Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
68. Seharusnya Bukan Aku


__ADS_3

Balqis dan teman-temannya akhirnya merebahkan diri berjejer-jejer seperti ikan asin.


Mereka tampak sama-sama menatap langit-langit.


Eti dan Po berada di sebelah paling pinggir kiri dan kanan, di samping Po ada Dinda, dan di samping Eti ada Balqis.


"Qis, sepertinya Albar benar-benar akan kembali ke dunia hiburan, kamu ngga takut?"


Tanya Po.


Balqis menghela nafas.


"Takut."


Lirih Balqis jujur.


"Bohong kalau aku ngga takut, bagaimanapun aku sadar aku siapa dibandingkan dia."


Ujar Balqis jujur.


Dinda ikut menghela nafas.


"Tapi aku lihat Albar tulus sama kamu Qis."


Kata Dinda kemudian.


"Iya, bener."


Sahut Eti.


"Albar idolaku memang terbaik."


Kata Eti.


"Sebagai fans, aku mendukungmu Qis, tenang saja."


Ujar Eti pula.


Balqis tersenyum menoleh ke arah Eti sebentar.


"Aku akan lebih semangat belajar dan meraih cita-citaku, supaya aku bisa menjadi lebih baik dari sekarang, paling tidak dengan begitu aku punya kebanggaan saat disandingkan dengan Albar."


Kata Balqis.


Semuanya mengaminkan.


"Oh iya Qis, kamu tadi sore ke rumah Teh Lilis gimana akhirnya?"


Tanya Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya, tadi aku ketemu Teh Lilis, kan kemarin baru bisa kasih tiga juta Nda, karena Teh Inggit cuma bisa narik tiga juta katanya mesin ATM kampusnya hanya bisa narik segitu. Jadi tadi sore aku kasih tambahannya, katanya malam ini dia akan kasihkan semuanya."


"Buat apa sih?"


Po yang ketinggalan berita bingung.


"Huuu biasanya paling cepet dapet berita, sekarang malah ketinggalan jaman."


Seloroh Eti.


"Hahaha sialan."


Po melempar bantal ke arah Eti.


"Teh Lilis dimarahi isterinya Pak Haji, gara-gara hutang, aku minta tolong ke Albar buat nolongin Po."


Ujar Balqis.


"Nolongin gimana?"


Tanya Po antusias, dia sampai harus duduk lagi supaya bisa melihat wajah Balqis dengan lebih jelas.


"Ya dikasih uang buat dia lunasin."


Ujar Balqis.


"Oh yah? Trus Albar mau nolong?"


Tanya Po.


Balqis mengangguk.


"Kan uang Albar ada diaku dua ratus juta lebih, uang dari sumbangan pengajian Aki, aku minta ijin pake buat Teh Lilis."


Po menggelengkan kepalanya.


"Waw banget ya Albar."

__ADS_1


Puji Po kagum.


"Makanya aku idolain dia, sekarang pada tahu kan kalau Albar Harrys memang pantas diidolakan."


Kata Eti bangga.


"Jiaaaaah malah dia yang bangga, harusnya kan Aqis yang bangga sebagai pasangan Albar."


Kata Po.


"Hahhahaha... Ya abisnya Aqis datar aja, aku wakilin bangganya."


Sahut Eti sambil tertawa.


Semua jadi tertawa, termasuk juga Balqis.


**-------------**


Esok harinya, Albar pagi-pagi sekali mengajak Flo keluar dari rumah Maminya dan pergi ke rumahnya sendiri karena di sana ada studio musik pribadi yang bisa ia gunakan untuk latihan.


Albar butuh latihan untuk menyiapkan diri, sekaligus juga agar Flo bisa mengadakan pertemuan dengan pihak dari model yang ada sangkutan masalah dengan Albar dan akan jumpa pers esok bersamanya.


Albar begitu sampai rumahnya sendiri langsung masuk studio musik pribadinya, bahkan untuk sarapan ia meminta asisten mengantarkannya ke dalam studio.


"Bar, aku keluar sebentar, nanti balik agak siang."


Kata Flo dari pintu studio musik Albar.


"Ada apa?"


Tanya Albar mengerutkan kening.


"Ada tawaran kerjaan buatmu, nanti aku ketemu orangnya dulu."


Kata Flo.


"Ah ya, baiklah."


