Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
85. Tasikmalaya Dan Perth


__ADS_3

Flo tertegun menatap layar hp nya. Ia kini tengah berada di kantor majalah yang seharusnya Minggu ini Albar ada jadwal pemotretan untuk sampulnya.


Flo melihat pesan


dari Balqis dengan tatapan nanar, tak menyangka ia akan mendapat pesan dari Balqis semacam itu.


[Kak Flo, apapun alasan Albar menghilang tiba-tiba tanpa penjelasan tak mau Aqis bahas. Bohong jika Aqis bisa mengerti keputusan itu, karena Aqis benar-benar kecewa. Aqis minta rekening Albar atau Kak Flo untuk mengembalikan semua uang Albar, termasuk nanti mobil dan semuanya akan Aqis jual dan hasilnya akan Aqis kirim. Terimakasih]


Flo kemudian permisi pada salah satu staf di kantor itu untuk keluar dari ruangan sebentar, Flo mencoba menghubungi Balqis, namun tak diangkat.


Flo menatap jam tangannya dan terlihat masih berkisar jam setengah dua belas siang.


Balqis pasti kini masih ada di sekolah.


Flo menghela nafas, Albar juga pasti belum sampai di Perth sekarang.


Haiish... sial!!


Flo mengurut kening.


Flo mengirim pesan kepada Balqis untuk membalas pesannya.


[Aqis, tidak perlu seperti itu, semua yang Albar sudah keluarkan bukanlah pinjaman atau pemberian karena rasa kasihan]


[Maafkan kami Qis, terutama maafkan Albar, sungguh Kak Flo sulit menjelaskannya saat ini, Kak Flo janji akan secepatnya menemui Aqis untuk mewakili Albar]


Flo mengirim dua pesan itu dan berharap Balqis akan menjawab pesannya.


Namun bukannya jawaban, Balqis malah memblokir nomornya.


Flo membelalakan matanya.


Haiiish apa-apaan ini.


Flo meraih hp miliknya yang lain, mencoba menghubungi Balqis lagi dan hasilnya juga sama, diblokir.


Flo menghela nafas sambil bersandar di dinding kantor majalah yang ia kunjungi hari ini.


Setelah semua kesemrawutan ini, siapa yang harus paling bertanggungjawab dan harus disalahkan? Batin Flo.


**------------**


Balqis di ruang UKS tampak menatap hpnya yang kini ia letakkan begitu saja di atas meja kecil sebelah ranjang ruangan kesehatan milik sekolah tersebut.


Balqis di jam pelajaran olahraga pagi tadi ambruk nyaris pingsan hingga dilarikan ke UKS dan disuruh istirahat.


Sebetulnya Balqis ingin pulang saja dan wali kelasnya juga sudah mengijinkan, tapi Balqis masih menunggu Teh Inggit menjemput karena ia masih ada kelas di kampusnya.


Sambil menunggu Teh Inggit datang, Balqis mencoba menghitung jumlah uang Albar yang sudah terpakai, Balqis sudah membuat keputusan akan mengembalikan semuanya agar tak perlu lagi ada hubungan apapun dengan Albar lagi.


Jika Kak Flo tak mau memberitahu nomor rekening Albar, maka biar Balqis akan cari cara lain untuk mengembalikan semuanya.

__ADS_1


Tekad Balqis menggebu.


Ya, cinta terkadang memang begitu, saat cinta itu telah terlanjur mengakar, maka sekalinya yang memilikinya tersakiti, cinta itu berubah menjadi benci yang mengakar pula.


Sama halnya Balqis, yang pelahan kini justeru mulai merasa jadi membenci Albar, saking bencinya hingga ia tak mau satu rupiah pun yang terlanjur terpakai terlewat untuk dihitung agar ia bisa kembalikan nantinya.


Laptop, hp, sepeda bahkan semua yang Albar beli di rumah Aki, rasanya Balqis sudah ingin membuangnya.


Kamu membunuhku dua kali Albar, aku tak mau memaafkan begitu saja. Hanya karena punya uang, kalian seolah bisa bermain dengan hidup manusia lain. Batin Balqis yang penuh luka.


**---------**


Perth,


Albar tampak menuruni tangga pesawat. Ia mengenakan kacamata hitam salah satu koleksi favoritnya.


