
"Sampaikan salam Mami untuk Tuan Zion."
Kata Mami Albar saat Albar dan Flo menuju Alphard hitam yang dikemudikan Pardi di pelataran rumah.
"Iya Mam nanti disampaikan."
Kata Albar yang kemudian masuk ke dalam mobil disusul Flo.
Flo menutup pintu mobil setelah lebih dulu melambai tangan pada Mami Albar.
"Yuk Cuz."
Kata Flo pada Pardi.
Pardi mantuk siap.
Ia langsung tancap gas dan membawa mobilnya menjauhi Mami yang menatap kepergian anaknya menuju acara jamuan makan malam Tuan Zion dan Tuan Jiro Takashi di restoran mewah milik Alpha Centauri Group.
Ah andai Mami Albar juga bisa menjadi salah satu tamu di sana, pasti Mami Albar akan bisa bertambah kenalan pengusaha besar lagi, yang pastinya kelak bisa lebih menguntungkan bisnisnya.
Mami Albar menghela nafas, tiba-tiba ia ingat perkataan pedas Flo lagi, hatinya macam teriris-iris.
Ah' bagaimana cara Mami menjelaskannya?
Mami Albar mengurut kening, ia sungguh tak tahu jika anak itu adalah anak perempuan, jika saja Mami Albar tahu tentu saja ia tak akan mengirimkan Albar ke tempat Abah Mang Kus.
Mami membawa langkahnya yang gontai menuju rumah.
Bingung rasanya ia memikirkan semuanya, apa yang harus ia lakukan agar Albar jauh dari Balqis? Batin Mami.
Haruskah Mami mengatakan kebenarannya saja? Haruskah? Batin Mami pula.
Di mobil Albar tampak sedang sibuk berbalas chat dengan Balqis yang hari ini sudah mulai sekolah dan semua baik-baik saja.
Albar sungguh bersyukur karena Balqis tetap bisa menjalani kehidupannya seperti biasa setelah banyak peristiwa besar mencoba menghancurkan dinding kehidupannya.
"Balqis?"
Tanya Flo sambil melirik hp Albar karena melihat saudara sepupunya itu terus saja cengar cengir sendiri seperti sisir rusak.
Albar hanya menoleh sekilas pada Flo.
"Yo i."
Sahut Albar singkat saja.
Flo menyandarkan tubuhnya, menatap lurus jalanan Ibu Kota yang sudah mulai diterangi lampu jalanan.
"Perjuangin deh, aku bakal mendukung."
Kata Flo.
Albar menoleh lagi pada Flo.
"Aku yakin di depan sana ada banyak jalan terjal dan berliku, kamu yang musti kuat Bar."
Tambah Flo lagi.
Albar nyengir Flo tampak begitu serius dan tulus.
"Kau makan obat sesuai anjuran dokter Flo hari ini?"
Tanya Albar.
Flo menoleh juga ke arah Albar yang tampak nyengir jahil ke arahnya.
Membuat Flo menabok kepala Albar dengan kesal.
"Sialan, kamu pikir aku sinting apa."
__ADS_1
Omel Flo.
"Hahaha..."
Albar tertawa, ia tentu saja aslinya terharu melihat Flo meskipun tidak jelas tapi selalu ada untuknya.
Sebagai saudara Flo benar-benar selalu ada untuk Albar, sekalipun kadang ia sering menyebalkan dan kasar untuk ukuran perempuan.
"Nanti kalau kau tiba-tiba bertemu seorang Romeo juga katakan padaku Flo, aku akan mendukungmu sepenuh hati."
Ujar Albar.
Flo tertawa kecil mendengarnya.
"Romeo, malas sekali ketemu Romeo, aku tak suka laki-laki bucin, hahahaha..."
Albar juga jadi tertawa.
"Jangan sampai nanti sebelum kamu bertemu seseorang, Mamimu menemukan pria tua kaya raya seperti Datuk Maringgih, hahaha..."
Seloroh Albar.
"Hahahaha... Amit-amit, aku banting langsung kalau sampai dikenalin orang setua itu."
Kata Flo.
"Hahaha... Dasar gila."
Albar ganti menabok kepala Flo.
Albar kemudian merasakan hp nya bergetar lagi karena ada pesan masuk dari Balqis.
Albar meminta Balqis mengiriminya foto dan kini Balqis mengiriminya.
Albar memperlihatkan pada Flo.
"Calon isteri sholihah, kami juga cari dong calon suami sholihah."
Flo tertawa.
"Calon suami sholihah itu yang bagaimana? Laki pakai jilbab? Hahaha..."
"Yeee dibilangin bener."
