Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
134. Berjuta Rasa


__ADS_3

Di kampung yang damai, makmur dan sentosa, Bang Fajar tampak sibuk di kamarnya memasukkan baju yang akan ia bawa ke Jakarta.


Sore tadi ia sudah meminta tolong pada suami Wak Icih untuk menggantikannya mengurus ayam Aki untuk sementara waktu selama Bang Fajar ke Jakarta.


"Tenang saja Bang Fajar, tidak usah khawatir dan cemas, urusan bataliyon ayam akan kami urus dengan pertaruhan hidup dan mati."


Begitulah janji suami wak Icih saat Bang Fajar meminta tolong.


Dan walhasil, berbahagialah hati Bang Fajar menyingsing, bayangan duduk bersama Dinda menatap bongkahan Emas di atas monas rasanya kini terus ada di pelupuk mata.


Juga membayangkan berfoto dengan Dinda di depan kandang Gajah di Ragunan juga rasanya kini terbayang-terbayang pula.


Oh oh...


Sayangnya Albar sudah berangkat ke Perth, kalaulah sang pangeran itu masih ada di Jakarta, tentu lengkaplah sudah kebahagiaan Bang Fajar.


Bukan hanya bertemu dengan sang kekasih hati sanubari, namun juga bisa berjumpa dengan sahabat dan juga sang idol yang tajir melintir-lintir macam kumis kucing.


"Jar."


Panggil Emaknya Bang Fajar dari pintu sambil menyingkap gorden pintu kamar Bang Fajar.


"Ya Mak."


Bang Fajar yang dipanggil Emak tentu saja langsung berbalik dan menghampiri Emak.


"Besok berangkat pagi kan, Emak lagi buatkan bekal selama perjalanan, agak banyak nanti dibagi sekalian untuk penumpang travel lainnya."


"Wah Mak, kenapa repot-repot Mak, kan Fajar nanti bisa cari lontong dan gorengan di jalan kalau lapar."


Kata Bang Fajar.


Emak menggeleng.


"Janganlah buang uang, kan kamu belum laporan pada Balqis, nanti saja kalau sudah jelas laporannya diterima, kamu bisa pakai uang yang memang sudah jadi hak kamu."


Kata Emak.


Fajar pun akhirnya mengangguk mendengar nasehat Emak.


"Emak juga buatkan dendeng untuk Balqis, nanti sampaikan salam dari Emak."


"Iya atuh Mak, nanti pasti Fajar sampaikan."


Ujar Fajar.


Emak pun setelah itu meninggalkan kamar Fajar untuk kembali ke dapur meneruskan mengolah masakan yang akan ia bawakan untuk Fajar.


Sementara Fajar juga kembali meneruskan memasukkan baju-bajunya ke dalam tas pakaian.


Rencananya Bang Fajar akan tinggal di Jakarta selama empat hari, tapi jika nanti ternyata betah mungkin akan molor sampai satu Minggu.


Bang Fajar bersiul-siul dengan suka cita, rasanya sungguh tak sabar lagi untuk menunggu hari berganti pagi.

__ADS_1


Bang Fajar masih bersiul-siul sambil menutup tas pakainya nya, saat kemudian dia akan memindahkan tas nya ke atas meja, tiba-tiba terdengar suara seperti orang bersiul juga di dekat jendela kamar Bang Fajar yang terbuat dari kayu.


Bang Fajar seketika menghentikan siulannya, dan kini siulan di luar jendela kamarnya yang terdengar lagi.


Bang Fajar mengerutkan kening, kenapa ada yang bersiul dari sana, padahal kan sebelah kamar Bang Fajar itu hanya lorong kecil yang tak mungkin untuk lewat manusia.


Bang Fajar masih bingung manakala siulan itu berhenti dan berganti ketukan di jendela.


Bang Fajar pun langsung melompat keluar kamar dan lari tunggang langgang.


"Juriiiig maaaaaak."


**--------------**


Balqis baru saja akan tidur saat hp nya berdering dan tampak panggilan masuk dari Flo.


Balqis mengangkat telfon dari saudara Albar itu, meskipun sebetulnya Balqis sudah mengantuk sekali.


"Qis, maaf ya Kak Flo harus ganggu."


Kata Flo.


