
Dinda menatap map berisi berkas proses adopsi Balqis yang baru saja disodorkan oleh Balqis.
Keduanya duduk di atas tempat tidur kamar Balqis.
Ya, sesuai apa yang dikatakan Dinda jika ia sepulang ngaji akan melihat kondisi Balqis, maka Dinda memang akhirnya benar-benar ke sana.
Balqis matanya masih berurai air mata, tangannya bahkan saat meletakkan map berkas yang kini di depan Dinda pun terlihat gemetaran.
Dinda menghela nafas.
"Sabar Aqis, semua pasti ada hikmahnya, kamu ingat kan kata ustadzah Nur, jika Allah tak akan membebani kita melebihi kemampuan kita?"
Dinda meraih tangan Balqis yang terasa dingin.
"Aku... Aku baru saja belajar menerima kenyataan jika Aki tiada, aku juga baru belajar menerima kenyataan jika aku ternyata hanya anak adopsi, aku... aku... aku bisa berusaha kuat karena ada Albar yang aku pikir bisa menjadi kekuatanku Nda."
Balqis menangis tersedu.
Dinda meraih Balqis ke dalam pelukannya.
Dinda jadi ikut menangis, ia sebagai sahabat dekat Balqis yang sudah bersama-sama dengan Balqis sejak masih Taman Kanak-kanak nyatanya seolah bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Balqis.
"Kenapa harus orangtua Albar Nda? Kenapa harus orangtua Albar."
Tangis Balqis pun kini benar-benar pecah, seolah Balqis kini ingin menumpahkan semuanya pada Dinda.
"Iya Qis, aku ngerti ini pasti berat buat kamu, sabarlah... sabarlah... kita tunggu Albar jelasin semuanya."
Kata Dinda berusaha menenangkan.
"Albar sudah menghubungi kamu lagi?"
Tanya Dinda halus.
Balqis menggeleng lemah masih dalam keadaan menangis.
"Mungkin dia masih sibuk, atau dia juga sama seperti kamu Aqis, mungkin Albar juga sebelumnya tidak tahu, dan dia pasti syok."
Kata Dinda.
"Dia tahu aku anak adopsi sejak hari pertama Aki dilarikan ke Rumah Sakit."
Kata Balqis.
"Bukan itu Qis, maksudku soal orangtuanya, Albar bisa jadi juga baru tahu soal itu."
Kata Dinda seraya melepas pelukannya pada Balqis pelahan.
Balqis tampak menyeka air matanya, menatap Dinda yang kini terlihat membantu merapikan rambut Balqis.
"Soal kamu diadopsi, sebetulnya jauh hari aku sendiri sudah tahu Qis, aku pernah tak sengaja dengar orangtua membicarakan soal Abah kamu saat pertama kali akan membawamu pulang, waktu itu Ayah ku yang membawa mobil dari Jakarta."
__ADS_1
Ujar Dinda.
Balqis tampak ternganga.
"Kenapa... kenapa kamu diam saja Nda?"
Tanya Balqis.
Dinda mencoba tersenyum.
"Jelas itu bukan hak aku menjelaskan Qis, apa hak aku turut campur?"
Balqis tampak menghela nafas.
"Selama ini kamu pasti mengasihaniku."
Lirih Balqis.
Dinda menggeleng.
"Aku melihatmu sama saja seperti aku melihat Eti dan Po, tapi kamu lebih istimewa buatku karena kita sudah lebih lama bersahabat Qis. Sejak kecil kita selalu sama-sama sudah macam saudara, saat semua anak nakal ke aku, kamu baik sama aku, saat semua anak suka ngeledekin aku karena aku pemalu, kamu tetap berteman denganku."
Ujar Dinda.
Balqis menatap Dinda dengan matanya yang masih tergenang air mata.
"Jangan berkecil hati Aqis, apapun aku tetap bersamamu sebagai sahabat dan saudara, yakinlah semua pasti akan ada hikmahnya. Soal Albar, kamu jangan terbawa emosi dulu, tunggulah sampai Albar menjelaskan semuanya."
Kata Dinda bijak.
"Bagaimana kalau dia tak akan pernah menjelaskan apapun?"
Lirih Balqis.
Dinda menepuk-nepuk bahu Balqis.