Albar ngeyel.
"Lah kamu mana ada laki sholihah, cowok yuh soleh, dodol!"
Flo nabok kepala Albar lagi.
**------------**
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih seperempat saat mobil Alphard milik Albar berhenti di pelataran depan salah satu resto mewah di Jakarta.
Flo membuka pintu lalu turun lebih dulu, baru kemudian Albar.
Keduanya disambut seorang laki-laki gagah berpakaian rapi.
"Selamat malam Tuan Dimas."
Sapa Flo memberi salam.
Laki-laki gagah bernama Tuan Dimas itu tersenyum cool, ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Flo dan juga Albar.
"Mari silahkan masuk, langsung bertemu Tuan Zion dan keluarga yang lain."
Kata Tuan Dimas.
Flo mengangguk.
__ADS_1
Pardi membawa mobilnya menuju parkiran.
Flo dan Albar mengikuti Tuan Dimas masuk ke dalam resto mewah itu.
Resto yang kini ditutup untuk umum karena ada jamuan makan khusus itu memiliki desain interior yang sangat elegan.
Dua kali Albar pernah makan di sini sebelumnya bersama Flo, dan baru kali ini akhirnya bisa bertemu dengan pemiliknya.
Tampak di sana dua orang laki-laki kembar berwajah tampan tengah berbincang sembari berdiri di tengah ruangan.
Dua orang perempuan cantik juga mendampingi mereka, yang tak usah dijelaskan pasti sudah bisa dipastikan keduanya adalah isteri-isteri dari Tuan-tuan itu.
Di salah satu meja ada tiga anak muda yang seusia Albar dan juga ada yang seusia Balqis. Dua cewek dan satu cowok, mereka melihat ke arah kedatangan Albar Harrys bersama Flo dan Tuan Dimas yang mengantar mereka.
"Tuan Zion, ini Albar Harrys sudah tiba."
Kata Tuan Dimas pada salah satu laki-laki tampan yang tadi sedang berbincang.
Laki-laki tampan yang dari penampilannya saja sudah cukup mengintimidasi yang melihat itu tampak tersenyum ramah pada Albar dan Flo.
Tuan Zion, begitu namanya. Seorang pengusaha muda yang cukup sering masuk majalah bisnis yang sering Mami dan Papi Albar baca.
Tak disangka, nama besar dengan kekayaan melimpah ruah tak menjadikannya orang yang sombong, ia bahkan tak segan menghampiri Flo dan Albar lebih dulu, dan mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
Flo dan Albar tentu saja menyambut dengan senang hati, suatu kebanggaan pastinya bisa langsung bertemu dan bertegur sapa dengan Tuan Zion.
Setelah cukup beramah tamah dengan Tuan Zion dan juga isterinya, pun juga dengan Tuan Ziyan saudara kembar Tuan Zion, yang juga bersama sang isteri, maka Tuan Dimas ganti membawa Albar dan Flo ke tempat putera-puteri Tuan Zion dan Tuan Ziyan.
"Ini Nona Zizi, puteri satu-satunya Tuan Zion yang besok akan merayakan ulangtahun."
Kata Tuan Dimas.
"Hai, kita seusia, jadi jangan panggil aku Nona, nanti jadi kayak merk susu."
Seloroh Nona Zizi saat menyambut uluran tangan Albar.
Albar tertawa kecil mendengar selorohan anak Tuan Zion.
"Dan ini Tuan muda Ali, dia anak laki-laki Tuan Ziyan."
Kata Tuan Dimas.
Albar menjabat tangan Tuan muda yang super ganteng itu.
Ah untunglah Balqis tak ikut. Batin Albar.
"Nona Eva adalah puteri sulung Tuan Ziyan, kakak Tuan Muda Ali."
Kata Tuan Dimas lagi.
Albar menjabat tangan Eva.
"Boleh saya minta foto bersama dan tandatangan, saya nge fans dengan Mister Albar."
Kata Eva.
Albar tentu saja mengangguk.
**-----------**
NOTE :
Kisah TERJEBAK CINTA SANG IDOL sebetulnya adalah hadiah untuk puteriku BALQIS dan untuk cowoknya yang bernama ALBAR.
Sebuah kisah remaja ringan yang sarat nilai kehidupan dan menyajikan alur sederhana saja.
yang penasaran seperti apa sih Balqis itu, Othor kasih fotonya...
__ADS_1
untuk foto Albar yang asli katanya takut terkenal dianya, huahaahahaahaaaaaaa... Nasib jadi mantu Othor.
Oke gaes... nanti lanjut lagi, othor mau kasih makan kuceng