah tak ada pekerjaan lagi, itu sebabnya ia sekarang ada waktu untuk ikut berkumpul.


"Non Balqis mau dibuatkan air madu lagi Non?"


Bi Tuti muncul dari arah dapur dengan satu piring ceper berisi buah-buah potong, ada semangka, melon dan pepaya.


"Terimakasih Bi, besok lagi saja nggak apa."


Ujar Balqis.


Bi Tuti mengangguk.


Setelah meletakkan piring buah di atas meja makan, Bi Tuti kemudian bergegas menuju keluar untuk mengingatkan penjaga rumah untuk makan bersama Pardi di ruangan para pekerja yang telah di sediakan.


Ruang makan untuk para pekerja terletak di dekat dapur dan juga satu lagi adalah di dekat kamar belakang di mana memang disediakan untuk mereka.


"Wah makanannya sejak calon Nyonya kita tinggal di sini makin menggiurkan saja, semoga ini akan terus berlangsung lama."


Kata penjaga rumah, membuat Bi Tuti dan Pardi tertawa.


Mereka bertiga kemudian menikmati santap malam mereka sambil mengobrol ke sana ke mari.


Sementara itu, di ruang makan di mana Balqis dan yang lain tengah menikmati santap malam mereka juga, kini akhirnya mereka mulai membicarakan rencana Bang Zul ke depannya karena akhirnya memang Bang Zul resmi dikeluarkan dari tempat kerjanya.


"Mungkin Bang Zul akan pulang lebih dulu, rehat sejenak, baru setelah itu memikirkan akan kerja dimana."


kata Bang Zul.


Balqis menatap Bang Zul dan Po, terbayang di kampung orangtua Po yang pasti akan sedih jika sampai tahu bahwa Bang Zul yang menjadi salah satu tumpuan keluarga mereka sudah tak lagi bekerja.


Balqis menghela nafasnya. Lalu...


"Bang Zul, semua adalah salah Balqis, mungkin jika Balqis tidak pindah begitu saja, Bang Zul tidak akan sampai dikeluarkan."


Kata Balqis sambil tertunduk.


Bang Zul tampak terkekeh saja.


"Sudahlah Qis, tidak usah terlalu dipikirkan, mungkin saja dengan begini Bang Zul jadi bisa istirahat setelah sekian tahun bekerja tanpa henti."


"Tapi kak..."


Balqis menatap po di sebelah Bang Zul yang sedari tadi hanya diam.


Kasihan Po, pasti ia memikirkan nasib biaya kuliahnya bagaimana, karena kini Bang Zul tidak ada penghasilan.


Hingga...


"Apa Balqis coba ajukan permohonan kerja di sini saja?"


Tanya Balqis akhirnya.


"Maksudmu kamu mau daftar kerja untuk Bang Zul ke Albar?"


Tanya Po.


Balqis tersenyum sambil mengangguk.


"Aku yakin dia akan ijinkan Bang zul bekerja, nanti akan ku tanyakan langsung padanya."


Balqis dan yang lain terlihat masih sibuk membicarakan pemecatan Bang Zul dan rencana Bang Zul agar bisa bekerja di rumah ini saat di ruang makan para pegawai rumah Albar ternyata juga sedang membicarakan soal jadwal jaga si penjaga rumah yang mulai harus gantian karena jika seharian berjaga tentu saja pak penjaga akhirnya tidak bisa istirahat cukup.


"Tenang Pak, nanti saya sampaikan pada Nona Flo, bahwa rumah Albar harus menambah satu orang lagi untuk bisa gantian dengan Pak Wardiman."


Ujar Pardi pada penjaga rumah Albar.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2