
Balqis baru saja terlelap saat Flo kembali ke rumah Albar.
Dinda, Eti dan Po yang memilih meninggalkan Balqis sendirian di kamar agar bisa istirahat kini tampak berkumpul di ruang TV.
"Jadi Balqis ngga apa-apa kan ya? Nggak sakit kan?"
Tanya Flo kembali memastikan Balqis tidak kenapa-kenapa.
"Ngga Kak, Balqis cuma kelelahan saja, dia juga kurang tidur."
Dinda yang menjawab pertanyaan Flo.
Flo menghela nafasnya.
"Aku juga kurang tidur nih."
Kata Flo yang kini memilih duduk bersandar pada sofa ruang TV.
Eti dan Po sendiri tampak sibuk mencari koleksi film Albar yang luar biasa banyak.
"Horror saja Po."
Kata Eti.
Po tertawa.
"Nonton horror kasihan Dinda tuh yang tidurnya sendiri."
Ujar po di sela tawanya.
"Dinda mah palingan kalo takut nanti malam tinggal video call Bang Fajar."
"Hahaha..."
Eti dan Po kompak tertawa, sedangkan Dinda langsung melempar keduanya dengan bantal sofa.
"Enak aja, aku ngga pernah video call sama cowok."
Kata Dinda.
"Fajar yang juragan ayam itu pacar Dinda?"
Tanya Flo jadi ikut kepo.
Semua jadi tertawa.
"Bukan pacar dong Kak Flo, tapi calon suami."
Ujar Eti.
Flo tertawa kecil.
"Kalian ini, baru lulusan kemarin udah nikah bae yang dipikirin, Kak Flo saja belum kepikiran."
Kata Flo.
"Ya kan cuma mikirin doang inih Ka, bukan langsung praktek."
Eti cekikikan.
"Praktek apa coba?"
Flo ganti geleng-geleng kepala.
"Nggak tahu Kak, hahahaa..."
Mereka berempat tampak asik bicara dan bercanda di ruang TV.
Hingga Flo melihat jam tangannya yang kini mulai mendekati angka 11 siang.
Flo berdiri dari duduknya.
"Kak Flo mau tidur juga sebentar, capek banget."
Kata Flo.
"Iya Ka."
Flo naik ke lantai atas, lalu menuju kamar Albar yang terlihat sangat kosong dan sepi. Flo menutup pintu kamar lalu bergegas menuju tempat tidur.
__ADS_1
Ia memang sangat lelah dan juga mengantuk. Sudah cukup lama memang Flo sejak membuka cafe tak bisa tidur lebih awal.
Hampir setiap hari ia tidur larut, apalagi jika sudah mulai mendekati akhir bulan di mana ia harus menyiapkan gajian para karyawan.
Ah rasanya damai dan nyaman jika untuk sementara waktu ia istirahat di kamar Albar.
Melupakan sejenak masalah cafenya, dan juga masalah-masalah lainnya.
Ya biarkan aku istirahat sebentar, hanya sebentar. Batin Flo sambil memejamkan matanya pelahan.
Sementara di ruang TV, terlihat Po kembali sibuk dengan aksinya mengaduk-aduk isi koleksi DVD milik Albar.
"Eh ini film apa sih?"
Tanya Po pada Eti dan Dinda sambil menunjukkan satu DVD pada mereka.
Eti dan Dinda mendekati Po.
"Nggak tahu, kayaknya bukan film Indonesia deh."
Kata Eti begitu melihat cover DVD yang diperlihatkan Po.
"Coba aja ditonton, mungkin kisah Ibu dan anaknya."
Kata Dinda.
"Tapi tampilannya gelap, mungkin ini film horor."
Po membolak-balikkan DVD di tangannya itu.
"Jangan suka menilai sesuatu hanya dari cover, lihat dulu aja."
Kata Dinda.
"Kalau ternyata horor bukan salahku ya Nda."
Po jaga-jaga takut nanti disalahkan.
Dinda mengangguk.
Kali ini Eti yang bersuara.
Po akhirnya menurut, ia pun menyetel film yang wadahnya membuat mereka benar-benar penasaran.
Eti dan Po duduk di atas karpet, sedangkan Dinda duduk di sofa yang ada di ruang TV.
Film pun mulai diputar, dan...
"Pee Maaaaak... Pee Maaak..."
Layar TV menunjukkan seorang perempuan yang berdiri seraya menggendong bayinya. Ia memanggil nama Pee Mak. Suaranya menggema ke sepenjuru desa, dan membuat warga desa ketakutan.
"Waaaaa film hantuuuuuu..."
