
Albar menunggu jawaban Maminya.
"Albar janji akan menuruti apapun yang Mami mau soal perusahaan, Albar akan urus perusahaan seperti yang Mami inginkan, asal Albar diijinkan menikahi Balqis Mam."
Mami menghela nafas, bimbang.
Ditatapnya wajah putra satu-satunya itu.
Putra yang amat ia sayangi, putra yang kebahagiannya tentu adalah yang paling penting.
Mami membenahi posisi duduknya sebentar, sebelum akhirnya meminta Albar berpindah duduk di sampingnya.
"Mami ingin bertanya beberapa hal, kemarilah."
Kata Mami.
Albar menurut mendekat, ia berpindah duduk di samping Maminya.
Mami meraih tangan Albar, lalu menggenggamnya dengan lembut dan penuh kasih.
"Kamu sungguh mencintai gadis itu?"
Tanya Mami dengan suaranya yang halus.
Albar mengangguk.
"Kamu sungguh-sungguh mencintainya? Bukan hanya karena perasaan iba, bersalah dan ingin menebusnya?"
Tanya Mami lagi.
Albar kembali mengangguk.
"Kamu sudah benar-benar yakin dengan pilihanmu? Dan benar-benar tak akan menarik semua ucapan mu hari ini kan?"
Tanya Mami pula.
Albar mengangguk tanpa ragu sama sekali.
"Albar sungguh-sungguh ingin bersama Balqis Mam, seumur hidup Albar, sungguh Albar hanya ingin bersama Balqis."
Kata Albar.
"Balqis sudah memaafkan apa yang terjadi di masa lalu kami Mam, kami bahkan sudah ke makam kedua orangtua Balqis, Mam."
Ujar Albar menambahkan.
Mami mengangguk lalu tersenyum ke arah sang putra.
Albar menatap Maminya.
"Mam."
"Ya."
Mami tersenyum lagi.
"Mami terus tersenyum apakah itu artinya Mami merestui hubungan Albar dengan Balqis? Apa Mami mengijinkan Albar menikahi Balqis, Mam?"
Tanya Albar memastikan.
Mami mengusap kepala Albar.
"Kau sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan atas hidupmu sendiri. Jika menurutmu Balqis adalah gadis yang baik untuk dijadikan isteri ya sudah, Mami sebagai orangtua tugasnya hanya tinggal merestui saja."
Ujar Mami.
"Tapi Mami semula seperti terkesan tak akan memberi restu pada hubunganku dengan Balqis."
__ADS_1
Mami menghela nafas.
"Tentu saja Mami saat itu mengkhawatirkan kondisimu, takut kamu depresi berat lagi, takut jika Balqis nantinya begitu tahu masa lalu kalian akan jahat padamu, membalas dendam padamu, atau akan menyiksamu dengan rasa bersalah yang tak ada ujungnya."
Kata Mami.
Albar menatap Maminya.
"Sekarang, setelah semuanya ternyata baik-baik saja, ternyata Balqis bukan hanya memaafkan namun juga membuatmu begitu percaya akan bahagia bersamanya, tentu saja Mami sangat lega."
Albar mengangguk.
"Ya Mam, Albar sangat yakin jika Albar akan bahagia bersama Balqis nantinya. Kami akan saling membahagiakan Mam, Albar yakin dan percaya."
Lirih Albar.
"Ya baiklah, yang penting selesaikan kuliahmu dulu dengan baik, lalu bergabunglah dengan perusahaan, setelah itu Mami tak akan menghalangi kamu dan Balqis jika ingin menikah setelah kamu wisuda."
Kata Mami.
Albar yang bahagia luar biasa mendengar jawaban Mami langsung memeluk Maminya.
"Terimakasih Mami, terimakasih untuk semuanya Mam."
Mami menepuk-nepuk punggung Albar.
"Tidak ada yang lebih penting buat Mami selain kamu bahagia Al."
Albar jadi terharu, ia sampai menitikkan air mata sambil masih memeluk Maminya.
**------------**
Flo baru sampai di kafe nya tepat saat Adzan maghrib berkumandang.
Flo berjalan masih seperti orang linglung membawa nasi berkat sambil masuk ke dalam kafe miliknya.
Belum lagi mereka merasa aneh melihat Flo yang mengenakan tunik dan hijab serta make up, mereka pun makin terheran-heran karena Flo memegangi nasi berkat.
"Bos kenapa sih Lis?"
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Nona Flo sehat kan Lis?"
Beragam pertanyaan dilempar pada Lisa yang merupakan staf yang paling dekat dengan Flo.
