
Pagi ini Dinda bangun mendahului yang lain. Bukan hanya bangun lebih pagi, tapi ia juga melakukan semua kegiatan Balqis setiap pagi mendahului sang calon Nyonya rumah.
Tentu saja, rencana kedatangan Bang Fajar hari ini adalah alasannya.
Dinda membuka semua tirai dan jendela, lalu ke dapur sibuk membuat sarapan.
Sekitar sepuluh menit berada di dapur, tiba-tiba Balqis muncul dan masuk ke dalam dapur untuk bergabung.
"Sini aku bantuin."
Kata Balqis menjejeri Dinda.
"Bang Fajar hari ini datang, lebih cepat dari rencana."
Tutur Dinda.
Balqis mengangguk.
"Iya semalam Bang Fajar chat aku, katanya hari ini mau laporan keuangan."
Ujar Balqis cekikikan.
"Udah kayak pengusaha saja pake dilaporin keuangan."
Balqis tergugu sambil mulai mengupas wortel.
"Ya kan kamu pengusaha ayam sekarang."
Seloroh Dinda membuat Balqis makin tertawa.
Ah sejatinya Balqis tak ada hak atas usaha Ayam Aki karena mereka tak ada hubungan darah, sementara Aki sendiri juga sama sekali tak meninggalkan wasiat untuk menghibahkannya.
Tapi atas kebijakan keluarga besar Aki, usaha ayam itu akhirnya diberikan pada Balqis karena dianggap sudah mengurus Aki selama ini.
Sementara rumah dan pekarangan yang dimiliki Aki barulah dibagi.
"Masak apa kita hari ini Nda?"
Tanya Balqis sambil mencuci wortel yang sudah dikupas.
Dinda meletakkan satu ikat kacang panjang di dekat wastafel di mana Balqis tengah mencuci wortel.
"Kacang panjang?"
Tanya Balqis.
Dinda mengangguk.
"Wortel nya dibagi dua ya Qis, untuk campuran tumis kacang panjang sama bikin bakwan."
Kata Dinda.
"Kayaknya kita ada udang kan Nda, bakwan udang aja Nda."
Kata Balqis.
"Ah iya, aku lupa."
Dinda menuju kulkas untuk mengambil udang dari wadah di freezer.
"Sama bikin mendoan, udah itu aja."
Ujar Balqis.
Dinda mengangguk setuju.
Balqis mulai sibuk mengiris wortel, sedangkan Dinda sibuk membersihkan udang.
__ADS_1
"Nanti sore Aqis mau ke tempat kak Flo, semalam dia nelfon sampai aku hampir ketiduran. Kak Flo minta Aqis ke cafe nya."
Ujar Balqis.
"Ada acara kah Qis?"
Tanya Dinda.
Balqis menggeleng.
"Sepertinya cuma mau ngobrol saja."
"Hmm... ya memang kamu harus menjalin hubungan baik sama Kak Flo, selain karena dia saudara Albar, dia juga baik banget sama kamu."
Kata Dinda.
Balqis mantuk-mantuk.
"Iya Alhamdulillah, Allah yang mengirimkan orang-orang baik hadir dalam hidupku Nda, termasuk kamu."
Mendengar Balqis berkata demikian membuat Dinda tertawa.
"Ikh malah ketawa, aku serius juga."
Balqis mendorong lengan Dinda pelan.
"Enggak Qis, kamu tuh malah jadi kayak lagi gombal, aku jadi geli aja dengernya."
"hahaha... Apaan kamu mah."
Balqis jadi tertawa juga.
Setelah itu mereka pun meneruskan acara masaknya sambil terus berbincang ke sana ke mari, dari soal kedatangan Bang Fajar, sampai soal kegiatan mahasiswa baru di kampus.
Bi Tuti sendiri bergabung di dapur setelah hampir jam setengah enam, saat tinggal mendoan dan ngulek sambel saja.
"Saya yang ngulek Non."
**-------------**
Flo yang semalaman tidak bisa tidur lagi akhirnya memutuskan untuk bersepeda pagi ini.
Tujuannya tak perlu jauh-jauh, cukup Taman kota kebon jeruk.
Flo mengayuh sepedanya dengan semangat, ia ingin berkeringat dan lelah, lalu ia akan cari bubur ayam yang biasanya banyak orang mangkal jualan di pinggir jalan.
Flo ingin lelah, kekenyangan lalu ngantuk dan bisa tidur lagi tanpa bermimpi.
Ah mungkin terkesan aneh untuk orang yang usianya sudah bukan ABG macam Flo bisa seuring-uringan ini saat jatuh cinta.
