
Eti tampak benar-benar kesal sekarang melihat Amel dan teman-temannya, rasanya tangannya sudah gatal untuk menjambak gadis itu yang selalu saja ada alasan untuk mengganggu Balqis.
Jika saja bel masuk tak segera berbunyi dan terdengar seantero sekolah, mungkin Eti sudah langsung sikat itu si Amel.
Balqis menarik tangan Eti.
"Sudah, aku ngga apa, abaikan saja, jangan merugikan diri sendiri."
Kata Balqis sambil membawa Eti menjauh.
"Tapi mereka akan kayak gitu terus Qis, dikira kamu nya takut ngga berani negur."
Eti masih saja kesal.
Dinda dan Po menjejeri Eti, mereka berjalan menuju kelas.
"Bener kata Aqis, jangan di gubris kalo Amel bikin ulah, dia cuka nyari perhatian, maklum sejak Ibunya meninggal trus Ayahnya menikah lagi jadi kurang perhatian."
Kata Po.
Dinda mengangguk.
"Iya, kasihan sebenernya, masih TK dia udah ditinggal Ibunya kan, trus cuma dua bulan Ayahnya nikah lagi sama adik Ibunya, mungkin karena itu dia jadi suka nyari masalah buat dapet perhatian orang lain."
Kata Dinda pula.
"Tapi Aqis juga kan, malah dia ditinggal Abah nya masih kecil juga, tapi dia ngga pernah bikin masalah sama orang lain kayak Amel."
Eti tetap tak bisa menerima.
Balqis menghela nafas.
"Manusia karakternya beda-beda kan Et, ngga bisa disamakan dan juga ngga bisa dibandingkan, masing-masing punya alasan untuk melakukan sesuatu. Mungkin Amel begitu karena dia juga ngga punya sahabat kayak kalian, yang bukan cuma jadi sahabat buat aku, tapi juga saudara, bahkan keluarga kalian juga kan sayang banget sama Aqis."
Ujar Balqis.
"Ya kan karena kamu nya patut disayang."
Kata Eti, Dinda dan Po kompak.
Balqis jadi tertawa melihat ketiganya bisa serempak.
Mereka kemudian masuk kelas.
Berjalan menuju bangku mereka dan duduk di sana.
Tak lama Amel juga masuk dan menuju bangkunya sendiri.
Eti masih mengawasi Amel yang kemudian duduk di bangkunya yang ada di sudut.
Ia satu-satunya dari kelompok ulat bulunya yang sekelas dengan Balqis di XIa. Sedangkan teman-teman kelompoknya berada di kelas XIc.
"Pengin aku jambak kalau dia macem-macem. Lihat tuh kalau ngga ada teman kelompoknya, nunduk terus mukanya, ngeselin banget. Gemes akunya pengin nyekek."
Kata Eti.
Balqis jadi tertawa kecil.
"Kamu tuh emosian deh, udah sih biarin, orang akunya juga ngga apa-apa."
Kata Balqis menepuk-nepuk punggung Eti.
Meskipun...
Ah sebetulnya Balqis sebagai manusia biasa juga merasa terintimidasi oleh kata-kata Amel dan teman-temannya tentang Albar yang mereka tahunya bernama Bara, cowok tajir dari Jakarta yang dijodohkan dengan Balqis karena saudara Aki.
__ADS_1
Tapi Balqis toh memang malas jika harus ribut dengan orang lain, apalagi jika itu adalah Amel.
Bagaimanapun Amel adalah anak Haji Hasan, yang merupakan ketua kelompok ternak di mana Aki menjadi anggotanya.
Usaha ternak Aki mulai berkembang sejak ikut kelompok ternak Haji Hasan, dan tentu saja Balqis tak mau nantinya jika hubungannya dengan Amel buruk, maka ikut buruk pula hubungan Aki dengan Haji Hasan yang berimbas pada usaha ternak ayam nya Aki.
Sebagai anak yatim piatu, tentu Balqis hanya menjadi beban untuk Aki saja sudah malu, apalagi jika sampai membuat Aki kena masalah, pastinya Balqis akan tambah malu.
Itu sebabnya, betapapun misal Amel mengganggunya dan membuat Balqis tak nyaman, Balqis akan tetap berusaha sabar.
