
"Harusnya bilang dulu dong Po, kok asal cabut saja, ini Bang Zul jadi kena tegur Pak Bos."
Kata Bang Zul menelfon Po.
Po yang sebetulnya sudah mengirimkan pesan pada Bang Zul menjelang maghrib, tampaknya baru sempat Bang Zul baca karena ia sibuk di bengkel dan baru pulang ke rumah Bos dan langsung kena semprot.
Ya, Bang Zul selain jadi supir Paman Beni, ia juga bekerja di bengkel dan cucian mobil milik pak bos nya itu.
Itu sebabnya hampir setiap hari Bang Zul pulang menjelang jam sembilan malam, terutama sekali jika sedang banyak yang harus ia kerjakan.
"Maaf Bang, soalnya ngga tega kalau Balqis pindah sendirian ke rumah Albar, lagipula bener kata Albar juga kan Bang, kalau di rumah Albar kan sudah jelas dia calon suami Balqis."
Ujar Flo memberi alasan.
Eti yang ikut mendengarkan dari atas tempat tidur mengacungkan jempol.
"Ya tapi abang jadi tidak enak, dikira cuma ngerjain."
Kata Bang Zul.
"Iya Bang, maafin kami semua Bang."
Ujar Po.
Terdengar Bang Zul menghela nafas.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur."
Kata Bang Zul.
"Tapi Bang Beni itu kan temen Albar kok, dia malah katanya pulang ke Indonesia tempo hari juga bareng Albar."
Kata Po.
"Oh ya?".
Bang Zul malah kaget, tampaknya Beni memang menyembunyikan fakta itu. Fakta bahwa sebetulnya ia paham betul siapa Albar, dan sejatinya ia juga banyak berhutang budi pada Albar karena berkat Albar lah Beni hidup di Perth tak sampai banyak mengalami kesulitan.
"Memangnya Bang Zul tidak tahu?"
Tanya Po heran.
"Tidak ada itu cerita Bang Beni pulang dengan Albar."
Haiiish... Po mendesis.
"Ya sudahlah, Bang Zul mau pulang ke kontrakan, besok Bang Zul mampir deh ke rumah Albar, kalian mau ambil sisa barang-barang kalian di rumah Bang Beni kan?"
Tanya Bang Zul.
"Iya Bang, masih banyak yang belum kebawa."
Kata Po.
"Ya sudah, nanti share lock saja, biar Bang Zul bisa mampir besok."
Ujar Bang Zul.
"Iya Bang, siap."
Kata Po.
Panggilan kedua kakak beradik itupun berakhir.
"Bang Zul marah ya?"
Tanya Eti.
Po menggeleng.
__ADS_1
"Enggak marah dia mah, cuma nanya aja, kaget katanya kena tegur tiba-tiba."
"Ooo."
Eti mantuk-mantuk.
"Ya udahlah, aku mau mandi."
Kata Po.
"Mandi?"
Eti heran.
Po cekikikan sambil menarik tangan Eti menuju kamar mandi.
"Dari dulu pengin ngerasain mandi di situ."
Kata Po sambil menunjuk bathub di kamar mandi dalam kamar mereka.
Eti tertawa.
"Kamu mau berendam ceritanya?"
Po nyengir.
"Iya dong, mandi yang nyelup air berbusa."
Kata Po.
"Jangan ketiduran, nanti kamu sadar-sadar udah tenggelam."
Po mendorong Eti.
Eti terpingkal.
"Orang tadi aku nyoba shower nya aja ternyata airnya panas banget, ternyata showernya panas dingin kaya dispenser di rumah."
Kata Eti.
"Berarti bisa buat bikin popmie sama kopi?"
Tanya Po.
Eti diam sejenak.
"Kayaknya sih bisa ya, panas banget soalnya."
Po mantuk-mantuk.
"Dispenser ukuran besar ya berarti Et?"
"Iya dispenser ukuran besar."
Eti setuju.
**-----------**
Balqis sendiri di kamarnya sedang duduk di atas bangku panjang di dekat jendela kaca.
