
Balqis dan teman-temannya mengayuh sepeda dengan semangat menuju sekolah. Wajah Balqis terlihat begitu cerah, sebagaimana cuaca hari ini.
Mereka memasuki parkiran di mana semua sepeda siswa diletakkan, setelah itu bersama-sama menuju kelas.
"Eh aku mau ke perpustakaan sebentar."
Kata Dinda.
"Jiaaah, masih pagi hai pelahap buku."
Kata Eti.
Dinda tertawa.
"Aku mau mengembalikan buku Bung Hatta."
Kata Dinda.
"Aku temenin."
Kata Balqis.
"Iiish, kegiatan yang mem..."
Kata-kata Eti terhenti, manakala ia melihat sang ketua OSIS yang ganteng tingkat kabupaten melintas bersama dua orang temannya.
"Ciyeeeee Eti, langsung mingkem, ciyeeeeeee..."
Po menggoda Eti dengan suaranya yang nyaring seperti toa, membuat sang ketua OSIS itu menoleh sekilas ke arah mereka dan tersenyum membuat Eti rasanya meleleh seperti mentega di atas penggorengan martabak.
"Derita pengagum rahasia, cuma bisa begini ini macam Eti."
Kata Po membuat Eti menyambar jilbab Po untuk menariknya, tapi Po segera menghindar, berlari seraya tertawa terpingkal menuju kelas, Eti mengejarnya.
Keduanya memang begitu, di mana saja akan terlibat kerusuhan.
Bahkan ayam mau bertelur saja akan kalah berisik dengan Eti dan Po.
Balqis dan Dinda hanya ikut tertawa melihat kelakuan mereka, lalu berbalik menuju ruang perpustakaan saat tiba-tiba terlihat Bang Adit muncul dari arah parkiran.
Bang Adit yang sempat melihat ke arah Balqis dan Dinda tampak tersenyum seolah menggantikan sapanya.
"Yuk Qis."
Dinda menggandeng Balqis menuju perpustakaan.
"Saat kamu sudah nentuin pilihan, jangan bercabang."
Kata Dinda mengingatkan, seolah khawatir Balqis akan kembali menginginkan Bang Adit sedangkan Albar sudah begitu mencintai Balqis.
Balqis tersenyum.
"Enggak Nda, aku udah nggak ada rasa apa-apa kok ke Bang Adit, aku sadar aku selama ini cuka kagum saja sama Bang Adit, aku belum bisa bedain antara cinta dan kagum, aku baru tahu rasanya berbeda setelah ketemu Albar."
Ujar Balqis.
Dinda mengangguk.
"Yang penting tetap fokus sekolah, jangan mikirin cinta melulu, kamu belum lupa sama cita-cita ingin jadi Guru kan?"
Tanya Dinda.
Balqis mengangguk.
"Enggak lah Nda, itu kan cita-cita aku dari kecil."
__ADS_1
Ujar Balqis.
Dinda mengangguk dan tersenyum senang mendengarnya.
Keduanya kemudian masuk ke ruang perpustakaan yang masih sepi, hanya penjaga perpustakaan yang sedang merapikan ruangan.
"Pagi Pak."
Sapa Dinda.
"Eh Neng Dinda."
Pak Safiq tersenyum ramah.
"Mau mengembalikan buku Bung Hatta, Pak."
Kata Dinda.
Pak Syafiq mengangguk.
**----------**
Albar terbangun saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Albar menatap pintu dan terlihat Flo muncul membawakan nampan dengan piring berisi sandwich, potongan buah Alpukat dan segelas susu.
"Sejak siang kemarin kamu belum makan."
Kata Flo meletakkan nampan berisi sarapan untuk Albar.
Flo kemudian berjalan menuju jendela kaca besar kamar itu, membuka tirainya dan membuka jendelanya agar ada pergantian udara.
Albar yang merasa perutnya memang mulai perih meminta tolong Flo mengambilkan air putih hangat dan obat lambung lebih dulu.
Flo menelfon asisten Rumah untuk membawakan pesanan Albar.
Namun saat akan ke kamar mandi yang masih ada di kamarnya, Albar tanpa sengaja melihat perlengkapan sholat miliknya yang ia letakkan di atas rak.
Albar menghela nafas, ia rasanya jadi ingin menangis lagi.
