
Hari sudah senja saat akhirnya Balqis dan Albar serta teman-teman yang lain keluar dari mall dan memutuskan untuk langsung pulang setelah kenyang berbelanja.
Wajah semuanya tampak berseri-seri seperti habis menang lotre dalam waktu bersamaan.
"Kita langsung capcus pulang kan?"
Tanya Fajar yang sudah siap di belakang kemudi.
Gayanya sudah macam Albar saja, pakai kacamata hitam segala.
"Sudah hampir maghrib, pakai kacamata hitam nanti tambah gelap jalanan."
Kata Albar pada Fajar.
"Ah yah yah, ini buat aku jualan saja besok di pasar."
Sahut Fajar.
Bzzzt...
Tak bisa dibayangkan jualan ayam potong pakai kacamata hitam. Dikira buta apa bagaimana.
Fajar menyalakan mesin mobil.
Desiiuuuuunnggg uuuuung uuung...
Begitulah rasanya suara mobil baru milik Albar yang dipasrahkan pada Fajar.
"Nanti anterin aku sama Balqis duluan Jur, biar yang lain kamu antar sekalian ngandangin mobil."
Kata Albar sambil bersandar lelah.
Po dan Eti dikursi belakang sibuk kasak kusuk mencoba hp baru mereka.
Sementara Dinda di kursi depan sibuk menata isi kantung belanjanya.
Berbeda dengan semuanya, Balqis lebih memilih menatap jalanan di luar sana.
Balqis sungguh bingung dengan Albar hari ini. Entah apa yang sedang ia lakukan, sampai rela merogoh kantung hingga ratusan juta hari ini.
Ah yah, tentu saja setelah beberapa hari lalu dia borong sepeda dan semua perabotan untuk di rumah.
Balqis menghela nafas.
Hingga kemudian terdengar nada dering hp Albar di mana nada deringnya memakai lagu milik Albar Harrys sendiri.
Eti tentu saja langsung menoleh ke arah Albar yang sibuk meraih hp nya dari saku jaket.
"Nah kan, ketahuan kamu juga nge fans Albar Harrys kan? Sudah kuduga kamu itu fans Albar yang sampe rela operasi plastik ke Korea supaya muka kalian sama."
Kata Eti.
Haiiish... Albar mendesis.
Mengabaikan omongan Eti yang mirip sambel ayam geprek level sembilan, Albar melihat hp nya yang memunculkan muka Flo dengan nama "Si Berisik".
Hadeeeh, ngapain ni petasan nelfon sekarang. Batin Albar galau.
Eti kepo melirik layar hp Albar yang memunculkan wajah Flo yang cantik tapi diberi nama si berisik.
Hmm pasti salah satu mantannya. Dia tak berani angkat karena ada Balqis. Batin Eti sotoy.
Panggilan Flo pun dibiarkan terlewat.
Tapi Flo bukanlah orang yang akan dengan mudah menyerah begitu saja. Saat ia menelfon, maka dipastikan ia akan terus menelfon nomor itu sampai hp yang ditelfon meledak bila perlu.
Albar mendengus.
Ia tahu kelakuan Flo memang begitu.
Pacarnya saja akhirnya putus karena Flo tiap telfon tidak diangkat akan memberikan daftar panjang sampai seratus panggilan tak terjawab.
Bisa dibayangkan jika sedang sakit gigi, pasti rasanya langsung ingin gulat dengan Badak.
Balqis yang merasa acara merenungnya jadi terganggu akhirnya menoleh ke arah Albar dengan kesal.
"Kenapa ngga diangkat sih?"
Tanya Balqis.
"Si Flo."
Albar mengarahkan layar hp nya pada Balqis.
Balqis menghela nafas.
Di belakang keduanya, Eti diam-diam memperhatikan gerak-gerik keduanya yang seperti menyimpan satu rahasia besar.
Hmm... Jangan-jangan mereka aslinya sudah nikah siri. Batin Eti lagi.
__ADS_1
Dia memang super kepo. Tapi herannya, perkiraannya selalu salah.
Balqis akhirnya meraih hp Albar.
"Sini aku aja yang jawab."
Kata Balqis.
Tapi begitu hp nya diambil Balqis panggilan itu malah berakhir.
"Yah, abis."
Kata Balqis.
Albar hanya tersenyum ala kadarnya.
"Ngga apa, paling nanti nelfon lagi."
Ujar Albar.
Balqis memberikan hp Albar lagi pada sang pemilik.
Ada apa si Flo nelfon. Batin Albar penasaran.
**--------**
Begitu sampai rumah, Balqis dan Albar langsung disambut Aki yang kebetulan tengah berbincang dengan seorang tetangga yang ingin bergabung dengan kelompok ternak desa di mana Aki ikut menjadi anggota.
"Ra, ini serius mobilnya aku bawa?"
Tanya Fajar dari balik kemudi begitu Albar turun dari mobil.
