Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
145. Hari Itu Semakin Dekat


__ADS_3

Hari sudah gelap saat Balqis pulang ke rumah. Dinda dan Po terlihat duduk di sofa lantai dua sibuk dengan laptop mereka masing-masing.


"Eti mana?"


Tanya Balqis seraya mendekati Po dan Dinda, lalu meletakkan dua kotak pizza berukuran sedang.


"Dari kak Flo."


Kata Balqis pula.


Po dan Dinda menyambut dengan senang.


"Eti di kamar, lagi mandi, dari tadi suruh mandi nonton film bae."


Po menjawab pertanyaan Balqis tadi.


"Gimana kak Flo, Qis? Sehat kan?"


Tanya Dinda.


Balqis mengangguk.


"Alhamdulillah sehat, semua juga baik-baik dan lancar-lancar saja."


Ujar Balqis.


Po membuka kotak pizza yang paling atas dan langsung mengambil satu potong pizza dari sana.


Balqis duduk di sofa seraya membuka jaket dan jilbabnya.


"Albar katanya mau pulang, tapi ngga ngabarin aku."


Kata Balqis seraya duduk di sofa sebelah Dinda.


"Mungkin pengin kasih kejutan."


Kata Dinda, yang disetujui Po dengan anggukan kepalanya.


Po terlihat begitu menikmati pizza dari Kak Flo.


"Besok ngampus jam berapa po?"


Tanya Balqis.


"Aku besok udah ngga ada kegiatan, Minggu depan mulai aktif, jadi besok kayaknya aku mau ngisi jadwal masak aja, besok harusnya giliran kamu kan Qis?"


Tanya Po.


Balqis mengangguk.


"Kalo Albar mau pulang, kamu geser jadwal masak di saat Albar di rumah saja, biar dia jadinya puas makan masakan calon bininya."


Kata Po lagi.


Balqis jadi nyengir.


Rasanya lucu sekali di usia mereka yang baru saja lulus dari SMA membicarakan soal pernikahan.


"Aku mau mandi juga ah, gerah."


Kata Balqis akhirnya.


"Pizzanya Qis, bawa satu kotak ini."

__ADS_1


Kata Po.


"Iya Qis, kali buat temen kamu di kamar."


Kata Dinda.


Balqis menggeleng.


"Enggak ah, aku udah kenyang banget kok, buat kalian aja, kan Eti suka banget juga sama Pizza di tempat Kak Flo."


Kata Balqis sambil berdiri dari duduknya dan bersiap beranjak dari sana.


"Apa buat Bang Fajar saja?"


Tanya Po.


"Bang Fajar apa Bang Tio..."


Goda Dinda, membuat Po jadi ingin tersedak.


"Apaan sih Dinda nih, orang aku serius ini nanya Balqis kalo pizzanya buat Bang Fajar saja apa bagaimana kan dia di sini termasuknya masih tamu."


Po beralasan.


Balqis tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Tadi buat Bang Zul dan yang lain juga udah di bawain dua kotak kok, malah ukurannya lebih besar karena biasanya cowok makannya lebih banyak."


Ujar Balqis.


Dinda dan Po akhirnya mantuk-mantuk mendengar penuturan Balqis.


Balqis setelah itu akhirnya benar-benar beranjak dari tempat Dinda dan Po ngumpul, bersamaan dengan Eti keluar dari kamar.


Tanya Eti.


Balqis mengangguk.


"Iya Et, ni gerah mau mandi, itu ada titipan dari Kak Flo, tahu kamu dan yang lain pada suka sama pizza."


Kata Balqis, yang tentu saja langsung disambut bahagia oleh Eti.


"Asiap, kita habiskan yuuuk..."


Ajak Eti.


Tapi Balqis menggeleng.


"Aku mau mandi trus istirahat, kalian habiskan saja pizzanya Et."


"Aaah ya, kamu kayaknya capek banget, ya udah rehat deh Qis."


Ujar Eti pada Balqis yang mengangguk sambil tersenyum.


Balqis lalu masuk kamarnya sendiri.


Di letakkannya tas tangan, jaket dan jilbabnya di atas tempat tidur, lantas barulah Balqis bersiap mandi.


Namun, belum lagi Balqis masuk kamar mandi, hp Balqis terdengar berdering.


Siapa ya? Batin Balqis.


Cepat ia meraih tas tangannya, mengambil hp dari sana lalu menelfon balik si penelpon karena begitu Balqis membuka tas, hp sudah diam lagi.

__ADS_1


**---------------**


"Jadi..."


Balqis terlihat syok mendengar Albar yang mengabarinya akan datang ke Indonesia sekitar akhir pekan nanti.


Albar ingin mendatangi pihak keluarga Balqis dari Ayah Nurdin sebagai Ayah kandung Balqis, dan juga mendatangi keluarga Almarhum Mang Kus yang sudah membesarkan Balqis sejak kecil.


Selain itu Albar juga nantinya datang bersama Maminya, karena ingin semuanya benar-benar bisa dilaksanakan dengan baik.


"Kenapa tiba-tiba sekali sih Bar? Apa tidak sebaiknya menunggu hingga..."


"Menunggu apa?"


Tanya Albar langsung menyela.


"Ya menunggu kuliah kita selesai atau bagaimana."


Balqis gugup setengah mati.


"Kan aku sudah bilang, sekalipun nanti kita udah nikah, kamu tetap boleh nerusin kuliah, tetap boleh perjuangin cita-cita kamu. Misal kamu tetap jadi Guru juga nggak apa Qis, nanti aku buatkan yayasan dan sekalian kita buat sekolahan."


Kata Albar.


Balqis geleng-geleng kepala.


"Kamu ini Bar, semua selalu saja dibawa gampang."


Kata Balqis.


Albar tertawa.


"Lho memang nyatanya begitu kan, kenapa kita musti bikin rumit kalau bisa bikin gampang."


Ujar Albar.


Balqis jadi ikut tertawa.


"Ah udahlah, terserah kamu saja."


"Nah gitu dong."


Albar senang karena menang.


"Ah iya Bar, Bang Fajar sudah di Jakarta, dia tidur di paviliun belakang bareng Bang Zul dan juga teman yang aku bilang dia habis ketipu."


Ujar Balqis.


"Oh ya, si Fajur, kasih aku nomernya Bal, nanti aku telfon."


Kata Albar.


Mereka kemudian sibuk mengobrol ke sana ke mari soal kemungkinan rencana pernikahan mereka nanti.


Balqis maunya sederhana saja dulu dan biar nanti saja setelah wisuda baru di rayakan.


Tapi Albar tidak mau, lagipula Mami juga tidak akan mau bikin acara biasa saja.


Balqis menghela nafas.


Albar ini, dia tidak tahu mungkin ya, jika Balqis membayangkan berada di tengah semua tamu yang semuanya tajir saja rasanya sudah ngap, apalagi jika nanti terjadi beneran.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2