"Saat kamu mencintai seseorang maka kamu harus mempercayainya juga, saat kamu percaya sama dia, maka jangan setengah hati."
Kata Dinda.
Balqis menatap Dinda.
"Nanti atau besok, cobalah tanya pada kak Flo lebih dulu, supaya kamu bisa lebih tenang."
Ujar Dinda pula.
Balqis terdiam.
Hatinya masih terasa sakit mengetahui kenyataan orangtua Albar yang membuat orangtua Balqis meninggal.
Benarkah Balqis masih ingin mendengarkan penjelasan Albar? Haruskah?
__ADS_1
Balqis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia menangis lagi, sulit rasanya bagi Balqis untuk menahan kesedihannya kali ini.
**------------**
Albar pagi-pagi sekali telah keluar dari rumahnya, Pardi yang mengantar hingga depan membawakan koper pakaian Albar dan memasukkannya ke bagasi mobil jemputan.
Untunglah isyu datangnya Albar ke pemakaman umum tak membuat banyak wartawan menyerbu rumahnya seperti tempo hari ketika bergulir isyu Albar menghamili model pendatang baru.
Mungkin karena kali ini para awak media telah menemukan narasumber yang dengan senang hati bercerita ke sana ke mari dengan ditambah bumbu-bumbu yang semakin membuat berita menjadi lebih sedap.
Albar sendiri sudah tak mau ambil pusing lagi sekarang. Untuknya karirnya sebagai idol nyatanya sudah tak ada gunanya lagi ia perjuangkan.
Albar memilih akan memulai hidupnya dari nol lagi setelah nanti ia bisa lebih tenang.
Untuk saat ini, Albar masih terlalu kacau, ibarat bangunan kini Albar dalam keadaan benar-benar luluh lantak, rata dengan tanah.
Butuh banyak sekali waktu untuk Albar kembali bisa menjalani hidup normal lagi.
Albar masuk ke dalam mobil jemputan, dan duduk di belakang supir.
Ia bahkan tak ada kata perpisahan apapun pada Pardi.
Ah jangankan pada Pardi, bahkan pada Flo saja Albar tak mengatakan apa-apa.
Mobil bergerak pelahan meninggalkan pelataran rumah Albar, tampak Flo menatap nanar kepergian Albar dari balik kaca jendela kamar di mana ia menginap.
Flo menghela nafas, ada satu titik bening menetes dari sudut matanya.
Ah ya, nyatanya meski mereka selalu saja ribut sepertu halnya tikus dan kucing, namun dalam hati masing-masing mereka jelas saling menyayangi.
Dibandingkan dengan kakak-kakak kandungnya, Flo jauh lebih dekat dengan Albar.
Buat Flo, Albar jelas bukan hanya saudara, tapi juga sahabat dan teman ribut terbaik selama ini. Tak ada yang bisa mengerti bagaimana keras kepalanya Flo selama ini selain Albar, tak ada yang bisa mengimbangi gilanya Flo selain Albar, dan saat ada laki-laki yang mempermainkan Flo, tak ada saudara yang semarah Albar.
Flo terduduk lemas di sofa kamarnya yang ada di dekat jendela kaca kamar.
Ya, setelah nanti mengurus semua pembatalan kontrak Albar dan mengembalikan serta membayar semua denda ganti rugi kontrak Albar yang batal, entah apa yang akan Flo lakukan di Indonesia.
Albar sendiri di dalam mobil tampak menatap jalanan Jakarta yang belum terlalu macet karena masih pagi.
Mungkin Albar tak akan melihat jalanan itu lagi ke depannya untuk waktu yang sangat lama, jadi rasanya Albar ingin menikmatinya sekarang.
Ya menikmatinya, merekamnya dengan baik agar Albar bisa memastikan dirinya tak akan pernah melupakannya.
Sama sebagaimana yang ia lakukan beberapa waktu lalu ketika meninggalkan rumah Aki, meninggalkan kota Tasikmalaya, meninggalkan Balqis di sana.
Albar menghela nafas.
Ada yang terasa menghimpit dadanya hingga rasanya untuk bernafas kini begitu sesak.
Balqis...
__ADS_1
Selamat tinggal.
**-----------**