Flo sendiri memilih membereskan tempat tidur Albar yang acak-acakan begitu dilihatnya Albar akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
Flo melihat hp Albar yang tergeletak di atas tempat tidur, ia menyalakan hp milik Albar dan terlihat panggilan tak terjawab dari Juragan Ayam.
Wallpaper hp Albar masih foto Balqis. Flo menghela nafas, mengingat apa yang ia dengar dari peristiwa naas di masa lalu Albar membuat Flo jadi ikut memikirkan hubungan kedua anak manusia itu.
Flo meletakkan hp Albar di atas tempat tidur Albar kembali, lalu Flo memilih menuju sofa di kamar Albar dan duduk di sana.
Tak lama Albar keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, ia sepertinya baru saja menyiram kepalanya dengan air shower.
Albar mengalungkan handuk berwarna putih di lehernya, berjalan ke arah tempat tidur untuk mengambil hp dan terlihat pada layar panggilan tak terjawab dari Fajar si juragan ayam.
Albar mematikan hp nya, lalu membawa hp nya untuk di masukkan ke dalam laci.
Flo menatap apa yang dilakukan Albar dengan kening mengerut.
Flo baru akan bertanya sesuatu pada Albar ketika ketukan di luar pintu terdengar.
"Masuk."
Kata Flo.
Asisten Rumah Albar pun masuk ke dalam kamar Albar membawakan air putih hangat dan obat lambung yang dipesan Flo untuk Albar.
"Taruh sini saja Bik."
__ADS_1
Kata Flo pada Bik Tuti, si asisten rumah.
Setelah meletakkan obat dan segelas air putih hangat untuk Albar, Bik Tuti pun bergegas keluar kamar lagi.
"Minumlah dan segera makan."
Kata Flo.
Albar berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, meraih gelas air hangat yang baru dibawakan Bik Tuti lalu meneguknya.
"Mami kamu terbang ke Perth pagi tadi selepas subuh, ia ingin menunggumu bangun, tapi sore ini ia sudah harus rapat dengan direksi."
Albar diam saja, tak ingin menyahut, ia meminum obatnya lalu duduk bersandar di sofa.
Flo mengamati Albar yang seperti mayat hidup. Seolah hidup malas, mati apalagi.
Hingga kemudian...
"Besok kita pulang ke Perth saja."
Tiba-tiba Albar bersuara.
Suara yang lirih tapi seperti geledek nyasar.
"Ap... Apa?"
Flo mengerutkan kening.
Belum lagi Albar menjawab dan menjelaskan alasannya, hp Flo tiba-tiba berdering, dan sekali satu hp berdering, maka yang lain juga sama, seolah nular.
Flo yang memang memegang sampai enam hp kini semuanya berdering.
"Buset, ada apa lagi sih."
Flo menggerutu.
Flo mengangkat satu hp nya lebih dulu.
"Hah, berita? Berita apa?"
Flo terlihat kaget, Albar menatap Flo.
**----------**
"Yah, masih bersama saya Miss Nyinyir, di acara KUKUBIN, KUPAS-KUPAS BINTANG.
Albar Harrys, penyanyi, aktor dan model yang namanya melejiiit seperti harga sembako di setiap akhir tahun, kembali membuat heboh dan membuat jiwa miss nyinyir bergejolak.
Setelah jumpa persnya untuk meluruskan masalah kehamilan hoax seorang model pendatang baru yang melibatkan namanya, kini Albar Harrys kembali dikabarkan mengunjungi sebuah pemakaman umum di Jakarta, dimana diisukan ada peristiwa besar di masa lalu yang membuat Albar Harrys berada di sana.
Miss Nyinyir akan mengupas kisah ini hingga tuntas, agar kita tak sampai jerawatan karena pusing memikirkan masalah para bintang.
Apakah peristiwa besar yang terjadi di masa lalu Albar Harrys itu?
Seseorang yang kami temui akan menguaknya untuk anda pemirsaaaah."
Si miss nyinyir terlihat begitu menggebu-gebu. Flo mematikan TV dan melemparnya dengan remote.
Kesal ia rasanya semua kacau luar biasa.
Albar memejamkan matanya.
"Aku tak akan jadi idol lagi, kita ke Perth saja."
Kata Albar mengulang kata-katanya.
__ADS_1
**------------**