Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
122. Kezal Kezal Kezal


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan yang cukup menyebalkan karena sempat bermacet ria di beberapa titik, akhirnya mobil yang di kemudikan Pardi memasuki pelataran parkir cafe milik Flo.


Begitu sampai cafe, Flo turun dan segera masuk ke dalam.


Hari ini cafe tidak begitu ramai karena memang bukan weekend dan juga belum masuk jam pulang kerja.


Lisa, tampak menyambut kedatangan boss nya yang baru datang.


"Di mana tamunya?"


Tanya Flo.


"Baru saja pergi Nona."


"What? Sial, apa dia cuma niat ngerjain aku?"


Flo naik darah.


"Beliau mau berangkat kerja, jadi tidak bisa menunggu lagi, tapi beliau menitip pesan dan juga menitipkan sesuatu."


Kata Lisa.


Flo mengerutkan kening.


"Lebih baik di lantai dua saja Nona, saya akan sampaikan pesannya."


Ujar Lisa.


Flo akhirnya mengikuti langkah Lisa menuju lantai dua cafenya, sampai di lantai dua Flo melepas jaketnya dan juga tas kecil selempangnya dan melemparnya begitu saja di atas sofa sambil ia kemudian duduk.


Lisa tampak menuju meja di dekat tangga, mengambil amplop lalu berjalan membawa amplop tersebut ke arah Flo.


Lisa meletakkan amplop itu di atas meja, tepat di hadapan Flo.


"Apa ini?"


Tanya Flo.


"Beliau cuma pesan untuk menyampaikannya pada Nona Flo."


Flo meraih amplop di hadapannya.


Sebetulnya tanpa membukanya pun Flo sudah feeling jika di dalam amplop itu adalah uang, tapi kenapa dia memberikan uang.


Ah jangan-jangan...


Flo membuka amplop di tangannya, dan benar saja, di sana ada uang dengan jumlah yang persis sama dengan yang Flo selipkan di bawah taplak meja ruang tamu rumah Indra secara diam-diam.


"Beliau tadi meminta nomor Nona Flo, karena saya pikir itu pasti penting jadi saya kasih."


Flo menatap uang di amplop di tangannya.


Kenapa dikembalikan? Apa dia tidak butuh uang?


Flo melempar amplop berisi uang itu dengan malas di atas meja.


"Kamu pakai saja itu Lis, aku mau mandi."


Kata Flo tak mau bahas lagi, ia menyambar jaket dan tas nya.


"Mak... maksudnya bagaimana Nona?"


Tanya Lisa bingung.


"Itu uangnya, kamu pakai, terserah mau buat apa, kamu bagi-bagi sama yang lain juga ngga apa."


Flo tentu saja pantang mengambil apa yang sudah ia berikan pada orang lain.


Apalagi untuk uang yang jumlahnya tak seberapa itu.


Apa maunya? Kenapa harus dikembalikan sih? Bikin kesal saja.


Flo jengkel setengah mati, ia masuk kamar yang ada di lantai dua itu dan kemudian melemparkan lagi tas dan jaketnya ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Flo duduk sebentar di sisi tempat tidurnya untuk melepas sepatunya, baru kemudian masuk kamar mandi untuk segera mandi.


Tanpa ia sadar, hp nya di dalam tas berdering, panggilan dari sebuah nomor baru.


**--------------**


"Qis, besok mulai ngampus naik apa?"


Tanya Eti setelah acara nonton film mereka selesai dan mereka naik ke lantai atas untuk bersiap mandi lalu sholat Asar.


"Ngapain tanya, calon Nyonya mah berangkat diantar Pardi lah."


Po yang terdengar menyahut.


"Oh iya, Nyonya Albar, lupa."


Eti nyengir.


"Huuu kamu mah bukan lupa, tapi bolot "


Kata Po membuat Eti bersiap menarik ujung jilbab Po.


Balqis hanya senyum saja melihat mereka, begitu juga dengan Dinda.


"Oh iya, nasib Bang Zul bagaimana Po, sudah ngasih tahu?"


Tanya Dinda yang ingat soal Bang Zul.


Balqis yang belum paham apa-apa tampak celingak-celinguk.


"Ada apa Bang Zul, Nda?"


Tanya Balqis.


Dinda menghela nafas sambil menatap Po, lalu beralih pada Balqis.


"Bang Zul kayaknya bakal dikeluarin."


Balqis tampak terkejut, tampak ia memandang Po.


Tanya Balqis.


Po mengangguk.


"Dari pagi aku udah chat tapi belum di balas Bang Zul, mungkin masih ribet."


Kata Po.


"Alasannya apa dikeluarin? Cuma karena kita pindah? Nggak jadi tinggal di sana?"


Tanya Balqis.


