
Balqis menatap lemari bajunya, bingung harus memakai baju yang mana hari ini.
Ah sebetulnya hari baru saja menjelang pagi, tapi Balqis sudah gugup luar biasa.
Semalaman bahkan ia tak bisa tidur, memikirkan jika hari ini ia akan bertemu Maminya Albar.
Apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia lakukan, bagaimana jika kesan pertama sudah membuat Mami Albar ilfil?
Balqis memikirkannya terus menerus sampai otaknya ruwet macam jalanan Bumiayu dari pasar induk sampai pertigaan pasar wage. Wkwkw...
Dan kini, gadis cantik itupun berdiri mematung di depan lemari bajunya, memilih mana yang pantas ia pakai untuk bertemu sang calon mertua.
Sementara itu di luar kamar Dinda terdengar memanggil Balqis untuk mengajak sarapan.
Hari ini tampaknya Dinda mengambil alih tugas dapur karena Eti dan Po masih berada di cafe Flo untuk mencari tambahan uang jajan mereka.
"Aqiiiis, ayo sarapan... Albar sudah pulang sepedaan sama Bang Fajaaar..."
Kata Dinda lagi.
Balqis yang mendengar nama Albar disebut jadi makin salah tingkah.
Ah yah, hari ini Albar sudah ada di rumah, dan sarapan malah Dinda yang mengurus.
Gara-gara terlalu memikirkan persiapan bertemu camer, Balqis jadi gagal fokus mengurus si calon suami.
"Aku masuk ya..."
Kata Dinda yang lantas membuka pintu kamar Balqis dan melihat ke arah Balqis yang terlihat gugup menutup lemari pakaiannya.
Dinda yang tahu pasti Balqis sedang sibuk memilih baju jadi mengulum senyum.
"Persiapan ketemu camer?"
Tanya Dinda sambil menghampiri Balqis yang jadi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena wajahnya bersemu merah.
"Kamu itu pakai apa aja juga cantik Qis, tidak usah terlalu dipikir mau pakai apa, yang penting mah rapi, sopan dan yang paling penting lagi dari seorang perempuan adalah attitude saat bicara dengan orang tua."
Kata Dinda sesuai yang diajarkan Ibunya selama ini.
Balqis membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, dan kini melihat Dinda berdiri di depak lemari pakaian Balqis.
Dinda membuka pintu lemari pakaian Balqis dan kemudian memandangi satu persatu gamis yang digantung di lemari.
__ADS_1
Dinda kemudian mengambil satu di antaranya, gamis warna abu-abu dengan payet mutiara di bagian pergelangan tangan, dan sedikit payet juga di bagian leher.
Gamis yang cantik namun sederhana.
"Ini tidak terlalu mencolok, pantas digunakan untuk bertemu orangtua. Tinggal pilih jilbab warna pink lembut, karena ini abu-abunya tipis."
Kata Dinda.
"Aah, jangan lupa poles lipbalm warna pink bibir saja, dandanan natural jauh lebih manis."
Tambah Dinda.
Balqis menerima gamis pilihan Dinda.
Tepat kemudian Albar melongok dari pintu kamar.
"Kapan sarapannya?"
Tanya Albar pada Balqis dan Dinda.
Haiiish... Balqis mendesis.
Sementara Dinda cekikikan.
Ujar Balqis.
Albar nyengir sambil melihat gamis di tangan Balqis.
Ia seperti paham jika Balqis sedang gugup mempersiapkan diri bertemu Mami.
"Pakai apa aja kamu akan tetap jadi menantunya, jangan terlalu panik."
Kata Albar sambil tersenyum dan berbalik.
"Ikh... Albar mah."
Balqis mengerucutkan bibirnya, sementara Dinda tambah cekikikan.
"Udah makanya ayok sarapan, nanti efek lapar tambah bikin Albar pengin isengin kamu lagi."
Kata Dinda di sela tawanya.
Balqis akhirnya meletakkan gamis yang akan ia pakai di atas tempat tidur, dan baru kemudian mengikuti Dinda keluar dari kamar.
__ADS_1
"Eti bikin status malam-malam pesta spaghetti sama Po dan Tio serta beberapa karyawan Kak Flo. Katanya, pindah di sini saja apa ya, hahahaha..."
Dinda tertawa bercerita tentang kelakuan Eti.
Balqis tersenyum.
"Tapi kalau kamu menikah dengan Albar memang aku juga rencananya akan pindah kos saja dekat UI sih Qis."
Ujar Dinda sambil berjalan beriringan dengan Balqis menuju anak tangga rumah.
"Lho kok gitu?"
Balqis tampak seperti langsung sedih.
"Kan tidak pantas jika ada aku di sini. Kalian pasangan baru butuh privacy."
Kata Dinda.
"Lho kan Albar nantinya akan tinggal di Australia sampai studinya selesai Nda."
"Kan Albar hanya satu tahun juga sudah selesai dan akan terus tinggal di Indonesia."
Ujar Dinda.
"Ya satu tahun temenin aku lah, masa aku ditinggalin sendirian di rumah sebesar ini."
"Kan ada Bik Tuti, ada Pak Wagiman, ada Bang Zul."
"Ah Nda, jangan gitu, sedih nih akunya."
Balqis matanya jadi berkaca -kaca.
"Jangan gitu Qis, kamu sebentar lagi menikah, sudah jadi Nyonya Albar, bukan lagi hanya Balqis."
Balqis tertunduk, ia tak menyangka ternyata membayangkan teman-temannya nanti akan jauh jadi sesedih ini.
Ah yah, selama ini hanya mereka yang Balqis miliki sejak Aki tak ada. Mereka bukan hanya teman untuk Balqis, namun juga keluarga.
"Aku dan yang lain akan sering berkunjung. Kita kan juga satu kampus, kalau pas jadwal kuliah kita sama, kita bisa ketemu."
Kata Dinda.
Balqis akhirnya mengangguk.
__ADS_1
**-------------**