Po dan Eti malah ngacir duluan, Dinda yang duduk di sofa sendirian jadi celingak-celinguk dengan TV yang layarnya sudah mirip macam bioskop menayangkan si hantu Nak.
(Yang suka horor komedi, coba nonton ini, kali aja belum lihat, hihihihi...)
**-----------**
Memakan waktu kurang lebih empat hingga lima jam, Albar akhirnya sampai di Perth.
Ia yang tak ingin merepotkan minta jemput, lebih memilih menggunakan taksi.
Sampai di rumah, Mami Albar tampaknya belum pulang, ia pasti masih di Hamburg, atau bahkan mampir ke kota lainnya untuk belanja. Hobinya mencari uang dan menghabiskannya.
Tas mewah, sepatu mewah, perhiasan mewah, begitulah kebiasaan Mami dari dulu. Saat Albar sempat mengingatkan, Mami hanya menjawab jika membeli barang mewah bukan hanya soal style dan buang duit, tapi juga investasi, saat suatu hari barang-barang itu jadi produk yang banyak orang cari, maka harganya akan semakin meningkat, disitulah otak bisnis bermain.
Orang kaya nyatanya hidup bukan hanya tentang gaya, tapi juga tentang bagaimana mereka bisa tetap memastikan keuntungan yang bisa mereka dapatkan.
Hanya saja, sayangnya banyak orang melihat hal itu dari sudut pandang berbeda. Mereka berusaha meniru gaya hidup para sosialita, padahal dibalik gaya mereka ada maksud dan tujuannya.
Sementara yang meniru?
No...
Albar memasuki rumahnya, beberapa pelayan di rumah itu menyambut Albar.
__ADS_1
"Anda butuh dibawakan makanan atau minuman Tuan?"
Tanya pelayan yang menyambut Albar.
Albar menggeleng.
"Saya sudah makan di pesawat, terimakasih, saya ingin istirahat."
Jawab Albar.
Mereka mengangguk.
"Nanti saja, saya turun saat makan malam, setelah Mami pulang."
Kata Albar pula.
Mereka kembali mengangguk.
Albar menaiki anak tangga rumahnya menuju lantai dua.
Ia cukup lelah dan ingin istirahat, tapi ia ingin menelfon Balqis lebih dulu, ia khawatir dengan kondisi Balqis.
Albar memasuki kamarnya, sambil kemudian mencoba menghubungi Balqis.
Sementara itu yang dihubungi sedang tak ada di kamar, gara-gara Eti dan Po heboh lari sambil jejeritan nonton film Pee Mak, Balqis jadi kaget dan terbangun.
Balqis akhirnya keluar dari kamarnya lalu turun ke ruang TV untuk bergabung nonton film dengan Dinda di sofa sambil berbaring, sedangkan Po dan Eti yang penasaran juga akhirnya kembali lagi.
"Hahahaha... Hahahaha..."
Mereka tak henti-hentinya tertawa nonton film.
Bi Tuti yang juga ikut menonton bersama mereka setelah menggorengkan kentang juga tampak terus terpingkal.
Albar di Perth yang tak tahu kondisi rumah jelas saja langsung makin panik.
Menelfon lebih dari tiga kali dan tak juga diangkat Balqis akhirnya membuat Albar memutuskan menelfon Pardi saja.
"Ya Tuan."
Pardi untungnya sigap mengangkat telfon Albar, jika tidak pasti Albar memutuskan kembali ke Indonesia langsung.
"Balqis, dia gimana kondisinya Bang?"
Tanya Albar.
"Non Balqis?"
"Iya, Flo balik lagi ke rumah ngga sih?"
Tanya Albar pula.
"Nona Flora di rumah Tuan muda ini, dari tadi belum keluar, sepertinya istirahat."
"Tidak jadi ke dokter antar Balqis?"
Tanya Albar.
"Sepertinya tidak Tuan. Sebentar, saya lihat dulu ke dalam, dari tadi saya di depan."
Pardi segera bangkit dari posisinya untuk bergegas masuk ke dalam rumah. Langkahnya cepat memasuki ruang demi ruang hingga sampai di ruang TV di mana semua berkumpul di sana kecuali Flo.
"Nona Balqis sedang nonton TV Tuan."
Pardi langsung melaporkan situasi dan kondisi di TKP.
"Hah!!"
Albar tepuk jidat mendengarnya.
Ia hampir pingsan membayangkan Balqis kenapa-kenapa tak bisa ditelfon, ternyata si bocah malah asik nonton TV.
"Lagi pada nonton film horror Tuan."
Lanjut Pardi menambahkan laporannya.
"Haiiish... Pinjam hp mu, aku mau ngomong."
"Oke Tuan, siap laksanakan."
__ADS_1
**-------------**