
Flo sedang berdadah-dadah pada Indra yang pamit pulang setelah cukup lama berbincang dengan Albar usai menemaninya santap malam, ketika pesan Eti masuk ke dalam hpnya.
Flo membaca pesan Eti.
Lalu, sambil berbalik arah masuk ke cafe lagi, iapun membalas pesan Eti sambil cengar-cengir.
[Eti, besok ke sini siangan saja sekalian ajak Balqis dan yang lain, Kak Flo ada acara makan siang, sekalian besok kan ada acara musik akhir pekan]
Tulis Flo.
Pesan terkirim, dan setelah itu, Flo memasukkan hp nya lagi ke saku celana.
Cafe mulai dibereskan oleh para pelayan, Flo naik ke lantai atas.
Albar masih tampak duduk di sofa lantai dua sambil bermain dengan Luni.
"Kamu nggak mandi?"
Tanya Flo sambil berjalan menghampiri Albar.
"Ini mau."
Sahutnya.
"Mandi gih, lihatnya saja aku gerah."
Kata Flo yang kemudian duduk di sofa juga.
"Dia kelihatannya laki-laki yang baik, kali ini sepertinya kamu tidak salah pilih Flo."
Ujar Albar yang tampak menggendong Luni sambil kemudian berdiri.
"Kamu tidak ingin kasih tahu Balqis? Kasihan dia pasti nunggu kabar."
Kata Flo mencoba mengalihkan pembicaraan, dan nyatanya Flo memang peduli sekali dengan Balqis.
Albar nyengir penuh arti,
"Malah cengar-cengir, timpuk bantal baru tahu rasa."
Kata Flo.
"Udah sih, tidak usah khawatir, biar jadi kejutan lah nanti."
Sahut Albar.
Flo menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Besok aku lupa belum hubungi band yang manggung, kamu isi acara musik weekend ya Bar."
Pinta Flo.
Jiiaaaah...
Albar geleng-geleng kepala.
Sudah jelas, saudara sekaligus mantan managernya ini berjiwa VOC, gemar melihat Albar kerja paksa.
"Ayolah, jemputan, tumpangan, makan, anggaplah itu bayarannya kamu nyanyi di panggung musik weekend cafe ku."
Albar yang mendengarnya jelas saja tertawa sambil meraih bantal sofa dan melemparnya ke arah Flo.
"Lupa apa dulu aku sekali manggung bayarannya berapa whoooiiii..."
Albar melempari Flo dengan bantal lagi.
Flo tertawa terpingkal-pingkal.
"Ya kan kamu udah nggak laku, masih bagus ada yang mau pake."
__ADS_1
Ujar Flo.
"Hahahaha... sialan, dasar tumbuh-tumbuhan."
Kata Albar.
Flo tentu saja langsung balas menimpuk Albar dengan bantal sofa.
"Tumbuh-tumbuhan, dikira aku kebon apa."
"Lah Flora kan tumbuhan, hahahaha..."
Albar lantas cepat pergi masuk ke dalam kamar Flo membawa Luni yang akan ia masukkan lagi ke dalam kandang yang memang ada di kamar Flo.
Flo sengaja meletakkan Luni di dalam kandang di kamarnya, karena saat malam hari, rasanya dengan adanya Luni, Flo jadi tak kesepian.
Sepeninggal Albar, Flo yang masih cekikikan tampak mengeluarkan hp nya lagi dari saku celananya.
Dilihatnya Eti sudah membalas.
[Oh, jadi aku nggak jadi kerja apa gimana Kak Flo?]
Pertanyaan Eti seperti mengandung kekecewaan berusia tiga minggu.
[Jadi kerja Eti, tapi besok mulai kerjanya setelah acara selesai saja]
Jawab Flo.
[Oh gitu Kak, okelah Kak]
Balas Eti lagi.
[Balqis lagi apa Et?]
Tanya Flo pula.
[Lagi galau kak, Albar tidak ada kabar katanya. Aku bilang kayaknya Albar kehabisan kuota.]
Membaca jawaban Eti, Flo cekikikan.
[Ya soalnya Albar pakainya kartu jempol]
Tulis Flo sambil cekikikan.
[Kasihan Kak, makan tadi juga tidak habis, nonton TV juga sampai TV nya puyeng diganti-ganti channel nya terus]
Tulis Eti ember.
[Sekarang masih nonton TV?]
Tanya Flo lagi.
[Dari tadi udah masuk kamar, kayaknya tidur, ini Eti mah sama Dinda dan Po pada baru pulang jalan-jalan bawa martabak]
Tutur Eti.
[Hmm... Enak dong pesta martabak, ya udah teruskan deh pestanya, kak Flo mau rehat, sampai jumpa besok ya Et, jangan lupa sampaikan ke Balqis besok harus ikut. Kalau tidak, Kak Flo marah]
[Oke Kak, siap, laksanakan.]
Jawab Eti.
**---------------**
"Apa sih Et, serius amat?"
Tanya Po jadi kepo.
Eti menunjukkan chat nya dengan Flo.
__ADS_1
Po membaca chat itu, Dinda juga.
Ketiga gadis itu duduk di lantai atas, di kamar Eti dan Po yang pintunya sengaja dibuka supaya Balqis bisa dengar mereka berisik dan harapannya tentu saja Balqis mau bergabung untuk menghabiskan malam Sabtu dan juga menghabiskan martabak susu keju bersama.
"Acara apa sih?"
Tanya Po memandang Eti.
"Entahlah, mungkin ulangtahun."
Sahut Eti.
"Apa Kak Flo dapat arisan bulanan."
Kata Po.
"Dipikir Kak Flo emak-emak di kampung arisan."
Eti menarik ujung jilbab Po.
Dinda jadi cekikikan melihat mereka.
"Ya udah sih, tidak penting acaranya apa, yang jelas kita udah diundang ya kita harus datang."
Ujar Dinda.
"Ya jelas aku mah pasti datang."
Po jelas semangat sekali kalau soal datang ke undangan, apalagi undangan makan dan yang mengundang Kak Flo.
Sudah jelas mereka akan makan besar, dan yang jelas gratis, trus bisa selpi-selpi untuk memenuhi story akun media sosialnya.
"Balqis gimana ya? Kayaknya bakal mau datang nggak?"
Eti bisik-bisik tetangga.
Dinda terlihat melongok keluar pintu kamar untuk melihat kamar Balqis yang terlihat tetap tertutup dan sepi.
"Besok biar aku deh yang ngomong."
Kata Dinda.
"Besok ajak Bang Fajar juga berarti kan?"
Tanya Po.
"Hmm... Bang Fajar apa Bang Fajaaar..."
Eti menarik ujung jilbab Po lagi, yang sontak membuat Po tertawa meskipun wajahnya jadi tersipu malu.
"Traktir makan pokoknya kalau kalian jadian."
Kata Eti.
"Iiikh apaan, Dinda aja tuh yang tadi dibeliin cincin sama Bang Fajar."
Seloroh Po.
"Weeee, cuma cincin imitasi."
Kata Dinda.
"Ya kan sekarang intimidasi, besok kan emas murni."
Kata Po.
Mendengar Po bicara, Eti dan Dinda saling berpandangan, sebelum kemudian akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Imitasiiii Pooo, bukan intimidasiiiiii..."
__ADS_1
Eti dan Dinda kompak meralat.
**---------------**