
Flo sedang asik merokok di lantai dua kafe miliknya sambil memandang langit hari ini yang mendung-mendung kelabu macam tanggal tua buat othor.
Sementara itu hp nya tergeletak di atas meja samping ia duduk bersebelahan dengan Kitten Luni yang tidur meringkuk dengan damai.
Sejak pagi bermain dengan Luni entah kenapa rasanya Flo hari ini merasa lebih hidup.
Flo menyandarkan tubuhnya di kursi kafe sambil menghabiskan rokoknya, saat kemudian hp nya bergetar ada pesan baru masuk dan bersamaan dengan itu Luni menggeliatkan tubuhnya sambil menguap.
Gerakan tubuhnya yang kecil berbulu dengan muka lucu membuat Flo gemas ingin memencet.
Flo meraih hp nya, setelah itu dibukanya pesan baru dari seseorang.
Ah ya seseorang...
Flo lumayan dag dig dug saat melihat Indra mengiriminya pesan tiba-tiba.
[Nona Flora pelihara Kitten?]
Haiish... Flo mendesis.
Ternyata hanya pesan menanyakan soal Kitten Luni.
Indra mengomentari video Luni yang sedang bermain dengan jari tangan Flo.
[Iya, baru pagi tadi ketemu di jalan]
Balas Flo.
[Wah, senang sekali ada perempuan secantik dan sesukses Nona Flo mau memungut kucing jalanan, Nona Flo memang baik hati]
Flo yang membaca pesan dari Indra itu rasanya jadi ingin terbang ke atas Semeru, tak apa sekalipun waktu Semeru erupsi pun Flo rela saja.
[Siapa namanya? Boleh saya mampir?]
[Boleh]
Flo membalas pesan Indra sudah macam petir Saras 008.
[Oh, namanya Luni]
Tambah Flo pula.
Setelah terkirim Flo menatap layar hp nya.
Apa ini? Kenapa aku sama sekali tidak ada jaim nya sama sekali?
Flo menepuk-nepuk jidatnya.
Indra kemudian membalas lagi.
[Luni, nama yang bagus]
Indra memuji.
Duh, ini Indra sepertinya sangat tahu bagaimana membuat hati seorang gadis berbunga-bunga hingga sekarang hati Flo sudah mirip taplak meja.
[Nanti saya mampir sepulang dari kantor, akan saya bawakan makanan khusus Kitten yang bagus, dan saya akan ajari Nona Flo merawatnya agar bisa tumbuh sehat]
Tulis Indra.
Flo menatap Luni yang kembali tidur melingkar di atas meja, kitten itu begitu damai.
[Baiklah, Luni pasti senang]
Balas Flo akhirnya.
[Sampai jumpa Nona Flo]
[Ya]
Dan acara berbalas pesan mereka pun berakhir dengan Flo yang lupa dengan rokoknya di atas asbak yang kini habis dan mati.
Flo menghela nafas sambil menatap Luni lagi.
Lalu...
"Kalian pasti sekongkol kan? Ngaku..."
Flo menjawil kepala Luni yang tetap tidur santuy.
Ah ya Tuhan, aku pasti sudah gila. Flo menggelengkan kepalanya berulang kali seolah ingin menerbangkan semua yang ada di dalam kepalanya.
Tak lama kemudian Lisa datang menghadap Flo, untuk melaporkan beberapa bahan makanan yang mereka pesan sudah tiba.
Flo akhirnya berdiri dari duduknya, meraih Luni dan memberikannya pada Lisa untuk dimasukkan ke dalam kandang yang sengaja Flo suruh karyawannya beli pagi tadi.
"Hey Kitten, kamu calon pewaris kafe."
Bisik Lisa saat memasukkannya ke dalam kandang lalu cepat menyusul Flo turun ke lantai satu.
**--------------**
Bang Fajar tampak ternganga begitu mobil travel yang ia tumpangi kini berhenti di depan pagar sebuah rumah mewah bagai istana.
"Ini serius rumah saudara Bang Fajar? Nyasar kali Bang."
Tio tampak ragu-ragu, begitu juga supir travel yang mengantar.
"Tapi ini bener kan alamat yang saya kasih Mang?"