**-----------**
Rumah Aki sepi seperti biasa saat siang hari.
Aki pergi dan Balqis masih sekolah. Albar di rumah tiduran di atas karpet ruang TV sambil nonton TV tapi akhirnya TV yang menontonnya main game di hp.
Seharian ini dia gabut. Otaknya sibuk memikirkan semua yang dikatakan Balqis pagi tadi.
Haiishh...
Albar bangkit dari posisinya.
Ia tampak duduk sila di atas karpet dan kemudian meletakkan hp nya.
Gara-gara mulutnya asal jeplak bilang pada teman-teman Balqis jika mereka dijodohkan, sekarang semuanya jadi berantakan.
Mungkin benar kata Flo, jika Albar selalu saja bertingkah yang akhirnya memicu ada banyak gosip di luar.
Albar melihat jam. Masih lama jika menunggu Balqis pulang. Rasanya Albar ingin melanjutkan pembahasan pagi tadi.
Ah iya, Albar bilang akan menikahi Balqis setelah nanti Balqis lulus sekolah.
Kata-kata spontanitas lagi yang sekarang Albar mulai pusing memikirkannya.
Menikah?
Albar senut-senut kepalanya.
Dan lagi, Balqis tak juga meninggalkan jawaban apapun.
Ah ya jelas, dia pasti menolak bukan?
Sudah jelas Balqis selama ini saja mengacuhkan dirinya.
Tapi, mau bagaimana lagi? Itu kan Albar lakukan karena memang niat Albar tulus, tidak ingin Balqis merasa buat main-main saja.
Albar masih dalam keadaan pusing tujuh keliling, saat kemudian hp nya bergetar dan tampak pesan dari si berisik.
[Dua hari kita jemput, siap-siap]
Albar yang membaca pesan Flo seketika terkejut.
Albar langsung saja menelfon Flo.
"Apa? Aku lagi jalan nih ketemu Tuan Dimas."
Kata Flo.
"Ini apa maksudnya dua hari lagi?"
Tanya Albar memastikan.
"Ya jemput kamu pulang ke Jakarta lah dodol!!"
Kesal Flo.
__ADS_1
"Kita mau adain jumpa pers sama model yang ngaku hamil itu, kita bikin citra kamu baik lagi."
Terang Flo kemudian.
"Kamu serius kan Flo?"
Tanya Albar.
"Serius lah."
"Mami gimana?"
"Aku udah bilang ke Mami ini karena Alpha Centauri, trus dia langsung oke aja."
"Jiaaah..."
Albar tepuk jidat.
"Mami malah mau dateng, dia kayaknya diundang oleh Tuan Zion."
"Mereka kenal?"
"Kayaknya sih Papi kamu dulu sempat ada hubungan bisnis, udahlah kamu ngga bakal paham urusan yang susah-susah, otakmu ngga nyampe."
Kata Flo.
"Sialan, kamu pikir aku ngga ada otaknya apa!"
Albar tak terima.
"Ya ada, cuma kecil."
Kata Flo, lalu terbahak puas.
"Dasar mengkudu."
Albar ngatain Flo.
"Hahaha..."
Flo pun terbahak saja menanggapi.
Dua hari lagi pulang ke Jakarta? Aku akan ninggalin rumah ini? Ninggalin Aki? Ninggalin Balqis?
Harusnya aku senang, tapi sekarang kenapa rasanya jadi aneh? Batin Albar.
Sementara itu, di kelas Balqis tampak mencolek punggung Dinda yang duduk di depannya.
Dinda menengok dan Balqis memberikan buku Dinda yang ia pinjam untuk dikembalikan pada sang pemilik.
Pelajaran masih berlangsung, seorang guru yang sedang mengajar bahasa Indonesia di depan kelas.
Dinda baru akan memasukkan bukunya ke dalam tas, saat ia melihat secarik kertas yang terselip di lembar pertama buku.
Tulisan Balqis.
[Nda, aku mau curhat sepulang sekolah, aku ke rumah kamu ya]
Dinda mengerutkan kening.
Balqis kenapa ya? Batinnya.
Dinda menengok ke belakang.
Ia hanya mengangguk pada Balqis tanda mengiyakan permintaan Balqis.
__ADS_1
**---------**