Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
51. Alien Yang Budiman


__ADS_3

Albar yang malam ini tidur dengan Fajar dan Navie di ruang utama yang digelar karpet tampak terbangun begitu mencium aroma masakan dari dapur.


Sepertinya Wa Icih sudah bangun dan kini ia sibuk memasak untuk suguhan orang yang mengaji pagi di makam Aki.


Albar meraih hp nya yang ia letakkan dekat bantal, tampak baru jam setengah empat pagi.


Albar melihat ada pesan dari Flo.


Dibukanya pesan Flo yang mengatakan jika kemungkinan Flo akan sampai sekitar jam enam nanti.


Albar menguap, lalu bangun dari posisinya.


Sejenak ia duduk sambil menunggu semua nyawanya terkumpul.


Setelah sekitar lima menit barulah Albar berdiri dari duduknya, lalu melangkah menuju kamarnya di loteng.


Cimot tampak bermain sendirian mengejar serangga, tampaknya ia habis diberi sisa-sisa ayam semalam oleh Wa Icih yang kini sedang sibuk masak di dapur.


Albar begitu sampai di dalam kamar menatap tas dan koper pakaiannya.


Haruskah aku benar-benar meninggalkan Balqis sendirian?


Albar akhirnya terduduk lemas. Albar kemudian membuka saku depan tas nya.


Dikeluarkannya kotak perhiasan berwarna hitam yang terbuat dari beludru.


Albar sejenak membukanya, kalung Balqis yang sengaja ia pesan untuk Balqis tampak di sana.


Albar menghela nafas.


Benar-benar semua begitu tak terduga. Albar pikir, ia bisa menitipkannya pada Aki saat akan pulang agar bisa menjadi kejutan Balqis.


Namun ternyata, Aki lah yang membuat Albar dan Balqis terkejut.


Bukan hanya karena Aki meninggal tiba-tiba, namun juga rahasia Balqis sebagai anak angkat Mang Kus dari surat-suratnya yang tersimpan rapi selama ini di lemari Aki akhirnya diketahui Balqis.


Albar kemudian kembali ingat surat dengan tanda tangan Papi nya, ia sungguh penasaran ada kaitan apa Papinya dengan proses adopsi Balqis.


Albar lalu mengingat nama Nurdin yang disebutkan sebagai orangtua kandung Balqis.


Masih hidup kah mereka? Jika masih maka di mana mereka? Masihkah di alamat yang sama?


Ah...


Sayangnya Balqis diajak ke Jakarta pun tak bersedia. Padahal Albar akan lebih tenang jika Balqis ikut dan hidup di Jakarta saja dengan Albar.


Mereka bisa mencari orangtua kandung Balqis bersama.


Menelusuri asal usul Balqis bersama.


Tapi...


Entah apa sebetulnya yang dipikirkan Balqis. Gadis itu malah merasa akan menemukan jawabannya jika tetap berada di sini.


Dan Albar bisa apa?


Posisinya di samping Balqis pun ia sebetulnya tak yakin sebagai apa untuk Balqis. Pacar bukan, teman bukan, sahabat bukan, kakak juga bukan. Lantas, apa hak Albar atas Balqis jika ingin memaksa.


Tak peduli seberapapun Albar kini peduli pada Balqis, bahkan bisa jadi memang Albar kini menyayangi dan mencintai Balqis, tapi toh Balqis tak pernah mengiyakan apapun yang Albar katakan.


Meski Albar melihat Balqis mulai membuka diri untuknya, tapi Albar tak sungguh-sungguh yakin jika ia lantas memiliki posisi cukup kuat untuk sampai ke tingkat menganggap mereka adalah pasangan dan membuat Albar memiliki sedikit hak untuk memaksa Balqis ikut dengannya saja ke Jakarta daripada tinggal sendirian di sini.


Hrrgghhh...


Albar mengacak rambutnya sendiri.


Rasanya kepalanya jadi gatal padahal tidak ada ketombenya.


Terlalu banyak yang berjubel di otaknya membuat otak Albar seolah menggelembung dan jadi gatal-gatal.


**---------**


Hingga akhirnya pukul enam pagi lebih seperempat, mobil Flo sampai di rumah Aki.


Flo datang dengan supir setianya si Pardi, supir yang selalu siap menerjang aral melintang, badai tornado, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, bahkan bila perlu menyebrangi lumpur lapindo demi membawa majikannya selamat sampai tujuan.


Pokoknya, jika supir lainnya paling hanya pegang SIM A atau B, maka Pardi sudah layak memegang SIM Z.


(Mungkin bisa daftar jadi supir Batman & Robbin)


Albar menyambut Flo dengan lemas seperti gorengan pagi belum di makan sampe sore.


Wa Icih juga tampak ikut menyambut kedatangan Flo dan Pardi si supir SIM Z.

__ADS_1


"Duh, tidak menyangka kalau nak Bara akan pulang ke Jakarta, Wak pikir akan tinggal di sini lebih lama menemani Balqis."


Kata Wa Icih begitu akhirnya Flo setelah menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Aki, lalu menjelaskan tujuannya datang adalah untuk menjemput Albar pulang ke Jakarta.


Albar yang mendengarnya tentu saja jadi galau gurita.


