
Pulang sekolah gerimis turun rintik-rintik, Balqis mengayuh sepedanya dengan tergesa.
"Jangan lupa begitu sampai rumah kasih tahu Eti dan Po."
Begitu pesan Dinda saat tadi mereka berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda begitu jam pulang tiba.
Balqis memantapkan diri untuk cepat sampai rumah dan akan mengatakannya pada Albar jika ia akan menjelaskan semuanya pada teman-temannya.
Ya, benar kata Dinda, jika satu kebohongan akan membuat kebohongan lainnya juga mengikuti.
"Assalamualaikum."
Balqis mengucap salam.
Rumah tampak sepi, namun pintu samping rumah sedikit terbuka menandakan di rumah ada orang, dan tentunya pasti itu Albar.
Namun, betapa kagetnya Balqis, begitu ia masuk justeru Aki yang ia lihat di dapur dan Aki tak sadarkan diri.
Aki tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Albaaaar... Albaaaaar."
Balqis memanggil Albar dengan panik.
Tak ada jawaban.
Ah yah, tentu saja, dia pasti masih pergi dengan Bang Fajar, jika dia di rumah Aki tak akan begini.
Balqis segera melepas tas sekolahnya dan lari keluar menuju tetangga sebelahnya.
"Tolooong... Tolong Akiii."
Balqis panik bukan kepalang.
Para tetangga yang mendengar suara Balqis meminta tolong keluar dari rumah.
Karena jam masih siang, tak banyak bapak-bapak yang ada di rumah, tapi dua tiga orang juga tentu sudah cukup untuk mengangkat tubuh Aki.
"Ada apa Qis?"
Tanya para tetangga yang jadi ikut panik.
"Aki... Tolongin Aki..."
Balqis mulai menangis.
Semua menyeruak masuk ke dalam rumah, mendapati Aki tak sadarkan diri dan tubuhnya sudah mulai dingin membuat semuanya langsung memutuskan membawa Aki ke Rumah Sakit terdekat.
Bersamaan dengan itu Albar dan Fajar pulang.
Melihat kerumunan warga di depan rumah Aki membuat Fajar dan Albar langsung berpikir yang bukan-bukan.
"Ada apa ya?"
Gumam Fajar menghentikan mobilnya.
Albar yang tak sabar, begitu mobil baru akan berhenti sudah langsung melompat keluar dari mobil.
__ADS_1
Albar menyeruak warga yang berkerumun, tepat saat tubuh Aki digotong keluar.
"Aki, kenapa Aki?"
Tanya Albar.
"Sepertinya serangan jantung."
Kata salah satu tetangga yang menggotong tubuh Aki.
Semula Aki yang akan dibawa ke Rumah Sakit dengan mobil tetangga tentu saja langsung tidak diijinkan Albar.
"Pakai mobil sendiri saja."
Ujar Albar.
Fajar yang sudah ikut turun langsung sigap membukakan pintu mobil agar Aki bisa segera dimasukkan ke dalam mobil.
"Ke mana Balqis?"
Albar mencari Balqis.
"Ra, kamu ikut ngga?"
Tanya Fajar yang tampak akan bersiap masuk mobil lagi karena harus mengantar Aki dan tetangga yang tadi menggotong Aki.
"Duluan saja Jur, aku urus Balqis dulu."
Kata Albar.
Fajar mengangguk.
"Balqis tadi ke kamar Aki mau ambil surat yang biasa untuk kontrol Aki ke dokter jantung katanya."
Ujar seorang Ibu yang merupakan tetangga Balqis.
Albar pun masuk ke ruang dalam dan langsung menuju kamar Aki.
Begitu masuk kamar, tampak Balqis tengah bersimpuh di lantai.
Di depannya berserakan beberapa lembar kertas dan juga map-map plastik seperti berisi berkas-berkas penting.
"Bal."
Panggil Albar pelan.
Balqis tak bergeming, tak juga menyahut.
Albar akhirnya menghampiri Balqis.
"Bal, ada apa?"
Tanya Albar melihat sikap Balqis yang aneh.
Balqis hanya terlihat bahunya berguncang, menandakan dia tengah menangis.
Albar akhirnya berjongkok di dekat Balqis, dan dilihatnya kertas yang ada di pangkuan Balqis kini mulai basah oleh air mata yang jatuh dari kedua mata Balqis.
__ADS_1
"Bal..."
Albar memanggil lembut.
Balqis akhirnya menoleh menatap Albar, ia tak kuasa bicara apa-apa, yang Balqis tahu ia hanya ingin menangis saja.
Albar akhirnya menarik Balqis ke dalam pelukannya.
"Kenapa? Kau bisa bicara padaku Bal, jangan menangis sendirian."
Ujar Albar.
Balqis semakin tersedu.
Tangisnya pecah tak mampu lagi ia tahan.
Albar sambil memeluk Balqis tampak melihat sekilas kertas-kertas yang berserakan di lantai di dekat mereka saat ini.
Surat adopsi. Surat kelahiran Balqis yang asli. Kartu Keluarga dan juga berkas lainnya yang sepertinya bukan milik Mang Kus.
Albar tertegun.
Balqis anak adopsi Mang Kus?
Jadi Balqis bukan anak biologis Mang Kus?
Albar ikut tergetar.
Ia menghela nafas seiring dengan tangis Balqis yang tak kunjung reda.
Sungguh Albar kini tak tahu harus bagaimana menyikapi keadaaan ini.
Semuanya jadi terasa sulit baginya.
"Aku bukan anak Abah, aku bukan anak Abah, kenapa aku baru tahu, kenapa tidak ada yang memberitahuku selama ini? Kenapa?"
Balqis menangis histeris.
Tak ia sangka, untuk pertama kalinya masuk ke dalam kamar Aki setelah sekian tahun dirawat Aki akhirnya malah membuat Balqis jadi mendapatkan kenyataan sepahit ini.
Albar mengeratkan pelukannya.
"Tenanglah Bar, tenanglah."
Albar menguatkan Balqis.
Albar menatap lembaran-lembaran kertas di depannya lagi.
Ada satu kertas yang terselip di antaranya, kertas berwarna coklat seperti surat kuasa atau semacamnya yang terdapat materai dengan tanda tangan lengkap.
Albar terdiam, keningnya mengerut saat ia seperti mengenali tanda tangan yang tertera di sana.
Tanda tangan itu...
Kenapa?
Batin Albar gusar.
__ADS_1
**--------**