
Balqis keluar dari kamar lalu langsung menuju pintu depan yang terbuka, di luar terlihat orang ribut-ribut.
Teh Inggit dan dua temannya berdiri juga di sana melihat.
Tampak Wa Icih yang sibuk melerai tapi malah kena semprot sana-sini.
"Ada apa sih Teh?"
Tanya Balqis pada Teh Inggit yang jadi terkejut karena Balqis muncul tiba-tiba di belakangnya.
"Ohh kamu kebangun ya Qis?"
"Iya suaranya kenceng banget sampe kamar."
Kata Balqis.
"Itu isteri Pak Haji Hasan nagih hutang ke Bi Lilis, tadi udah jambak-jambak rambut segala itu untungnya ketahuan Emak."
Balqis menghela nafas.
Dilihatnya Ibu tiri Amel itu terus memaki Bi Lilis dan bersumpah sarapah tak jelas.
"Hutang doang bisanya, tapi ngga bisa bayar! Makanya jadi janda udah kerasa punya anak tiga ya kerja, jangan cuma hidup ngandalin hutang!"
Ibu tiri Amel terus marah-marah.
"Bu Haji, sudah Bu, istighfar."
Wa Icih berusaha menarik tangan Ibu tiri Amel, tapi ia seperti masih ingin terus mengomel.
Bi Lilis yang sebetulnya tak tahan terus dihina dan dicaci maki ingin membalas, tapi segera di tenangkan tetangga lain untuk lebih baik masuk ke rumahnya saja yang hanya selang dua rumah dari rumah Balqis.
"Malu-maluin, sudah haji uang lima juta saja sampai marah-marah begitu."
Kata Teh Inggit yang kemudian mengajak semua kembali masuk ke dalam rumah.
"Ayuk Qis masuk aja, udah biarin emang begitu kelakuan isteri Pak Haji Hasan, di mana-mana udah pada tahu."
Ujar Teh Inggit.
Balqis entah kenapa tiba-tiba jadi membayangkan orangtuanya apa mungkin juga orang yang seperti Bi Lilis?
Orang tidak punya dan punya hutang banyak hingga akhirnya menjual Balqis dengan dalih diadopsi?
Ah tapi tidak mungkin, jika Balqis dijual harusnya pada orang kaya, bukan pada Mang Kus, ya kan? Balqis menolak pikiran liar itu.
Isteri Pak Haji Hasan kini tampak di tuntun Wa Icih dan dua tetangga lain agar kembali ke mobilnya saja.
Balqis masuk ke dalam rumah.
Kasihan juga Bi Lilis, dia pasti sangat sedih, apalagi anak-anaknya masih kecil, sedangkan suaminya meninggal satu tahun lalu.
Sebagai perempuan yang tadinya hanya Ibu Rumah Tangga biasa pasti Bi Lilis sangat bingung untuk memulai kehidupannya tanpa suami.
Kasihan...
"Qis mau makan ngga? Tadi Emak masakin sayur asem sama Ayam goreng."
Kata Teh Inggit.
Balqis duduk di samping Teh Inggit.
"Iya nanti Aqis makan Teh."
Teh Inggit tersenyum sambil tangannya sibuk memotong kue dan dua temannya membungkus dengan plastik.
"Jadi merepotkan Teh Nurul dan Teh Anis juga ya Teh."
Kata Balqis tak enak.
Kedua teman Teh Inggit tersenyum pada Balqis.
"Ngga apa-apa Qis, nanti kami juga akan sering nemenin Aqis, tenang aja..."
Teh Nurul menepuk-nepuk lengan Balqis, membuat Balqis tersenyum.
__ADS_1
"Makasih Teh."
"Sama-sama Aqis."
Kata mereka.
Balqis kemudian ke arah Teh Inggit lagi.
"Teh."
Panggil Balqis.
"Ya Qis."
"Aqis jadi kepo, itu Bi Lilis kenapa sampai pinjam uang ke Bu Haji?"
Tanya Balqis.
Teh Inggit sejenak menghentikkan acara memotong kue nya.
"Kayaknya sih untuk biaya operasi kelenjar Cempaka, mungkin tadinya hutangnya cuma tiga juta atau malah dua juta, tapi itu kan isteri Pak Haji Hasan suka ternak uang."
Kata Teh Inggit.
"Ternak uang?"
Balqis bingung.
