
"Ada orang bijak bilang, jika 90% apa yang kita cemaskan itu sebetulnya tak akan terjadi, dan nyatanya memang begitu, ya kan Bar?"
Flo tersenyum seraya menyenggol lengan Albar yang berdiri di sebelahnya dengan lengannya.
Keduanya tengah berada di lantai atas rumah Beni yang digunakan untuk menjemur cucian. Menatap jalanan komplek sekitar seraya menikmati hembusan angin dan juga minuman dingin mereka.
Balqis dan ketiga temannya tengah sibuk bertempur di dapur menyiapkan makan siang menjelang sore.
Bahan makanan yang semula mereka beli untuk empat hari, akhirnya terpaksa dikeluarkan dan diolah semua.
Albar terlihat menghela nafas.
Ada rasa lega yang tak bisa ia lukiskan setelah sekian lamanya ia seolah sulit bernafas.
"Aku akan menikahi Balqis."
Kata Albar dengan tatapan yang masih ke arah jalanan.
Flo menatap Albar.
Albar kemudian mengalihkan tatapannya kepada Flo.
"Kamu bisa bantu aku kan Flo?"
Tanya Albar.
"Yeah, sure."
Sahut Flo tanpa ragu.
(Dia memang sepupu yang sangat baik, coba sepupu othor juga sebaik Flo. Wkwkwkwk...)
"Mami kamu?"
Lirih Flo kemudian.
Albar mengangguk.
"Itulah, tapi aku rasa Mami sebetulnya yang penting aku menyelesaikan kuliahku dan mau masuk ke perusahaan, selebihnya dia tidak akan terlalu ikut campur ini itu."
Ujar Albar.
Flo mengangguk.
"Dan dia juga hanya khawatir kamu depresi lagi jika mencintai anak korban Papi kamu."
Kata Flo.
Albar menatap langit.
"Bukan Papi, Flo... Tapi aku, karena akulah Papi kehilangan fokus menyetir."
Ujar Albar.
Flo menepuk-nepuk punggung Albar.
"Sudah, lupakan yang telah lalu, tak akan ada yang bisa berubah dari masa yang telah lewat. Kita itu hidup hanya bisa berjalan terus ke depan."
Ujar Flo.
Albar menghela nafas lagi.
"Mungkin kita harus cari keluarga Balqis dulu Flo, yang dari keluarga Ayahnya, untuk aku nanti bisa menikah bukankah butuh wali dari pihak Ayah Balqis?"
Tanya Albar.
Flo mengerutkan kening, ia tak tahu hal semacam itu, selama hidupnya ia tak pernah belajar agama sama sekali.
Aah sebetulnya Albar juga begitu, namun setelah bertemu dengan Balqis hidupnya berubah 180°.
"Ya apa katamulah, aku tidak tahu soal itu."
Kata Flo.
"Sepertinya besok aku harus ke kampung rambutan, mungkin aku akan ajak Balqis juga, aku pinjam Pardi, oke?"
Tanya Albar.
Flo tergelak.
"Pakai saja dia, aku juga jarang ke mana-mana. Ah bukankah lusa kamu akan pulang ke Perth?"
Tanya Flo.
Albar menatap nanar Flo yang sedetik berikutnya terpingkal.
"Kenapa kamu ketawa sih?"
__ADS_1
Tanya Albar bingung.
"Apa aku bilang, kamu akan malas pulang ke Perth lagi begitu bertemu Balqis."
Ujar Flo di sela gelak tawanya.
"Haiiish sialan, kau memang..."
Albar jadi antara kesal dan malu.
Yah, baru juga bertemu, apa harus berpisah lagi? Tapi jika tetap di sini dan mengingkari janjinya pada Mami, pasti akan timbul masalah lain.
"Ah ya Flo."
Flo meneguk air sirup dinginnya hingga habis setelah tawanya akhirnya reda.
"Apa?"
Tanya Flo.
"Rumah, kamu tahu ini rumah Beni kan? Dia temanku yang aku ceritakan kemarin pulang bareng ke Indonesia."
Flo mantuk-mantuk.
"Yang tadi kamu kaget lihat fotonya di dekat ruang tengah?"
Albar mengangguk.
"Ya barusan aku chat dia suruh pulang, dia bilang ngga mau ganggu."
