
Indra di belakang kemudi terus tertawa melihat dan mendengarkan Flo serta Albar yang terus berisik.
Tak Indra sangka, jika ternyata Albar Harrys ternyata adalah saudara Flo dan dulu Flo jugalah yang jadi managernya.
Ya tentu saja, ini jelas satu kebanggaan tersendiri untuk Indra yang ternyata bisa mengenal dua orang bersaudara ini.
"Mau tidur di mana Bar? Rumah Mamimu? Atau Rumahmu?"
Tanya Flo saat mereka sudah mulai menjauh dari bandara.
"Aku mau tidur di cafe mu saja."
Sahut Albar yang jelas itu tak ada dalam pilihan yang ditawarkan Flo.
"Makan, lalu mandi dan tidur."
Kata Albar lagi tanpa perduli Flo mendengus dan geleng-geleng kepala.
Bisa-bisanya memilih yang tidak ada dalam pilihan, mana ditambahkan pula. Coba saja kalau ini soal ujian pertanyaan pilihan ganda, sudah pasti jawaban Albar adalah jawaban yang tidak akan dapat nilai.
"Aku juga sekarang tidur di cafe, kalau kamu tidur di sana, aku tidur di mana?"
Kesal Flo jadinya.
"Lah kan tinggal lantai dua kamu tutup dari tamu, jadi kami bisa tidur di sofa, gampang kan."
Ujar Albar seenaknya, yang jelas saja itu artinya mengurangi omzet Flo karena lantai dua tak bisa dikunjungi tamu.
Dan apa tadi cecunguk ini bilang?
Tuan rumah malah tidur di sofa? Mana Flo cewek pula.
Hadeeeeh...
Flo geleng-geleng kepala.
Rasanya menghadapi Albar jika tidak sampai kolesterol naik, darah naik dan jug asam urat naik itu mustahil.
Maka...
"Aah tidak bisa, kamu tidur di apartemen saja lah."
Flo tidak mau mengalah kali ini.
Cukup sudah, cukup sudah Flo selama ini mengalah pada Albar dalam hal apapun.
Tapi, tentu saja Albar cepat menggeleng, saking cepatnya gelengannya, baling-baling kapal Titanic saja kalah cepat.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau apartemen kamu tinggal ada kasus orang lompat bunuh diri."
Kata Albar.
Haiiish... Flo mendesis.
Ya memang, di tempat Flo tinggal, ada kasus semacam itu.
Dan sejak itu juga, Flo memang memilih tinggal di cafe saja, apalagi di cafe juga Flo ada Luni.
"Kalau bingung tinggal, di rumah saya saja Bang, eh Bar."
Kata Indra akhirnya menimbrung.
Flo jelas saja langsung menolak ide itu.
"Ooh jangan, tidak boleh."
Kata Flo panik.
Lah bahaya nanti jika Albar tanya ini itu pada Indra, apalagi jika sampai Albar membuka rahasia Flo mengaku Indra adalah pacarnya sementara padahal belum ada pernyataan resmi dari Indra atas hubungan mereka.
"Lah aku baru mau jawab sudah diserobot saja."
Albar protes.
Ujar Flo.
"Tapi aku malah senang kok kalau Albar bisa tinggal di rumah, Ibu juga pasti akan sangat senang."
Indra tersenyum.
"Nah kan, aku ini di mana-mana dicintai Flo, bahkan coklat dan vanila saja kalah."
Kata Albar.
Flo yang mendengarnya jadi menoleh dan ingin menjitak Albar.
Albar tertawa.
Lama juga mereka tak berkumpul, dan Albar selalu kangen suasana bersama Flo yang bisa diajak gila bersama.
"Jadi, bagaimana keputusannya? Mau ke mana?"
Tanya Indra yang jadi keder karena ia yang baaa mobil.
"Ke cafe saja wis, emang dia ngeselin."
__ADS_1
Ujar Flo.
"Ke rumahku nggak apa kok, beneran."
Indra terlihat benar-benar serius menawarkan tumpangan.
Flo geleng-geleng kepala.
"Jangan mengasihani dia, wong dia itu niatnya memang cuma mau menyiksa orang lain, rumah Maminya saja buat tidur Seratus gajah juga bisa, dasar anak ini saja emang aneh."
Kesal Flo.
Albar cekikikan sambil menatap keluar jendela.
Malam di Jakarta.
Kerlip lampunya, suasananya yang selalu tak luput dari pedagang kaki lima.
Nasi goreng tenda, warung pecel lele tenda, warteg, warkop, semua hal yang di Perth tak ada dan bisa jadi tak akan pernah ada sampai dunia ini berakhir.
Ya... Ya... Ya...
Lagipula, dibayangkan saja sudah aneh, bule pada makan nasi lauk oreg, atau duduk santai sambil ngobrol nyeruput kopi instan di gelas plastik.
Tapi...
Inilah Indonesia, Negara kita yang dalam segala kesederhanaannya, yang khas dengan citarasa budaya yang tak selalu ada di negara lain.
Indra akhirnya melajukan Mobilnya sesuai keputusan Flo, menuju cafe Flora milik Flo.
"Kalian jadian kapan? Saatnya traktiran."
Kata Albar tiba-tiba.
Yang rasanya untuk Flo sudah macam komet menghantam bumi hingga membuat guncangan besar.
Tak jauh berbeda dengan Flo, Indra di belakang kemudi juga sepertinya jadi salah tingkah mendapat pertanyaan yang tak ia duga dan tak ia sangka-sangka.
Jadian?
Oh apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih manusiawi? Batin Flo yang rasanya ingin melompat ke kursi belakang dan langsung menggigit telinga Albar hingga putus.
"Jangan lama-lama lah pacarannya, cepetin aja nikahnya, apa sekalian aja bareng sama aku."
Kata Albar lagi.
Membuat Flo benar-benar ingin berubah jadi balon kepala Upin.
__ADS_1
**--------------**