Sahut Albar lalu kembali fokus pada latihannya.


Flo menutup pintu studio musik Albar lagi.


Ia tampak bergegas menuju pintu keluar rumah dan langsung masuk mobil di mana Pardi sudah menunggu.


**-----------**


Di sana Bang Fajar pasti sudah tiba dan sibuk membantu Balqis menggantikan Aki mengurus ayam-ayamnya.


Di musim penghujan pematang sawah tanahnya terasa liat. Balqis dan ketiga temannya membuka sandal-sandal mereka dan menyangkingnya di tangan kanan sementara tangan kiri menjaga keseimbangan.


Sawah membentang sejauh mata memandang. Angin berhembus dari arah hijau bukit yang menjulang, awan berarak layaknya kapas putih menghias langit biru yang cerah.


Balqis dan teman-temannya memotong jalan, tampak jembatan kecil di dekat aliran sungai kecil alam.


Jika dari arah jembatan, mereka hanya perlu berbelok di tikungan sebentar lalu akan sampai diujung jalan di mana ada area tegalan yang digunakan Aki untuk membuat kandang-kandang ayamnya.


"Eh itu tossa Bang Fajar."


Kata Po.


Dinda yang mendengar nama Bang Fajar disebut tampak salah tingkah sendiri.


Ya cinta memang aneh, sering membuat orang jadi tersipu sendiri tanpa sebab.


"Jadi sekarang semuanya yang ngelola Bang Fajar Qis?"


Tanya Eti.


Balqis mengangguk.


"Ya kan Bang Fajar yang selama ini bantu Aki, dia yang paham dan tahu bagaimana Aki mengelola peternakannya dan memasarkannya."


"Trus hasilnya bagaimana?"


Tanya Eti kepo.


"Ya bagi hasil saja, Aqis kan terima bersih, apa kata Bang Fajar saja."


Ujar Balqis.


"Waaaah udah pasti ini Bang Fajar bakal jadi juragan ayam beneran, bukan cuma dagang ayam potong di pasar."


Sahut Po.


"Masa depan cerah nih Dinda, calon nyonya juragan ayam."


Seloroh Eti pula.

__ADS_1


Hahaha...


Semua jadi tertawa.


Mereka terus berjalan menuju tegalan di mana kandang-kandang ayam Aki yang kini tambah banyak terlihat.


Bang Fajar ada di sana dengan dua orang lain yang membantu memunguti telur.


"Bang Fajaaaar."


Eti yang paling cablak langsung meneriakkan nama Bang Fajar dengan semangat.


Bang Fajar yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh ke arah suara itu berasal.


Dan...


Oh oh oh...


Tampak senyuman Dinda yang secerah matahari terbit di musim semi.


(Kayak tahu musim semi aja nih Fajar)


Bunga-bunga pun bermekaran.


Bunga, vote, like dan favorit, wkwkwk...


"Hai girls..."


Sapa Bang Fajar sok yess.


"Haiii meng."


Kata Eti.


"Eh kok Meng, itu mah koceng."


Kata Eti pula.


Hahaha...


Semua tertawa lagi.


Keempatnya menghampiri Bang Fajar.


"Qis jadi ngambil buat bikin sempolan?"


Tanya Bang Fajar.


"Nanti saja atuh, nunggu sampai selesai tujuh hari Aki."


Ujar Balqis.


"Oh iya ding, sori Qis."


Kata Bang Fajar.


"Huuu Bang Fajar duit bae yang dipikirin."


Seloroh Eti.


"Bukan gitu Et, ini namanya basa basi sedikit."


Kata Bang Fajar beralasan.


"Itu mah bukan basa basi, tapi basiiiiii."


Kata Eti dan Po nyaris bersamaan.


Hahaha...


Bang Fajar tertawa.


Mereka kemudian melihat-lihat kandang ayam Aki yang kini sedang diurus Bang Fajar.


Tampak sudah banyak sekali ayam potong dan petelurnya di sana.


"Balqis warisannya banyak ternyata."


Ujar Eti komen sambil melihat jumlah ayam-ayam Aki.


Balqis menghela nafas.


Warisan?


Ah padahal Balqis bukan cucu kandung Aki bukan? Batin Balqis.


Balqis harusnya tak berhak mendapatkan semuanya. Batin Balqis pula.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2