Tapi, Flo nyatanya memang sudah lama sekali tidak pernah membuka hatinya, apalagi datangnya perasaan ini juga sangat tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas.
Haiish...
Flo menggelengkan kepalanya.
Benarkah tanpa alasan yang jelas, sementara Flo tahu wajah Indra sangat tampan dan senyumnya membawa kedamaian alam semesta.
Bagaikan semilir angin dari bukit menuju sawah yang diiringi kicau burung, begitulah senyuman Indra untuk Flo.
Ah...
Flo mengetok kepalanya lagi, karena rasanya ia benar-benar mulai oleng.
Flo mengayuh sepedanya menuju taman kota, di sana sudah banyak orang yang juga tampaknya tengah mencari udara segar.
__ADS_1
Meskipun bukan weekend, tapi taman terlihat sudah ramai.
Beberapa Ibu dengan anaknya terlihat sedang berjalan-jalan di sekitar taman, beberapa lagi tampak berfoto, kegemaran manusia jaman sekarang yang tiba-tiba jadi model dadakan meskipun tak ada majalah yang mau majang fotonya.
Flo mengayuh sepedanya mengitari taman kota sambil menikmati banyak pohon yang ada di sana.
Sepertinya belakangan Jakarta memang mulai rajin bebenah, terutama mencoba menghijaukan kotanya lagi sebagaimana banyak kota metropolitan di Negara-negara maju yang menyeimbangkan pembangunan dan juga menjaga kelestarian alam.
Flo masih mengayuh sepedanya, manakala ia kemudian mendengar seperti suara kucing kecil mengeong.
Flo memelankan laju sepedanya, celingak-celinguk sebentar dan akhirnya ia melihat seekor anabul kecil.
Flo menghentikan laju sepedanya, menatap anak kucing yang kemudian diam melihat Flo dan tiba-tiba berjalan ke arah Flo.
Sejenak Flo bingung harus bagaimana, selama ini ia tidak pernah peduli saat ada kucing di jalan, meskipun itu melihat kucing kecil mengeong lapar.
Tapi, kali ini...
Haiish... Flo mendesis.
Flo sebetulnya akan kembali naik ke atas sepeda karena tak sadar kenapa ia berhenti dan turun, tapi mendengar anak kucing itu mengeong seolah memanggilnya membuat Flo tak bisa naik ke atas sepedanya.
Gadis itu kemudian menatap anabul yang kini berdiri di dekat Flo, seolah minta ikut karena di jalanan dia lapar dan dingin serta takut sendirian.
"Duh, Ibu Bapakmu mana pus? Kakek nenek atau om tante deh, biar aku anterin."
Flo jongkok sambil bicara pada anabul yang mengeong ke arahnya.
Flo mengurut kepalanya, ia tak tahu si kucing bicara apa.
Kucing kecil itu semakin mendekati Flo dan menempel di kaki Flo dengan manja.
Flo menghela nafas.
Apa aku terlihat seperti Ibu kucing?
Batin Flo.
Flo akhirnya karena tak tahan meraih kucing itu dan kemudian membawanya naik sepeda untuk kembali ke cafe.
Entah apa yang ada dalam otak Flo sebetulnya sekarang, tapi yang jelas Flo benar-benar tak bisa mengabaikan kucing kecil itu.
Kucing kecil itu dibawa Flo naik sepeda dengan dipeluk tangan kiri karena tangan kanan Flo memegang setang sepeda.
Sekitar lima belas menit, kucing itu diam saja seperti percaya Flo akan membawanya ke tempat aman.
"Kamu makannya apa sih pus? Kayaknya kamu masih kecil, nggak mungkin makan ikan kan? Apa sudah makan ikan?"
Tanya Flo pada si kitten
Kegiatan bodoh yang entah kenapa juga selalu dilakukan manusia pada kucing.
Bertanya, mengajak bicara dan bahkan mengomeli.
Sesampainya di cafe, beberapa staf yang ikut tinggal di asrama belakang cafe terlihat sudah pada bangun dan melakukan kesibukan mereka masing-masing.
Flo memanggil mereka untuk bertanya kucing kecil biasanya makan apa, tapi tak ada satupun dari mereka yang merupakan cat lover.
Ah sial...
Flo akhirnya browsing mencari informasi tentang makanan dan cara merawat anak kucing.
Flo membawa anak kucing itu ke dalam cafe, lalu menuju lantai dua dan ia letakkan di atas meja.
Kecil sekali.
__ADS_1
Makin diperhatikan mukanya makin lucu dan polos, dan anehnya membuat Flo jadi ingat muka Indra.
**---------------**