Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
67. Mencari Jawaban


__ADS_3

Balqis dan teman-temannya asik menonton video-video Albar yang dikirimkan Flo, tapi ada yang aneh di video itu...


"Eh sebentar-sebentar, coba ulangin Qis."


Kata Eti.


Balqis mengulang video ke dua yang dikirim Flo.


Ada bagian yang saat Albar melompat dari panggung dengan wajah takut lalu video setelah itu terpotong.


"Kalian denger ngga?"


Tanya Eti.


"Denger apa? Albar nyanyi lagu jadul kan itu?"


Tanya Po.


"Bukan, bukan Albar nyanyi."


Eti menggeleng keras.


Balqis mengerutkan kening, ia juga sepertinya menangkap suara mencurigakan.


"Kita ulang lagi."


Kata Balqis.


Ia pun mengulang video yang sama.


Dan...


"Ah iya bener, ada suara perempuan ketawa kayak kunti."


Kata Po.


Eti mengangguk.


Semua tampak saling berpandangan.


"Apa ya itu... Kenapa ada di video? Serem banget sih."


Kata Dinda.


Balqis yang penasaran langsung kirim pesan ke pada Flo.


[Kak, kenapa Aqis dengar suara serem ya di video ini?]


Flo yang masih dalam perjalanan pulang dengan Albar dari tempat acara begitu membaca pesan Balqis langsung terpingkal.


[Calon suamimu saja hampir ngompol Qis]


Balas Flo.


Albar yang melihat gelagat aneh Flo langsung menyambar hp di tangan Flo.


Haiish...


"Sial, hobi banget menurunkan harkat dan martabatku di depan Balqis."


Omel Albar.


Flo makin terpingkal.


"Ini untung aku ngga kasih lihat video mukamu pucat pasi berdiri di pojokan saat ada suara perempuan ketawa kayak kuntilanak, hahaha..."


"Emang udah niat jahat kamu mah Flo."


Albar siap jitak kepala Flo.


Albar langsung meraih hp nya dan menghubungi Balqis.


Tentu saja sebagai pria yang nyaris sempurna seperti Albar, ketahuan takut hantu adalah hal yang paling tidak keren.


Meskipun sebetulnya Balqis sudah pernah lihat Albar ketakutan saat melihat Balqis tiba-tiba keluar dari kamar mandi di rumah Aki, tapi dilihat dua kali ketakutan rasanya itu aib yang terlalu memalukan.


"Yah."


Balqis mengangkat panggilan Albar.


Dan tentu saja ketiga teman Balqis tak mau ketinggalan, terutama Eti.


"Albaaaaar, kami merindukanmuuuu..."


Eti malah teriak norak.


Membuat semua menghajarnya dengan jitakan maut.


"Ngga gitu banget kali, apa banget Eti mah dodol."

__ADS_1


Kesal Dinda.


Albar cekikikan di Jakarta.


"Kamu udah lihat video aku tampil untuk pertama kali setelah vakum beberapa lama Bal? Gimana? Apa aku tetap sekeren pangeran berkuda putih?"


Tanya Albar pada Balqis.


"Ciyeeeeee... berkuda putih, ciyeeeee..."


Po dan Eti langsung ciye ciye. Balqis jadi tergugu dan wajahnya bersemu merah.


"Apaan sih kalian, aku keluar aja ah..."


Balqis bangkit mau pindah tapi ditarik oleh Eti dan Po dengan bar-bar.


"Jangan berduaan, nanti yang ketiga setan, udah di sini aja rame-rame."


Kata keduanya kompak.


Dinda menggelengkan kepalanya.


Sudah jelas tiga kurcaci itu akan membuat rusuh dunia percintaan putri salju dan sang pangeran.


Balqis akhirnya duduk lagi, sedangkan Albar mengganti panggilannya menjadi video.


Eti langsung menjulurkan jarinya dan menerima panggilan video Albar, tampak Albar yang masih di dalam mobil terlihat tertawa.


"Albaaaar..."


Eti dadah dadah...


"Itu tadi acara apa sih Bar?"


Tanya Balqis.


"Ciyeeee Aqis mulai kepo niiiih yeeee..."


Eti dan Po menggoda lagi.


"Iiih kan pengin tahu."


Kata Balqis.


Albar di Jakarta senyum-senyum manis gulali, yang kalau diteruskan bisa digerumut lebah madu.


Kata Albar.