Mereka kasak kusuk tak jelas begitu Flo, boss mereka itu telah naik ke lantai dua kafe nya.
"Sembarangan, kalian ini karyawan durjana, bisa-bisanya sampai tanya begitu soal Boss kalian."
Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan gitu Lis, masalahnya penampilannya berubah terlalu drastis, kita yang lihat malah jadi khawatir."
"Tapi cantik banget kan Nona Flo hari ini?"
Gumam Lisa sambil memandang ke arah anak tangga yang menuju lantai dua.
"Iya, cantik sih cantik."
Kata mereka akhirnya kompak.
Flo sendiri, yang sedang jadi bahan ghibah karyawannya tidak sadar, ia tampak berjalan masuk ke dalam kamar tempat ngademnya jika ada di kafe.
Flo duduk di kursi depan meja kecil yang ada di sana, diletakkannya nasi berkat dari rumah Indra dan juga tas tangannya di samping nasi berkat.
Gadis itu sejenak menghela nafas.
__ADS_1
"Indra ini dulu menikah dengan teman kecilnya yang sudah yatim piatu, tak lama setelah menikah, isteri Indra meninggal, mungkin usia pernikahan mereka baru tiga bulanan saja."
Terngiang kembali cerita Ibunya Indra tentang masa lalu Indra.
"Sejak Itu Indra belum pernah dekat dengan perempuan lagi, waktunya lebih banyak dihabiskan dengan kucing-kucing peliharaannya, bahkan kucing liar di sekitar sini."
"Indra itu dari kecil memang paling berbeda dari saudaranya, ia sangat perhatian pada semua yang ada di sekitarnya, bukan hanya pada saya sebagai Ibunya atau juga pada kakak-kakak perempuannya, tapi ia juga perhatian sekali pada nenek dan kakeknya, pada Paman dan Bibinya, apalagi pada keponakan-keponakannya."
"Ia juga tidak manja, ia tidak pernah sama sekali merepotkan Ibu, bahkan saat sekolah ganti sepatu saja tidak mau kalau sepatunya belum benar-benar rusak. Pokoknya Ibu sangat bersyukur memiliki putra seperti Indra, Non."
Flo menghela nafas lagi, karena rasanya semua kisah Indra seperti terus-terusan ada siaran ulang di kepalanya.
Haiiish... Apa sebetulnya yang membuatku tiba-tiba jadi segila ini? Batin Flo.
Flo melepas jilbabnya, dan baru akan ke kamar mandi untuk segera berganti pakaian dan membersihkan makeup wajahnya, ketika Flo mendengar hp nya berdering.
Flo segera menarik tas tangannya, membukanya dan meraih hp nya dari sana.
Albar...
Flo mengangkat telfon Albar kemudian sambil melepas sepatu dan kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
"Flo, aku rasanya ingin lompat ke Jupiter."
Kata Albar begitu bersemangat dan menggebu-gebu.
Flo mendengus.
"Lompat ke Jupiter trus setelah itu kamu bingung balik ke bumi nya gimana."
Sahut Flo yang kini berdiri di depan cermin kamar mandi dan mulai membersihkan makeup dari wajahnya.
"Serius Flo, aku bener-bener bahagia banget."
"Bahagia kenapa sih?"
Tanya Flo sambil tetap membersihkan makeup.
"Mami... Mami ngijinin aku dan Balqis menikah Flo, Mami kasih restu aku sama Balqis."
Albar bersorak luar biasa.
Flo terlihat terkejut.
"Seriusan Bar? Mami kamu merestui dan tidak jadi menjodohkan kamu dengan gadis lain? Kamu bukan lagi halu atau lagi ngelindur kan Bar?"
Tanya Flo masih merasa belum begitu yakin.
"Sialan, kamu pikir aku mabok apa. Serius lah aku ini, aku baru saja ngobrol dengan Mami soal rencanaku menikahi Balqis."
"Ah kalau begitu aku ucapin selamat deh Bar."
Kata Flo.
Albar di seberang sana tertawa.
"Kenapa ketawa?"
tanya Flo curiga.
"Hahahaha... kamu tahu nggak Flo, awal tahun depan kamu bakal dijodohkan dengan anak teman Mami ku, bahkan ini rencana sepertinya sudah matang Flo, jadi siap-siap sajalah."
Albar tertawa lagi.
Flo yang mendengar rencana perjodohannya tentu saja langsung berisik.
"Nggak, aku menentang perjodohan itu, bilang ke Mami kamu dan Mami aku Bar, bilang kalau aku sudah punya calon sendiri, titik..."
__ADS_1
**-----------**