Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
46. Heboh Masal


__ADS_3

Albar terduduk lemas di kursi ruang tunggu Rumah Sakit ketika akhirnya dokter mengabarkan bahwa Aki terlambat mendapat pertolongan.


Kenapa tadi ia harus pergi ke toko perhiasan dan menunggu sebegitu lama?


Albar menyalahkan dirinya sendiri.


Balqis yang duduk tak jauh dari Albar ditemani Dinda dan Eti serta Po tampak menjerit histeris lalu tak sadarkan diri.


Albar dalam kondisi yang begitu terpukul memaksakan diri menghambur ke arah Balqis dengan sisa energinya.


Albar meraih tubuh Balqis dan mengangkatnya, dan segera meminta pertolongan pada pihak Rumah Sakit.


"Jur, tolong bantu jaga Balqis, aku harus urus biaya dan semua urusan Aki dulu."


Kata Albar pada Fajar saat Balqis sudah diambil alih pihak Rumah Sakit.


Albar kemudian menelfon Flo untuk menyampaikan kabar duka yang baru saja mereka dapatkan sambil berjalan menuju bagian administrasi untuk mengurus biaya.


"Kapan Bar?"


Flo begitu terkejut dengan kabar yang baru saja disampaikan Albar.


"Baru saja."


Ujar Albar lemas.


"Aku sebentar lagi akan bersiap ke sana."


"Flo."


Panggil Albar.


"Ya Bar, apa aku harus tetap balik Jakarta? Balqis sendirian di rumah."


Ujar Albar.


Flo terdiam.


Bingung.


"Dan..."


Albar sejenak menghentikan langkahnya, dua orang perawat berpapasan dengannya di koridor Rumah Sakit.


Mereka tampak menatap Albar yang kali ini tak memakai masker, namun Albar memang dalam kondisi tak peduli lagi orang mau mengenalinya atau tidak.


Apalagi...


Otaknya sudah terlalu rumit sejak tadi melihat berkas penting di kamar Aki.


"Kau pernah dengar soal keluarga Pak Nurdin?"


Tanya Albar.


"Nurdin mana? Nurdin M Top?"


Tanya Flo dodol.


Haiiish...


"Aku serius Flo."


Albar kesal.


"Ya aku ngga ngerti, yang jelas dong kalo nanya."


Flo juga tak kalah kesal jadinya.


"Nurdin, orang Kampung Rambutan, mungkin Mami kamu pernah nyebut namanya juga atau kamu pernah dengar soal kisah Pak Nurdin."


Flo terdiam. Mencoba mengingat soal nama yang disebut Albar.

__ADS_1


"Ah kayaknya aku ngga pernah denger kisah Pak Nurdin. Ada apa sih?"


Tanya Flo.


Albar diam.


Lalu...


"Ya sudah, nanti aku cari tahu sendiri."


Kata Albar.


**---------**


Flashback,


Tangis Balqis akhirnya mereda. Albar melepaskan pelukannya dan membantu Balqis berdiri.


Terdengar di luar rumah Dinda dan yang lain memanggil nama Balqis.


"Kamu pergilah ke Rumah Sakit lebih dulu, nanti aku nyusul."


Kata Albar.


Balqis menatap Albar.


Albar membantu Balqis berdiri, lalu menggandeng Balqis keluar dari kamar dan tampak Dinda dan yang lain kini sudah masuk ke ruang dalam.


"Kalian temani Balqis ke Rumah Sakit."


Kata Albar.


"Iya kebetulan Kak Zul pulang, ayuk Qis."


Kata Po.


Mereka kemudian menggantikan Albar menggandeng Balqis keluar.


Albar kembali ke dalam kamar Aki.


Ia memeriksa semua dokumen yang kini berserakan di lantai, terutama satu lembar kertas yang terdapat tandatangan yang ia kenali betul milik siapa.


"Papi..."


Lirih Albar menatap kertas di tangannya itu.


Surat kuasa dari Papi kepada Mang Kus untuk mengurus semua masalah dengan pihak Pak Nurdin, termasuk pemberian uang kepada keluarga, dan juga penyerahan uang jaminan untuk Balqis selama ia hidup bersama Mang Kus.


Albar mengerutkan kening.


Ada apa Papinya dengan Pak Nurdin?


Dan Mang Kus terlibat sebagai apa?


Albar begitu penasaran.


Ia memeriksa semua dokumen lain yang ada di sana.


Tak ada lagi dokumen dengan tanda tangan Papinya.


Semua hanya berkas Balqis saja.


Balqis anak Pak Nurdin, lalu diadopsi Mang Kus tapi atas kuasa Papi dan jaminan uang dari Papi.


Kenapa?


Albar pusing tujuh keliling.


Albar kemudian mengambil foto alamat di KTP Pak Nurdin.


Sudah cukup lama, tentu Albar tak yakin orang itu masih ada di alamat tersebut.

__ADS_1


Jangan-jangan lagi, dia waktu itu hanya mengontrak di sana.


Haiiish...


Setelah Albar mengambil foto semua dokumen, ia kemudian memasukkan semua dokumen itu ke map plastik dan menyimpannya di lemari Aki.


Hanya satu kertas yang ia bawa, yaitu kertas surat kuasa dengan tandatangan Papi.


Ia akan tanya pada Flo nanti, tapi akan lebih baik lagi, jika ia bisa bertanya pada Mami nya langsung saat mereka nanti bertemu.


Albar menuju kamarnya, memasukkan kertas dokumen itu ke tas nya.


Albar menghela nafas.


Pasti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan ini melibatkan Papi.


Batin Albar yakin.


Flashback berakhir.


**----------**


Albar mendekati bagian administrasi Rumah Sakit, menanyakan tagihan untuk Aki.


"Nanti kami siapkan ambulance, tapi harap sabar karena baru ada kecelakaan jadi ambulance semua keluar untuk menjemput para korban."


Kata bagian administrasi.


Albar mengangguk.


"Tunggu sebentar Tuan."


Albar diminta menunggu di kursi tunggu bagian kasir.


Albar pun duduk di sana.


Tak menyadari seorang ABG yang sedang mengantri bersama orangtuanya menatapnya terus, lalu tiba-tiba...


"Albar Harrys... Ada Albar Harrys."


ABG cewek itu heboh dan memancing kehebohan pula.


Albar yang menyadari ia sumber kehebohan langsung ngeloyor pergi, namun ABG cewek itu mencoba mengejarnya.


Semua orang di ruang tunggu jadi menatap ke arah Albar, membuat Albar mau tak mau pergi dari sana.


Semua orang ribut ada artis.


Bahkan ada yang sempat mengambil gambar.


Pihak Rumah Sakit turun tangan menenangkan para pengunjung.


"Ada apa?"


Tanya Dinda dan yang lain begitu Albar tampak tergesa kembali.


"Jur kamu yang nanti gantiin antri."


Kata Albar pada Fajar, ia memberikan kertas dari bagian administrasi.


"Albar Harrys?"


Fajar membaca kertas di tangannya.


Haiiish...


Albar menatap Fajar dan menarik kertas di tangan Fajar.


Ah sial! Dia lupa menggunakan nama asli.


Semua melongo menatap Albar.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2