"Ooooo... Pantas orangnya pada cetar-cetar sekali ya, mukanya udah kayak keramik semua."


Kata Eti.


"Lah ya malah serem Et."


Kata Po.


Albar tertawa.


"Tapi sereman suara tadi lah yang perempuan ketawa ngakak, itu kuntilanak ikut ngisi acara apa bagaimana Bar?"


Tanya Eti nimbrung.


"Bukan itu cuma kesalahan teknis aja dari bagian musik."


Kata Albar.


"Oooh kirain ada kuntilanaknya."


Ujar Balqis.


"Enggak dong sayang, kuntilanak mana sih yang berani orang seganteng aku, dia mau penampakan aja harus bolak balik salon dulu kebanyakan modal."


Jahahaha...


"Ganteng kalo dari monas Qis."


Flo menyela.


"Diem deh Flo, kamu tuh kayak petir aja main sambar."


Kata Albar.


Flo tertawa di sebelah Albar.


Mereka kemudian ngobrol ngalor ngidul sampai Albar dan Flo tiba di rumah Mami Albar lagi.


"Ah harusnya tadi ke rumahku saja Bang Pardi."


Kata Albar.

__ADS_1


Flo menatap Albar.


Albar sejenak kembali ke hp nya untuk mengakhiri panggilan videonya dengan Balqis dan teman-temannya.


"Nanti sambung lagi ya."


Kata Albar pada Balqis sambil menatap wajah Balqis penuh kerinduan.


Balqis yang meskipun ditatap dari jarak ratusan kilometer itupun tetap saja wajahnya memerah seperti tomat.


Albar kemudian mematikan panggilannya, setelah itu tampak menghela nafas.


"Flo, soal orang yang bernama Nurdin itu, pastikan aku bisa dapat kabar secepatnya oke."


Kata Albar.


"Iya, tenang aja."


Flo mengangguk.


"Kancil sudah mulai bergerak kok, nanti juga ngabarin."


Ujar Flo.


Albar tampak lega.


"Ah iya Bar."


Flo menahan lengan Albar saat Albar akan turun dari mobil.


Albar menatap Flo.


"Soal Mami kamu, aku kenapa merasa dia menyembunyikan sesuatu ya, semacam rahasia atau apa."


Kata Flo yang semula tak ingin mengatakan apapun pada Albar akhirnya tetap tidak kuat.


Albar mengerutkan kening.


"Rahasia apa?"


Tanya Albar.


"Entahlah, entah hanya firasatku saja atau memang benar dia punya rahasia."


Kata Flo.


Albar masih diam dan hanya menatap Flo bingung.


"Soal Balqis Bar."


Kata Flo kemudian.


"Balqis?"


Albar mengulang menyebut nama kekasihnya.


Flo mengangguk.


"Setiap kali membahas Balqis, aku lihat ekspresi Mami kamu jadi aneh, seperti ada sesuatu yang dia coba sembunyikan."


Ujar Flo.


Albar tercekat.


Ia ingat kembali pembicaraannya dengan Mami saat ditelfon ketika Albar masih ada di rumah Aki, saat Albar menanyakan soal Nurdin dan Mami bilang tidak tahu apa-apa.


Mami hanya cerita soal masa lalu Papinya dan temannya yang sempat kecelakaan hingga memakan korban.


Apa mungkin Nurdin dan Balqis sebetulnya ada kaitannya dengan peristiwa naas itu? Tapi Mami bilang dia tidak tahu apa-apa karena saat itu sedang tak ada di Indonesia.


Tapi jika Mami seolah tahu tentang Balqis, apa Mami tahu Balqis sebetulnya bukan anak Mang Kus? Balqis anak Nurdin dan siapa Nurdin sebetulnya? Kenapa juga Papi yang membiayai semua urusan Balqis?


Albar rasanya ingin membicarakannya dengan Flo, tapi ia masih mencoba menimbang lagi.


Mungkin nanti setelah Nurdin ketemu, atau setidaknya setelah informasi tentang Nurdin ia dapatkan.


Albar sungguh penasaran karena Papinya terlibat dalam proses adopsi dan membiayai semua urusan Balqis, jika bukan karena sesuatu pasti tidak mungkin Papi melakukannya.


Begitu yang terfikir dalam benak Albar, dan jelas Albar ingin benar-benar mengungkap kebenarannya.


Segera.


Yah...


Segera.


Harus.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2