"Iya Wa, sebetulnya rencana pulang ini sudah sejak seminggu lalu, ngga nyangka Aki akan meninggal saat saya akan pulang."


Albar benar-benar sedih.


Wa Icih mengangguk mengerti.


"Ya mungkin nak Bara ada pekerjaan atau banyak urusan pastinya di Jakarta yang harus diurus. Wa bisa apa selain mendoakan semoga Nak Bara sehat dan bisa sering mengunjungi Balqis di sini nantinya."


Kata Wa Icih.


Albar tampak mengangguk.


"Saya boleh ketemu Balqis?"


Tanya Flo tiba-tiba.


Albar menatap Flo, tatapannya seolah khawatir saudara sepupunya yang seperti aliens itu akan melakukan hal-hal aneh pada Balqis.


"Tentu saja boleh Nona Flo."


Ujar Wa Icih.


"Mau apa Flo?"


Tanya Albar.


Flo membulatkan matanya pada Albar.


"Urusan perempuan, laki-laki ke kebon aja."


Kata Flo sambil berdiri.


"Ke laut kali..."


Sahut Albar.


"Kamu mah kebon aja."


Ia mengetuk pintu sebentar, terdengar suara Balqis sayup-sayup mempersilahkan masuk.


Flo pun membuka pintu kamar Balqis.


Balqis tampak berbaring di tempat tidur.


Terkejut yang muncul Flo bukan Wa Icih, Albar atau Dinda, Eti dan Po, maka Balqis segera beringsut dari posisinya.


Flo segera menghampiri Balqis dan menyuruhnya istirahat saja.


Balqis sepertinya sedikit demam, tubuhnya panas.


Flo duduk di tepi tempat tidur, menatap Balqis yang wajahnya kini begitu pucat dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis.


"Saya turut berduka cita Qis."


Kata Flo.


Balqis mengangguk dan memaksakan satu senyuman.


"Sabar ya Qis, semua pasti akan tetap baik-baik saja."


Ujar Flo.


Balqis mengangguk lagi.


"Qis, maaf..."


Flo kemudian meraih tangan Balqis.


Tampak Balqis menatap Flo.


"Balqis pasti sudah tahu kan tujuan Flo datang? Seminggu yang lalu Albar mungkin sudah kasih tahu soal rencana dia pulang ke Jakarta."


Kata Flo dengan nada suara serendah mungkin.


Balqis mengangguk.


"Ya Kak, sudah."

__ADS_1


Jawab Balqis, suaranya terdengar serak.


"Mungkin tak akan masalah jika saja Aki masih ada, tapi sekarang, jika Albar pulang ke Jakarta, otomatis Balqis akan tinggal sendirian di rumah, apa itu ngga masalah Qis?"


Tanya Flo.


Balqis terdiam sejenak.


Sejujurnya ia sebetulnya tak yakin akan bisa hidup sendirian di rumah tanpa ada siapa-siapa yang menemaninya.


Tapi...


"Jika Balqis tak keberatan, ikut saja dengan kami Qis, Balqis bisa tinggal dengan Kak Flo di apartemen, atau tinggal di rumah Albar juga rumahnya kebanyakan kamarnya kosong."


Kata Flo.


Balqis menatap Flo.


"Albar tidak mengatakan apapun pada Kak Flo, tapi sudah jelas dia ngga akan tega ninggalin kamu Qis, dan itu pasti akan bikin dia ngga konsen lagi ke karirnya."


Ujar Flo.


Balqis tertunduk.


Haruskah? Batin Balqis.


"Kak Flo akan tinggal sampai besok, Kak Flo tunda pulang hanya bisa sampai besok pagi, Kak Flo harap Balqis mengiyakan permintaan ini. Agar Balqis tidak kesepian di sini, dan Albar juga bisa lebih tenang."


Balqis masih terdiam saat Flo kemudian melepaskan genggaman tangannya.


"Maaf Kak Flo bicara lgsg blak-blakan Qis, karena waktunya memang tidak banyak."


Ujar Flo pula.


Balqis mengangguk mengerti.


"Ya Kak."


"Ya sudah, rehat Qis, Kak Flo tunggu jawabannya besok yah."


Kata Flo.


Balqis mengangguk pelan.


Flo kemudian keluar dari kamar Balqis, dan mendapati Albar yang duduk sila dengan Pardi yang sibuk mengunyah pisang goreng untuk teman ngopi.


"Kita pulang ke Jakarta besok, sekalian nunggu jawaban Balqis."


Kata Flo sambil duduk selonjor di samping Albar.


"Jawaban apa?"


Tanya Albar memandang Flo.


"Jawaban titik-titik di bawah ini."


Sahut Flo.


"Haiiish... Dasar dodol."


Kesal Albar.


Flo nyengir kuda.


"Mana Wa Icih?"


Tanya Flo.


"Pulang sebentar dipanggil anaknya."


"Aaah... Begitu."


Flo merebahkan diri dengan tangan menjadi bantal.


"Kematian benar-benar ngga bisa ditebak ya."


Gumam Flo.


"Iyalah, mati listrik aja ngga bisa ditebak."


Sahut Albar.


**----------**

__ADS_1


__ADS_2