Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
93. Menahan Rindu


__ADS_3

"Qis, foto duluuuu..."


Eti menarik tangan Balqis untuk berfoto lebih dulu, karena Dinda dan Po jalan lebih dulu mengikuti Bang Zul untuk mencari tempat duduk yang nyaman, walhasil hanya mereka berdua yang berfoto.


Flora Cafe terlihat cukup ramai, malah bisa dibilang penuh. Hanya beberapa meja saja yang terlihat masih kosong.


Tampaknya benar jika tempat ini adalah tempat yang cukup hitz dan menjadi salah satu tujuan orang-orang menghabiskan weekend mereka saat malas pergi keluar kota di akhir pekan.


Dari arah panggung di mana live music digelar, band pengisi yang semula melantunkan lagi Andai Dia Tahu milik Kahitna, sekarang masuk ke lagu berikutnya.


"Kangen, dari Dewa 19"


Begitu kata sang vokalis.


Balqis sempat mencuri pandang ke arah panggung live musik, yang kembali seperti mengingatkannya pada acara pembukaan zombie hotel di mana Albar tampil satu tahun silam.


"Qiiis."


Po dan Dinda melambaikan tangannya ke arah Balqis dan Eti yang selesai foto kini tampak mencari keberadaan Dinda dan Po yang tadi mencari tempat duduk bersama Bang Zul.


Tampak mereka duduk di dekat mini bar dan pelayan sudah terlihat ada di dekat meja di mana mereka duduk.


"Kalian mau pesan apa Qis, Et?"


Tanya Bang Zul seraya memberikan buku menu, lalu ia pamit sebentar pada adik-adiknya itu untuk ke toilet.


Eti langsung meraih buku menu yang diberikan Bang Zul untuk memilih bersama Balqis, dan saat mereka memilih menu, terlihat seorang perempuan mendekat ke arah meja mereka.


Perempuan berparas cantik dengan rambut panjang sebahu dengan penampilan santai namun terlihat berkelas.


Ia menyunggingkan senyuman ramah dan hangat, ya tentu saja, senyuman yang Dinda dan Po kenali betul milik Flo.


Ya, Flo. Saudara sekaligus manajer Albar Harrys yang sudah mereka kenal baik.


Dinda dan Po yang posisinya memang menghadap ke arah datangnya Flo jelas saja yang pertama menyadari, sedangkan Balqis dan Eti yang membelakangi serta sedang sibuk memilih menu masih belum menyadari.


Pelayan yang berdiri menunggu di dekat meja untuk menerima pesanan tampak membungkuk pada Flo begitu Flo semakin dekat.


Dan...


Aroma parfum Flo tercium seketika dari tempat Balqis, yang membuat Balqis mengangkat wajahnya untuk mengalihkan pandangan matanya dari buku menu.


"Sore semua."


Balqis baru saja menoleh ke arah samping nya karena aroma parfum yang ia kenali berada di sana, yang benar saja kini tampak Flo berdiri dan tersenyum pada Balqis.


Balqis berdiri seketika dari duduknya, ia begitu terkejut bisa bertemu dengan Flo di sana.


"Ka... Kak Flo."


Balqis terlihat tergagap, matanya nanar menatap Flo yang terlihat juga menahan tangis haru karena tak ia sangka setelah setahun lebih berlalu, kini ia bisa bertemu dengan Balqis lagi.

__ADS_1


Flo mengangguk, lalu mendekati Balqis untuk meraih Balqis dalam pelukannya.


"I miss you so much Qis."


Kata Flo.


"Dan aku sangat menghawatirkan kamu. Ah thanks God, kamu baik-baik saja."


Lanjut Flo pula yang kemudian merasakan bahu Balqis berguncang karena menangis.


Dinda, Po dan Eti jadi ikut berkaca-kaca, entah takdir apa yang membawa mereka datang ke cafe ini lalu akhirnya mempertemukan Balqis dan Flo kembali.


**-----------**


Albar dan Beni sampai di Jakarta saat matahari hampir terbenam di sebelah barat.


Lampu-lampu jalan dan di seluruh bangunan Ibu kota pun berpendar menyambut kedatangan sang malam.