Tanya Bang Fajar pada si supir travel.
"Iya bener kok Bang, kalau alamat yang Bang Fajar kasih ya ini alamatnya, itu tadi kan sesuai petunjuk di hp juga katanya ini."
"Lha nanti kalau pas pintunya di ketok ternyata Al Ghazali nya Bang Ahmad Dhani gimana?"
__ADS_1
Tanya Tio.
"Ya kita minta foto dan tandatangan."
Sahut Bang Fajar.
Tio cekikikan.
"Kita turun saja Bang, tanya ke penjaga rumah, tuh itu lagi ke sini."
kata supir travel.
Bang Fajar yang semula akan menelfon Balqis akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih turun dari travel untuk kemudian bertanya kepada pak penjaga rumah yang sepertinya baru saja membuat kopi dari dalam rumah.
"Siang pak."
Bang Fajar mendekati pos jaga yang ada di balik pagar besi menjulang tinggi.
Pak penjaga yang tak lain adalah pak Wagiman itupun meletakkan kopinya di meja pos, lalu berjalan ke arah Bang Fajar yang kini berdiri di depan pagar.
"Siang juga Tuan, ada yang perlu dibantu?"
Tanya Pak Wagiman ramah dan sopan.
"Wah banyak sih pak kalo soal butuh dibantu mah."
Kata Bang Fajar malah ngelunjak.
"Wah kirain cuma mau nanya alamat."
Pak Wagiman auto menyesal, wkwkwk...
"Begini Pak, saya ini dari kampung nan jauh di sana, ingin mengunjungi saudara saya dan juga calon isteri saya yang tercinta dunia akhirat."
Kata Bang Fajar.
Pak Wagiman mantuk-mantuk.
Lalu...
"Apa ini rumah saudara saya pak? Itu pertanyaan nya."
Kata Bang Fajar.
Pak Wagiman garuk-garuk kepala.
Saudaranya maksudnya siapa? Calon isterinya juga siapa? ini orang mabok kecubung kali.
Dan belum lagi tanya itu terjawab, tiba-tiba hp Bang Fajar berbunyi.
Nada deringnya adalah lagu dangdut jaman dulu,
🎶Pacarku memang dekat
Tak perlu kirim surat
sms juga nggak usah
Kalau ingin bertemu
tinggal nongol depan pintu
tangan tinggal melambai
sambil bilang halo sayang
Duh aduh memang asik
punya pacar tetangga
biaya apel pun irit
enggak usah pake duit
tak ada malam mingguan
malam apapun sama🎶
"Diangkat Tuan, jangan dengerin sampe habis lagunya."
Pak Wagiman mengingatkan.
"Ah iya benar, aku ingatnya lagi nonton YouTube."
Kata Bang Fajar.
Dan Bang Fajar melihat layar hp nya di mana di sana tampak nama dan foto profil Balqis berkelap kelip.
"Nah ini nih saudara saya."
kata Bang Fajar senang dan lega.
Bang Fajar langsung mengangkat panggilan Balqis.
"Hai sistaaaa, aku bingung ini rumahnya ada di mana, aku tersesat kayaknya."
Kata Bang Fajar.
"Lhooo, Bang Fajar di mana?"
Tanya Balqis jadi panik.
"Nggak tahu ini, lagi nanya pak satpam rumah istana."
"Istana?"
__ADS_1
Balqis yang semula di dapur sedang menyiapkan makanan dengan Dinda untuk menyambut Bang Fajar dan temannya akhirnya jadi tergopoh-gopoh keluar dari rumah.
"Bang Fajar nyasar apa Qis?"
Tanya Dinda yang akan mengikuti Balqis.
"Aqis saja yang keluar Nda, kamu bantuin bi Tuti nyelesein tumisan dagingnya."
Kata Balqis.
Dinda pun mengangguk dan akhirnya kembali menuju dapur.
Balqis sendiri meneruskan langkahnya keluar dari rumah, turun dari teras, lalu begitu melihat ke pagar rumah dan tampak Bang Fajar di sana barulah Balqis menghela nafas lega.
"Ya Allah Bang Fajar, lah bener ini rumahnya, Bang Fajar nggak nyasar."
