Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
161. Tidaaaaaak


__ADS_3

Sore menjelang, saat pengunjung mulai berkurang, Albar segera turun dari lantai atas dan bergegas keluar dari cafe bersama Balqis dan teman-temannya.


Albar sendiri keluar dari pintu belakang, menyelinap macam kucing.


Dengan menggunakan topi dan masker, ia berjalan cepat menuju mobil di mana Bang Fajar lebih dulu menunggu di sana.


Sungguh tak disangka, jika masih banyak orang antusias dengan dirinya. Keberadaannya masih menarik perhatian dan bahkan beberapa mengaku fans nya ingin Albar kembali ke dunia hiburan.


Albar setengah berlari ke arah mobil di parkiran dan langsung masuk saat Bang Fajar membukakan pintunya.


Setelah Albar masuk barulah Balqis menyusul dan duduk di kursi yang sama.


Bang Fajar dan Dinda juga masuk ke mobil, Bang Fajar duduk di belakang kemudi, sedangkan Dinda di samping Fajar.


"Eti dan Po ditinggal di cafe, Tio juga."


Kata Dinda.


Cafe memang biasanya menjelang malam nanti akan penuh lagi, jadi Flo membutuhkan tenaga ekstra, tiga orang itu walhasil diterima menjadi pemain cadangan di cafe Flo untuk agar dua pelayan lain bisa ambil libur di akhir pekan.


Bang Zul yang bawa mobil di depan mobil yang dikendarai Fajar akhirnya mobilnya kosong melompong.


"Jur, kamu tahu jalan tidak?"


Tanya Albar meragukan pengetahuan Bang Fajar akan jalan Ibu kota.


Bang Fajar tersenyum miring.


"Hmm... meremehkan aku yang selalu profesional dalam segala hal."


Ujar Bang Fajar.


Albar nyengir.


"Baiklah, tunjukkan padaku Ijo."


Kata Albar lagi.


Bang Fajar pun tancap gas meninggalkan parkiran cafe.


Dinda yang melihat mobil Bang Zul ada di depan mereka dan seperti akan disalip Bang Fajar tampak menabok lengan Bang Fajar.


"Bang, jangan nyalip Bang Zul."


Kata Dinda.


"Lho, kita ini sebentar lagi akan dikejar Papa Razi, Mama Razi, Oma Razi, Opa Razi, dan Cuci, Cicit Razi lainnya. Ini bahaya untuk Albar."


Bang Fajar pasang wajah serius.


Albar geleng-geleng kepala.


"Dia pikir Paparazi itu kepala keluarga kali Qis."


Bisik Albar pada Balqis yang mengulum senyum.


"Pokoknya jangan nyalip, nanti kita tersesat dan menyesatkan."


Dinda wanti-wanti.


"Aduuuuh, iya Nyai... Iyaa..."

__ADS_1


Bang Fajar akhirnya mengalah.


Bagaimana lagi, yang memberikan rambu-rambu sang pujaan hati sanubari, belahan jiwa raga, jadi Bang Fajar lebih baik mengiyakan daripada nanti dapat gugatan.


Mobil akhirnya meluncur dengan tetap menjaga jarak di belakang mobil yang dikendarai Bang Zul.


Hari masih cukup sore sebetulnya, andai saja Albar sudah tak dikenali sebagai Idol, pastinya mampir ke Dufan untuk mencicipi beberapa wahana akan sangat seru.


Sayangnya...


Ah sayang sungguh sayang.


Albar nyatanya pesonanya masih belum luntur dimakan waktu.


Meski telah vakum cukup lama, tapi ia masih saja banyak yang tertarik.


"Jur, kamu tidak ada rencana pulang untuk beberapa hari ke depan kan?"


Tanya Albar tiba-tiba.


Bang Fajar melirik Albar dari kaca yang ada di atasnya.


"Aku kelamaan tidak pulang nanti ayam Aki pada gantung diri gimana Bar?"


"Ya kan ada Bapaknya Teh Inggit."


Kata Albar.


"Ya memang, tapi tidak enak juga terus-terusan diuruskan, soalnya itu kan tanggungjawabku."


Ujar Bang Fajar.


"Memang kalau mau nurutin ingin mah aku maunya pulangnya nanti kalau kalian sudah menikah saja."


"Nah..."


Albar menabok sandaran kursi yang diduduki Bang Fajar.


"Maksudnya gini Jur, besok kan Mami ku pulang ke Indonesia, trus habis itu kita mau ke tempat saudara Balqis yang di Kampung Rambutan, setelah itu kita mau ke Tasik juga, kamu baliknya nanti aja pas kita ke Tasik."


Kata Albar.


"Berarti berapa hari lagi?"


Tanya Dinda nimbrung.


"Sekitar lima harian."


Ujar Albar.


Dinda mantuk-mantuk.


Albar menoleh ke arah Balqis yang diam saja.


"Jangan tegang gitu dong, tiap ngomongin Mami, langsung wajahnya tegang."


Albar menggenggam tangan Balqis yang jadi wajahnya bersemu merah.


"Apa acaranya akan dipercepat Bar?"


Tanya Dinda.

__ADS_1


Albar mengangguk.


"Seperti yang Balqis mau, kita akad dulu, lalu resepsi dengan kerabat dekat saja, untuk resepsi besarnya, nunggu Balqis dan aku sama-sama wisuda."


Kata Albar.


"Ah iya, itu ide bagus, kita apa bisa begitu juga?"


Bang Fajar ke arah Dinda yang langsung menaboknya.


"Mana boleh sama Ibu."


Kata Dinda.


"Lho itu Balqis sama Albar juga bisa, masa kita tidak."


"Kan Albar uangnya udah berlebihan, mau bikin acara sepuluh kali juga tidak apa-apa, kita mah udah sekali aja juga cukup."


Kata Dinda lagi.


Bang Fajar jadi lemas.


"Ah belum nyampe acara, palingan Dinda kecantol cowok lain, secara cowok di UI bermasa depan cerah semua, sementara aku? Masa depanku mendung bahkan gerimis berpetir."


Bang Fajar jadi galau.


Albar menepuk-nepuk bahu Fajar.


"Jangan berkecil hati Jur, nanti kalau aku udah selesai wisuda, balik ke Indonesia ngurus perusahaan, kamu jadi supir pribadiku, nanti biar itu Ayam-ayam Aki, kita cari orang lain ngurusin. Mau gajian berapa kamu? Sepuluh juta? Lima belas juta?"


Ujar Albar, membuat Bang Fajar langsung sumringah.


"Ya sudah, kamu besok wisuda aja Bar."


Jiaaah...


Albar meninju lengan Fajar dari belakang.


"Kamu pikir wisuda kayak beli piscok."


"Hahaha... Ya biar nggak kelamaan."


Bang Fajar tertawa.


"Tapi bagaimana nanti kalau dalam prakteknya sebelum kalian wisuda lalu Balqis hamil?"


Tanya Dinda.


Yang langsung dijawab Balqis dengan cepat...


"Tidaaaaaak..."


Albar menoleh, Dinda juga, Bang Fajar ingin menoleh tapi takut nanti mobil nya malah nabrak.


"Kenapa?"


Albar terlihat sedih.


Balqis nyengir ke arah Albar.


"Segel sampai wisuda."

__ADS_1


Jiaaaaah... Albar tepuk jidat.


__ADS_2