Albar dan Beni dijemput oleh Pardi supir yang ikut Albar dan Flo sejak Albar baru meniti karir idolnya.


Dan meskipun kemudian Albar akhirnya mundur dari dunia hiburan setahun lebih ini, Pardi tetap bekerja sebagai supir di tempat Flo.


"Flo tak ikut jemput?"


Tanya Albar pada Pardi begitu mereka akhirnya bertemu dan Albar di persilahkan Pardi menuju mobil yang telah ia siapkan.


"Nona Flo akan ke rumah Tuan muda Albar besok pagi katanya, hari ini biar Tuan muda Albar istirahat dulu."


Albar mengangguk mengerti.


Albar tahu jika Flo sibuk di cafe nya, apalagi di weekend seperti ini, yang katanya cafe Flo selalu dipenuhi pengunjung.


"Kau tidur di rumahku dulu saja Ben, besok baru kamu ke rumah diantar Pardi."


Ujar Albar.


Beni yang ditawari menginap di rumah Albar tentu saja langsung mengiyakan.


Kapan lagi bisa menginap di rumah seorang idol, meskipun Albar setahun lebih vakum, nyatanya toh namanya masih belum sepenuhnya hilang.


Beberapa FTV yang ia bintangi juga masih kerap wara wiri diputar ulang di televisi, plus lagunya yang menjadi soundtrack FTV itu pula.


Pardi melajukan mobilnya menuju rumah Albar, tampak Albar menatap jalanan Jakarta yang berhias gemerlap lampu dan juga sempat ada sedikit kemacetan pula di beberapa ruas jalan


Albar tersenyum, sungguh ia akhirnya kembali berada di Jakarta, kota yang ia tinggalkan karena ketakutan atas bayang masa lalu yang begitu menyakitkan.


"Apa rencana mu selama tiga hari di Jakarta Bar?"


Tanya Beni.


Albar menghela nafas.

__ADS_1


Entahlah, sejatinya ia belum tahu rencana pastinya kembali ke Indonesia untuk apa, hanya saja hatinya menginginkan itu.


"Makan mie instan mungkin, sambil minum kopi sachet yang diseduh dan gorengan anget."


Sahut Albar sambil tersenyum lebar.


"Masih ingat mie instan Tuan muda?"


Tanya Pardi terkekeh di belakang kemudi.


Albar jadi ikut terkekeh karena merasa lucu sendiri merindukan cita rasa sederhana itu.


"Mau ke warkop pagi Tuan?"


Tanya Pardi pula menawari.


Albar melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sepertinya besok malam saja Bang Pardi, saya belum sholat maghrib."


Ujar Albar, membuat Beni melongo.


**-----------**


Sementara itu di Tasikmalaya yang kini turun gerimis rintik-rintik, di mana Bang Fajar baru saja pulang dari mushola, tampak ia duduk di depan rumah seorang diri.


Ia memainkan suling sunda lagu lama Potret Manehna yang mendayu hingga suaranya menyusup ke setiap relung malam. Terbawa hembusan angin yang menyibak sepi dan hening di sepenjuru desa.


Ya...


Bang Fajar tampaknya tengah dilanda tsunami kegalauan yang cukup besar karena sekarang ia menjalin hubungan LDR dengan sang pujaan hati.


Tabungan di dalam rekening telah cukup untuk beli pick up, tapi apalah daya ternyata Dinda bisa kuliah di UI.


Kini rasanya Bang Fajar pun seolah kembali menciut hatinya, meski cinta tak ditolak, namun sebagai laki-laki tentu ia ingin tak terlalu jauh tertinggal dari pasangannya.


Ah...


Bang Fajar jadi ingat fortuner Albar yang dipaksa Balqis untuk dijual dan uangnya dikembalikan.


Harusnya mobil itu ia cicil saja pada Albar, setidaknya dia jadi sudah punya Fortuner.


Aduuuh, Bang Fajar menyesal setengah mati karena baru terpikir ke arah sana sekarang.


Saking menyesalnya tiupan suling sunda Bang Fajar pun jadi salah.


"Jar, yang bener atuh niup sulingnya, lagi dengerin malah salah."


Tiba-tiba Nenek tetangga Fajar melongok dari rumahnya memarahi Bang Fajar.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2