Kaos putih polos dengan celana jeans hitam serta topi hitam yang sekilas lalu terlihat biasa saja, namun sebetulnya semuanya adalah keluaran brand ternama.


Mami mengirimkan jemputan untuk sang putra, namun Mami tentu saja tak ikut menjemput dengan alasan dia masih ada di Melbourne hingga besok sore.


Albar yang sudah biasa mendengar alasan semacam itu tak terkejut, ia sudah kebal, bahkan sudah sangat hafal.


Mungkin jika Mami ikut menjemput, Albar justeru akan kaget.


Albar melenggang keluar dari bandara, sedangkan koper dan tasnya dibawakan seorang petugas.


Albar langsung tampak menuju mobil jemputan yang dikirim Maminya, di mana seorang pria tua bule yang berkerja cukup lama menjadi driver keluarga Albar di Perth kini menyambut Albar dengan hangat.


"Selamat datang kembali Tuan Albar."


Albar mengangguk saja, driver itu membukakan pintu mobilnya dan Albar tampak masuk ke dalam mobil.


Setelah menutup pintu mobilnya, sang driver ganti membukakan bagasi belakang mobil untuk menyimpan koper dan tas pakaian Albar.


Tak lama sang driver sudah menyusul Albar masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi, dan bersiap membawa Albar pulang ke rumahnya.


Rumah yang sudah beberapa tahun lamanya ia tinggalkan, dan Albar pikir tak akan pernah kembali lagi dalam waktu dekat.


Albar menyandarkan tubuhnya, dibukanya kacamata hitamnya yang sedari tadi menggantung di hidung bangirnya.


Ia menatap jalanan kota Perth di luar sana yang bersih dan tertata rapi.


Albar menghela nafas, seperti mimpi rasanya pagi tadi ia masih berada di Jakarta dan kini ia sudah berada di salah satu kota tersibuk di Australia ini.


Kota yang cukup dekat sebetulnya dengan Jakarta, karena hanya berjarak antara empat hingga lima jam saja jika menggunakan pesawat.


"Hari sedang cerah Tuan, apa anda ingin mampir lebih dulu ke satu tempat?"


Tanya Driver dari kursi kemudi.


"Tidak perlu Charles, aku hanya ingin pulang."

__ADS_1


Ujar Albar.


Charles si Driver mengangguk mengerti.


Ia menambah kecepatan mobilnya hingga akhirnya sampai di sebuah rumah mewah keluarga Albar.



"Mami masih di Melbourne sampai besok sore bukan?"


Tanya Albar pada Charles saat mobil berhenti dan Albar bersiap turun.


"Ya Tuan, apa anda memerlukan sesuatu?"


Tanya Charles.


Albar menggeleng.


"Tidak perlu, aku tahu ada sepuluh pelayan di rumah, aku tak perlu merepotkan mu juga Charles."


Kata Albar.


Albar kemudian turun dari mobilnya, dan berjalan ke bangunan utama rumahnya yang bagaikan istana.


Ia disambut sepuluh pelayan dan satu kepala pelayan yang merupakan pelayan paling senior.


Albar hanya mengangguk dan segera menuju kamarnya sendiri.


Sesampai di kamar Albar baru mengaktifkan hp nya lagi, dan terlihat pesan dari Flo bertubi-tubi.


[Bar, telfon aku begitu sampai]


Hanya itu tulisannya, tapi Flo mengirim nya hampir lima puluh pesan.


Dia memang gila. Batin Albar.


Albar yang sudah mengganti nomor hp nya itu kemudian menelfon Flo, tapi tak ada jawaban.


Albar menelfon lagi, tapi Flo tak juga menjawab.


Katanya suruh telfon, sekarang ditelfon tak merespon. Kesal Albar.


Ia melempar hp nya ke atas tempat tidurnya begitu saja, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Ya Albar hanya ingin mengguyur tubuhnya agar lebih segar, lalu ia akan pergi tidur, hanya itu yang ingin ia kerjaan saat ini.


Mungkin besok ia akan pergi ke pusat kota Perth sebentar, tapi itu setelah suasana hatinya sudah lebih baik.


Saat ini jelas ia sedang tak ingin melakukan apa-apa.


Tidak...

__ADS_1


Tidak ada.


**-------------**


__ADS_2