"Iya Kak, enggak apa, santai saja."


Kata Balqis.


"Kak Flo bingung mau cerita ke siapa, semua saudara Kak Flo laki-laki."


"Hehehe... Masih bagus punya saudara Kak, daripada Aqis malah sendirian."


"Tapi kamu punya sahabat yang sudah sepertu saudara, jadi itu juga bagus."


"Ah iya bener kak, Alhamdulillah."


Balqis mengucap syukur.


Ya memang, Balqis selalu mensyukuri keberadaan Dinda, Eti dan Po dalam hidupnya.


Rasanya hidup Balqis pasti akan sengat sepi tanpa mereka.


Balqis yang takut nanti ketiduran saat bicara dengan Flo akhirnya memutuskan untuk bangun dan duduk di atas tempat tidur.


Balqis mulai mendengarkan cerita Flo tentang Indra.


Ya Indra...


Flo menceritakan awal mereka bertemu tanpa sengaja, sempat mengira jika Indra sudah memiliki anak dan ternyata anaknya adalah anak kucing.


Lalu mereka bertemu tanpa sengaja di kafe Flo, lalu akhirnya Indra datang lagi mengembalikan uang yang diberikan Flo untuknya dan sekaligus juga memberikan undangan tasyakuran pada Flo dari Ibunya.


Flo yang sama sekali belum pernah datang ke acara serupa sampai rela berburu busana yang tepat untuk hadir di acara Indra, yang mana akhirnya di acara itu juga Flo jadi tahu jika ternyata Indra adalah seorang Duda.


Ah pokoknya Flo menceritakan semuanya tentang Indra dari A sampai O pada Balqis, tak peduli yang diajak cerita sudah terkantuk-kantuk, Flo masih saja berbusa-busa membahas Indra.

__ADS_1


Ya begitulah memang penyakit perempuan jika sedang jatuh cinta, membahas sang pangeran pujaan hati belahan jiwa yang terbelah-belah rasanya mau sampai seribu dua ratus tiga puluh delapan bab juga kuat.


"Dan malam ini masa aku mimpi nikah sama dia Qis, menurut Aqis sebetulnya kak Flo ini kenapa?"


Flo akhirnya menutup bergerbong-gerbong ceritanya tentang Indra dengan pertanyaan yang sebetulnya ia sendiri sudah tahu jawabannya.


Dan...


Sekali lagi ini juga salah satu penyakit perempuan yang jatuh cinta.


Suka memancing orang lain menjawab pertanyaan yang sebetulnya ia sendiri sudah tahu jawabannya apa, yang anehnya saat orang lain memberikan jawaban yang seperti apa yang ia pikirkan, ia akan bahagia.


Ah jika cinta itu buta, maka cinta juga kadang bodoh.


"Kak Flo jatuh cinta pada Bang Indra?"


Dan Balqis memberikan reaksi yang sesuai dengan yang diinginkan Flo.


Tentu saja Flo senang bukan kepalang.


"Trus menurut kamu, Kak Flo harus bagaimana?"


Tanya Flo.


Huaaaaaahm...


Balqis menguap, matanya kini sudah mulai lima Watt.


"Kak Flo kan sudah berteman dengan Bang Indra, ya jalani saja macam air yang mengalir, nanti kalau ada jodoh pasti akan ada jalannya."


Ujar Balqis dewasa.


Huaaaahm...


Balqis menguap lagi, matanya semakin berat.


"Tapi Kak Flo merasa aneh karena perasaan itu muncul tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, Kak Flo mencoba memikirkannya berulangkali tapi tak juga menemukannya."


Mendengarnya Balqis tampak tersenyum.


"Aqis juga awalnya begitu pada Albar, Kak. Rasanya tiba-tiba saja jadi suka sama dia, padahal alasannya apa juga Aqis tidak tahu."


Kata Balqis.


Flo yang mendengarnya jadi tertawa.


Membayangkan Albar mendengar kata-kata Balqis barusan membuat Flo benar-benar geli.


"Kalau Bang Indra orang baik tidak apa-apa kak Flo, yang paling penting kan laki-laki mah baik, dan penyayang."


Kata Balqis membuat Flo terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan.


**---------------**

__ADS_1


__ADS_2