"Iya bawa aja sono, nanti kalo aku butuh make tinggal bilang."
Kata Albar tak peduli.
Haiiish... Dia ini orang apa alien sebetulnya. Batin Fajar.
Aneh sekali, beli mobil baru tapi akhirnya cuma dikasihkan ke orang.
"Bang Bara, makasiiiiiih yaaaaa."
Kompak Po dan Eti yang melongok dari kaca mobil.
Balqis menghela nafas dari tempatnya berdiri yang baru saja salim dengan Aki.
Albar hanya mengangkat tangannya.
Aki jadi terkekeh.
Albar salim dengan Aki, dan juga bersalaman dengan tetangga yang sedang bicara dengan Aki.
Fajar melajukan mobilnya dan Eti serta Po tampak melambaikan tangan pada Balqis dan Albar.
Balqis masuk ke dalam rumah menenteng tas belanja berisi laptop dan hp baru. Albar mengikuti di belakangnya sambil mengirim pesan pada Flo menanyakan manajer sekaligus sepupu berisiknya itu ada perlu apa menelfonnya.
[Ada apa Flo? Ragunan pindah?]
Albar mengirim pesannya.
Setelah mengirim pesan, Albar melihat status Flo barangkali ada hal yang mencurigakan.
Dan karena Albar yang terlalu serius melihat status Flo, maka Albar tak menyadari Balqis yang tiba-tiba berhenti sehingga Albar menabrak Balqis.
"Aduh!"
Keduanya hampir bersamaan.
Albar seketika mengangkat wajahnya, sementara Balqis menoleh ke arah Albar.
Albar nyengir saja.
"Habis kamu tiba-tiba berhenti, kayak portal saja ngalangin jalan."
Kata Albar.
ish... Balqis mendesis.
"Apa sih Bal, dari tadi manyun bae kayak Donal Bebek."
Albar sambil mulai jalan lagi dan akan menyalip Balqis.
"Kenapa hari ini sampai beli mobil dan hambur-hambur uang lagi sih?"
Tanya Balqis akhirnya, memaksa langkah Albar terhenti.
"Hambur-hambur uang apa?"
"Lha ini. Sama punya semua temanku dan juga Bang Fajar, berapa puluh juta tadi di mall?"
__ADS_1
Albar yang mendengarnya tertawa.
Ia menepuk-nepuk kepala atas Balqis.
"Cuma segitu aja, ngga masalah."
Kata Albar.
Balqis menghela nafas.
"Tapi kan kamu juga habis beli mobil, dan mobil itu kan pasti harganya mahal, semua sudah jelas akan heboh nanti."
Kata Balqis lagi.
Albar senyum santai.
"Aku beli mobil biar kamu ngga usah numpang orang lain. Lagian cuma mobil, kecuali aku beli kereta api, kamu mau protes ngga apa, selain susah harus bikin rel sendiri, gerbongnya lebih banyak."
Kata Albar santai, lalu jalan lagi.
Haiiiish... Balqis yang kesal Albar seperti tak pernah serius jadi menabok punggung Albar.
"Aduh."
Albar berhenti dan menengok ke arah Balqis lagi.
"Ada apa lagi Bal? Bentar lagi maghrib tuh, nanti kena marah Aki kalau belum siap-siap sholat."
Kata Albar.
"Aku masih belum sholat."
Sahut Balqis.
"Astaghfirullah... Tobat Bal."
Albar menepuk bahu Balqis.
"Iiikh... Aku kan datang bulan."
Balqis kesal sekali lama-lama kalau bicara sama Albar.
"Ah iya, sori Bal, lupa."
Ikh...
Balqis kemudian mengangkat tas belanjanya.
"Aku akan cicil aja laptop sama hp nya. Tapi aku cuma bisa tiga ratus ribu sebulan."
Kata Balqis.
Albar mengerutkan kening.
"Kamu pikir aku tukang kredit?"
Tanya Albar.
"Ya kan aku ngga punya uang cash sebanyak ini."
"Lha yang suruh bayar siapa?"
"Aku sendiri."
"Jiaaah... Kamu ini susah banget jadi cewek, udah pakai aja, aku ngga jualan."
Kata Albar yang kembali berbalik dan akan menuju kamarnya di loteng.
"Tapi aku mau tetap bayar, aku ngga mau dikasih-kasih terus."
Kata Balqis.
Harga dirinya sebagai gadis memang luar biasa.
Albae menghela nafas, menghentikan langkahnya kembali lalu menengok ke arah Balqis lagi.
"Kamu kalau sampai bayar beneran, aku culik kalau aku pulang."
Kata Albar pasang wajah serius.
"Pakai aja, jangan berisik lagi."
Tambahnya lagi, lalu naik ke loteng.
Balqis terdiam.
Apa tadi?
Diculik?
__ADS_1
Hah... Apaan sih dia ini. Batin Balqis.
**---------**