Kata Albar.
Flo tersenyum.
"Dia tadi pergi sama Balqis kan?"
Albar mendengus, terlihat sekali Albar sebetulnya tak suka membahasnya.
"Rumah kamu yang dulu hampir diambil juga sama bajingan itu, belum dijual kan?"
Tanya Albar.
"Kenapa bahas dia?"
Flo jadi ilfil.
"Bukan bajingan itu yang kita bahas, kita bahas rumah kamu yang nyaris kamu kasihkan ke dia."
Kata Albar.
"Ah aku tak pernah mengurus rumah itu lagi, aku terlalu malas untuk kembali ke sana."
Ujar Flo.
Albar merangkul bahu Flo.
"Kau berhak bahagia dengan laki-laki yang menghormati dan mencintaimu dengan tulus Flo, melihat kebusukannya sebelum kalian menikah adalah berkah."
Ujar Albar menghibur Flo yang raut mukanya jadi masam.
"Laki-laki baik, mungkin mereka sudah punah."
Kata Flo.
"Hei, sialan, kamu pikir aku apa kalau bukan laki-laki?"
Albar protes keras.
Flo jadi tertawa.
"Kamu mungkin sejenis pepaya atau jambu."
Seloroh Flo membuat Albar tertawa.
"Dasar Flo gila."
Albar menjitak kepala Flo.
Flo juga balas menjitak kepala Albar.
Dan saat keduanya masih sibuk bercanda, Balqis muncul di pintu menuju ruang atas itu.
"Kak Flo... Albar... Makanannya udah siap."
Ujar Balqis.
Flo dan Albar menoleh ke arah Balqis.
__ADS_1
"Oh iya Qis, siap."
Sahut Flo yang langsung menepuk punggung Albar sebagai ganti kalimat ia turun lebih dulu.
"Duluan ya."
Kata Flo saat melewati Balqis.
Balqis mengangguk sambil tersenyum pada Flo.
"Bal, kemari sebentar."
Kata Albar pada Balqis.
Balqis menurut berjalan menghampiri Albar yang bertahan berdiri di pinggir teralis besi di lantai atas yang terbuka itu.
Matahari sudah mulai condong ke barat, sinarnya sudah tak seberapa terik, hanya sedikit silau saja.
Albar meraih tangan Balqis untuk berdiri di sisinya.
"Albar ngga makan? Aqis masak buat Albar."
Kata Balqis lembut.
Membuat hati Albar rasanya jadi mentega di atas penggorengan.
"Kamu kalau begini terus aku jadi pengin langsung akad nikah sekarang."
Kata Albar, membuat Balqis menabok lengan Albar.
"Mana boleh begitu."
"Kenapa? Aku ingin menuhin janji."
Kata Albar.
"Baru juga ketemu, masa yang diobrolin soal nikah, Aqis juga lusa baru akan masuk kampus."
Kata Balqis.
"Kamu pindah aja Qis."
Ujar Albar.
"Pindah apa?"
Balqis menatap heran Albar di depannya.
"Pindah rumah atuh sayang, kalo pindah ke lain hati aku lompat dari pesawat."
Albar mencubit pipi Balqis.
"Ikh, sakit."
Balqis menabok lengan Albar lagi.
Albar jadi tertawa.
"Habis katanya kalau cium dosa, jadi cubit aja."
Kata Albar.
"Cubit juga dosa, kan jadi bersentuhan, berduaan gini juga dosa."
Ujar Balqis.
Albar menghela nafas.
"Makanya harusnya kita nikah, biar semuanya enggak dosa."
Sahut Albar akhirnya.
Albar merentangkan kedua tangannya seperti adegan malaikat di film City Of Angel.
Lalu...
"Balqiiiiiiiiiis, aku cinta kamuuuuuuu, ayo kita nikaaaaaaaaaah!!"
Teriak Albar keras-keras di lantai atas itu, membuat tetangga rumah Beni yang juga rumahnya tingkat jadi melongok dan melihat ke arah mereka.
Albar Harrys sang idol absurd malah dadah-dadah, membuat Balqis malu bukan main, cepat ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya menghindari tatapan orang-orang di rumah tetangga.
"Weeeeh, Albar Harrrys..."
Mereka mengenali Albar dan jadi histeris.
**-----------**
__ADS_1