Kamar yang ditempati Balqis itu tidak ada balkonnya, namun jendelanya yang dari kaca bisa digeser dan langsung bisa melihat taman.
Misal sedang hujan pun tetap bisa melihat taman karena jendelanya memang dari kaca bening.
Balqis menatap taman di luar sana yang pasti akan sangat indah jika di pagi dan sore hari.
Malam hari seperti ini tamannya tak begitu terlihat, karena lampu taman tak begitu terang.
__ADS_1
Balqis seperti mimpi saat ini, bisa bertemu Albar lagi, lalu akhirnya bisa bersama lagi.
Bahkan bukan hanya itu, kini Balqis juga menempati rumah Albar, ia gantian tinggal di rumah Albar yang sangat mewah dan indah.
Balqis bahkan tak pernah membayangkan ia bisa tinggal di rumah seperti milik Albar ini.
Banyak rumah orang kaya di kampungnya yang telah ia lihat, pun juga rumah beberapa temannya di sekolah yang kayanya anak pejabat dan sebagainya.
Tapi...
Jelas tetap saja mereka belum bisa ditandingkan dengan Albar.
Balqis sungguh merasa sangat beruntung sekaligus takut. Beruntung memiliki cinta dari laki-laki sekelas Albar, namun juga takut nanti dikira ia menyukai Albar karena semua yang Albar miliki.
Padahal, Balqis tak pernah membayangkan Albar sekaya ini.
Balqis menerawang jauh.
Dan kini,
Sakit, kecewa, marah, benci, semua menguap entah ke mana sekarang.
Ah sungguh lucu perasaan mereka. Padahal satu tahun lebih telah berlalu begitu saja.
Aneh, sungguh aneh.
Balqis menghela nafasnya, tampak Balqis mengulurkan jari telunjuknya ke arah kaca jendela kamarnya, lalu Balqis pelahan membuat tulisan dengan jarinya di sana.
[Albar]
Ah... Balqis tiba-tiba ingat jika besok Albar juga akan mengajaknya ke makam kedua orangtua Balqis, sekaligus juga mengunjungi rumah keluarga Orangtua Balqis yang masih ada di sana.
Balqis kini rasanya sungguh gugup, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan ia katakan begitu bertemu dengan mereka, apa yang akan ia perbuat saat akhirnya berada di pusara Ayah dan Ibu kandungnya.
Balqis kemudian terlihat menyandarkan kepalanya ke kaca jendela kamarnya.
"Aku akan melamar secara resmi pada keluarga orangtua kandungmu dan juga pada keluarga Aki sebagai keluargamu juga selama ini, dan Wak Icih yang akan mewakili Aki."
Kata-kata Albar seolah terngiang kembali, membuat Balqis dadanya terasa berdesir lembut.
Antara bahagia, haru dan entah apalagi semua rasa seolah bercampur dalam dirinya.
Dan sebagaimana Balqis, tampak Albar di kamarnya juga tengah sibuk memikirkan hubungan mereka.
Bahkan Albar terlihat jauh lebih gugup dibandingkan Balqis saat membayangkan esok hari.
Apa yang harus aku katakan pada keluarga Balqis?
Ah apakah tidak apa-apa aku mengutarakan maksudku pada keluarga orangtua kandung Balqis langsung?
Bagaimana jika mereka berpikir aneh-aneh? Apalagi Balqis juga baru bertemu mereka besok hari.
Ah...
Atau Albar melamar Balqis ke tempat wak Icih saja?
Tapi wali Balqis kan harusnya dari keluarga pihak Ayah kandungnya?
Ah Albar tampak mondar mandir seperti kucing mencium aroma ikan cue tapi matanya belekan jadi tidak bisa melihat ikan cue nya ada di mana.
Albar menghela nafas dalam acara mondar-mandirnya.
Ia kini juga mulai membayangkan lusa harus sudah kembali ke Perth, yang itu berarti ia akan berjauhan lagi dengan Balqis, akan berpisah lagi dengan Balqis.
Padahal baru saja mereka bertemu dan bersama kembali, apa iya harus berpisah lagi secepat itu?
Haiiish... Albar mengacak rambutnya sendiri.
**-----------**
__ADS_1