"Entahlah Qis, kata Bang Zul juga dia heran, masa cuma gara-gara begitu saja ia harus dikeluarkan."


Ujar Po.


Eti mendengus.


"Ah palingan itu ulah Beni."


Balqis, Dinda dan Po menoleh pada Eti.


"Kenapa Bang Beni?"


Tanya Balqis.


"Aqis sayaaang, kamu ini lugu dan polos banget apa ya, udah jelas Beni itu suka sama kamu, dia kesel lah kamu pindah."


"Hah?"


Balqis membulatkan matanya.


"Kami baru kenal dan ngobrol juga baru sekali hari itu."

__ADS_1


Kata Balqis heran.


Bagaimana bisa orang suka pada orang lain hanya dalam waktu satu kali pertemuan, itu tidak masuk akal. Pikir Balqis.


Eti menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tampak Eti mondar mandir di depan teman-temannya sambil bicara.


"Cinta itu tak bisa dijelaskan seperti kita menjelaskan hitungan dalam matematika yang rumusnya adalah pasti. Cinta itu seperti kehidupan, karena kehidupan ini pada dasarnya ada karena cinta."


Kata Eti. Lalu...


"Ada yang mengatakan, jika cinta datang ke dalam hati manusia lalu manusia yang jatuh cinta tahu alasannya, maka sebetulnya dia belum jatuh sepenuhnya pada cinta, karena harusnya cinta itu tak perlu alasan, cinta ya cinta saja."


Lanjut Eti lagi, ia sudah macam Guru cinta.


Ketiga temannya mendengarkan Eti bicara sambil mondar mandir, ke kanan ke kiri, ke kanan lagi, ke kiri lagi. Bolak-balik, bolak-balik, macam nyari uang hilang.


Lalu...


"Kadang jatuh cinta juga tak butuh waktu untuk bisa benar-benar jatuh, ada yang cuma karena lihat dia duduk di bangku yang sama di bus saat berangkat sekolah, itu terjadi pada Lupus."


Kata Eti.


"Lupus?"


Po celingak-celinguk. Siapa ya lupus? Batin Po keder.


"Atau karena bertemu tak sengaja di pesta topeng, macam Romeo dan Juliet, di mana itu sebetulnya adalah pengalaman pribadi Shakespeare sendiri sebagai penulisnya."


Ujar Eti.


Po kali ini mantuk-mantuk, secara Romeo Dan Juliet itu kan sudah pasti semua orang tahu.


"Tapi cinta tanpa alasan yang jelas itu tidak baik, nanti jadi cinta buta."


Kata Dinda.


"Cinta juga butuh alasan, karena memilih pasangan itu juga kita harus memilih yang terbaik dari pilihan yang ada."


Tambah Dinda lagi.


"Ya kali yang punya pilihan, yang satu saja enggak punya gimana?"


Po malah curhat.


Tapi Balqis setuju dengan Dinda.


"Iya, aku rasa cinta yang baik adalah yang juga menyertakan rasa sayang dan penghormatan, jadi bukan hanya melulu tentang rasa ingin memiliki satu sama lain, tapi juga di sana ada rasa menghormati pasangan sekaligus juga mengasihi serta menyayangi."


"Cinta yang datang belum ada sehari itu pasti hanya rasa sementara saja, yang akan lekas menguap, akan hilang tanpa jejak, mudah terkikis macam bangunan tanpa pondasi. Menggebu-gebu di awal saja, selanjutnya hilang tanpa bekas."


Kata Balqis.


"Tapi kita membicarakan Beni yang sudah jelas jatuh cinta padamu dalam waktu satu hari itu Qis, dan itu memang banyak orang mengalami."


Kata Eti.


"Beni jatuh cinta padamu, lalu dia seketika patah hati karena kamu pindah tanpa bicara padanya, mendapati kenyataan kamu juga sudah punya kekasih dan itu sekelas Albar."


Eti berhenti dari mondar-mandir nya, lalu berdiri menghadapi Balqis.


"Nyatanya banyak laki-laki yang lebih mengandalkan matanya untuk jatuh cinta, meski itu mungkin oke cuma sesaat, tapi mereka mana mau sadar, judulnya saat mereka ingin sesuatu dan seseorang jadi miliknya ya mereka mikirnya itu cinta. Dan mereka akan halalkan semua cara."


"Kalau benar ini karena Beni melakukan sesuatu pada Bang Zul gara-gara aku, besok aku akan menemuinya."


"Nggak usah Qis, dia kemarin bilang hari ini balik ke Australia."


Ujar Po.


Balqis yang mendengarnya jadi tertunduk, ia jadi merasa tak enak pada Bang Zul.


Jadi aku harus bagaimana sekarang? Batin Balqis.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2