Dia baru dengar ada usaha ternak uang. Biasanya kan ternak Ayam, ternak Kambing, ternak Bebek, ini kok beda.
"Pinjamin uang tapi ada bunganya Qis, dan bunganya nambah terus berlipat-lipat sampai akhirnya bunga hutang bisa lebih besar daripada hutang pokoknya."
Teh Nurul menjelaskan.
"Ooh... berarti kalau tidak dibayar akan makin banyak hutangnya?"
Tanya Balqis.
Teh Inggit dan kedua teman Teh Inggit mengiyakan.
Kasihan.
**-----------**
"Albaaaar swit hart mami lope lope my dir dir..."
Mami Albar menyambut Albar dengan kehebohan yang luar biasa begitu akhirnya sang putra tercinta sampai di rumahnya yang megah bagaikan istana.
Mami Albar memeluk anaknya dengan penuh kerinduan, matanya sampai berkaca-kaca.
"Lama sekali tidak bertemu, kamu jadi kurus kering begini, apa kamu cacingan? Apa kamu selama ini makan makanan yang tidak bergizi sayang?"
Tanya Mami sambil meletakkan dua telapak tangannya di pipi Albar.
Albar menghela nafas.
"Ayolah Mam, memangnya kapan Albar gemuk? Dari bayi juga Albar kan sixpek."
Kata Albar asal saja.
Mami menabok lengan Albar.
"Kamu ini kalau bicara sukanya membuat Mami jadi terlihat bodoh."
Kesal Mami.
Albar geleng-geleng kepala.
"Mana Flo?"
Tanya Mami.
"Di luar lagi telfonan sama manajer model yang kemarin bikin masalah."
__ADS_1
Kata Albar sambil duduk malas di sofa besar ruang keluarga rumahnya.
Mami kemudian memanggil para pelayan rumah nya untuk menyiapkan semua keperluan Albar.
Air untuk mandi dengan aroma terapi dan juga makanan lezat untuk santap malam nanti.
Setelah itu Mami menyusul Albar duduk.
"Mami hari ini sengaja menyiapkan semua masakan favorit kamu."
Kata Mami.
Albar menoleh pada Maminya, menatapnya.
"Bukan Mami yang siapkan, tapi para pelayan."
Albar meluruskan.
"Ya kan Mami menyiapkan dengan tangan mereka."
Sahut Mami tak mau kalah.
Albar menggelengkan kepalanya.
Ya memang begitulah Maminya, ia sangat piawai berbisnis, tapi urusan rumah dia sama sekali tak seperti perempuan yang menjadi Ibu.
"Mami mau tinggal di Jakarta lagi?"
Tanya Albar.
Mami Albar cepat menggeleng.
"No, Mami di sini hanya sampai acara pembukaan hotel dan ulangtahun anak Tuan Zion, setelah itu Mami akan kembali ke Perth."
"Apa ngga bisa tinggal satu bulan doang Mam?"
Tanya Albar.
Mami menghela nafas.
"Mami bisa tinggal di Indonesia lagi nanti, setelah kamu bosan jadi artis lalu meneruskan kuliah dan gantiin posisi Mami."
Ujar Mami.
Albar mengurut kening.
Lagi-lagi masih sama bahas soal perusahaan. Batin Albar.
Bersamaan dengan itu Flo masuk ke dalam rumah.
Mami menyambut Flo dengan senyuman lebar, keduanya berpelukan, dan Flo mencium pipi kanan dan kiri Mami Albar
"Bar, Balqis nelfon, hp mu ngga aktif?"
Tanya Flo.
Albar mendengarnya sontak terkejut dan langsung berdiri dari duduknya, meraih hp nya di saku lalu tampak dua panggilan tak terjawab.
Ah ya, Albar lupa menyetel mode silent hp nya, Albar segera menjauhi Mami nya dan Flo untuk menelfon balik Balqis.
"Siapa Balqis?"
Tanya Mami Albar pada Flo, tatapannya menyelidik.
"Anak Mang Kus, Dhe."
Jawab Flo.
"Anak Mang Kus?"
Mami Albar bergumam.
Wajah Mami Albar terlihat sedikit berubah. Flo yang melihat jadi penasaran.
Ada apa ya sebenarnya? Kenapa ekspresi wajah Bu Dhe nya jadi aneh? Sama seperti Albar saat meminta Flo menolongnya menemukan seseorang tadi juga aneh.
__ADS_1
**-----------**