Balqis bicara tetap dari hp nya.
Bang Fajar yang begitu mendengar Balqis mengatakan ia tak nyasar maka Bang Fajar langsung melihat ke arah depan rumah bagaikan istana itu, yang kini terlihat Balqis berdiri di sana dan melambai ke arahnya.
"Nah itu saudara saya Pak."
Bang Fajar ke arah Pak Wagiman.
"Oooo Nona Balqis, bilang dari tadi dong harusnya."
"Kan saya bilang saudara saya."
Bang Fajar tak mau disalahkan.
Pak Wagiman menghela nafas.
"Ya kan tidak kasih tahu namanya, jadi mana saya tahu Nona Balqis yang dimaksud."
Ujar Pak Wagiman.
Bang Fajar yang mendengar Pak Wagiman bicara akhirnya jadi cekikikan.
Oh iya, benar juga.
Jangankan Pak Wagiman, google aja pasti bingung kalau dikasih pertanyaan Bang Fajar.
Pak Wagiman akhirnya membukakan Pagar besi rumah Albar yang kini ditempati Balqis dan bala kurawanya.
Bang Fajar memberikan isyarat pada pak supir dan Tio di dalam mobil travel untuk yuk kita kemon.
Bang Fajar berjalan masuk ke halaman rumah Albar yang sudah macam lapangan tenis digabung lapangan voli dan lapangan bulu tangkis.
Bang Fajar tersenyum lebar pada Balqis yang menunggunya di dekat teras.
"Aqis, aku sampai takut nyasar karena rumahnya ternyata semegah ini."
kata Bang Fajar masih sulit percaya begitu sampai di dekat Balqis yang cekikikan terus melihat Bang Fajar berjalan sambil terus berdecak menatap setiap inci bangunan rumah yang kini ada di hadapannya.
"Pantas pangeran idol itu buang uang seperti buang hajat, ternyata rumahnya saja sudah seperti rumah di film ku menangis."
kata Bang Fajar lagi.
Balqis yang mendengarnya jadi terpingkal.
"Sudah sudah, Bang Fajar dari tadi ditungguin Dinda lho, sampai ngga mau makan dia nungguin Bang Fajar."
kata Balqis membuat Bang Fajar terharu biru telor asin.
Bang Fajar pun langsung tak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah untuk menemui Dinda, namun tiba-tiba ia ingat Tio.
"Ah tapi sebentar Qis, aku mau kenalin dulu itu teman yang akan numpang sementara."
Bang Fajar berbalik arah lagi, menunggu mobil travel yang kini masuk ke halaman rumah berhenti dan kemudian Tio turun dari sana.
Tio membungkuk memberi salam pada Balqis yang juga melakukan hal serupa agar tak perlu berjabat tangan.
Balqis mempersilahkan Bang Fajar dan Tio untuk langsung masuk ke dalam rumah saja, agar nanti Balqis bisa menunjukkan kamar sementara di bagian belakang rumah yang dekat taman dan juga kolam renang.
Bang Fajar meminta tolong pada supir travel mereka untuk membantu mengusung barang-barang Tio juga.
"Nanti sekalian makan di sini saja Pak, kebetulan masak banyak ini."
Kata Balqis membuat Pak supir travel terlihat senang.
"Aqis sudah bilang pada Albar?"
Tanya Bang Fajar.
Balqis mengangguk.
"Tadi sudah chat Bang, kata Albar nggak apa, nanti dia telfon kok, seneng dia malah denger Bang Fajar datang, katanya kalau nanti bisa disempetin hari minggu dia terbang ke sini."
"Albar sekarang bisa terbang?"
Tanya Bang Fajar kumat bolot.
Balqis menghela nafasnya.
"Pesawatnya yang terbang Bang Fajar, Albar mah duduk manis saja."
Kata Balqis.
"Ooh iya iya."
Bang Fajar terkekeh.
Bersamaan dengan munculnya Dinda dari ruang dalam dan tampak langsung tersenyum lebar karena senang bukan main bertemu sang pujaan ayam, eh maksudnya sang juragan ayam pujaan hati.
**-----------**
__ADS_1