Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
43. Ada Apa Dengan Adit?


__ADS_3

Balqis dan teman-temannya baru keluar dari parkiran tempat mereka meletakkan sepeda mereka saat kemudian mereka melihat mobil Adit memasuki parkiran sekolah.


Balqis tampak menatap kedatangan mobil Adit, namun Dinda segera merangkul lengannya dan membawa Balqis menjauh.


"Kamu belum bicara sama Po dan Eti ya Qis?"


Tanya Dinda saat jarak antara keduanya dengan Eti dan Po agak jauh.


Po dan Eti sedang sibuk melihat ulasan berita tentang sebuah hotel tema zombie pertama di Indonesia. Belakangan hotel itu begitu viral, banyak orang mengunggah penampakan hotel baru itu di media sosial.


"Aku belum bisa ngomong ke mereka Nda."


Jawab Balqis.


"Kenapa?"


Tanya Dinda.


Balqis terdiam.


"Entahlah, aku ragu saja, khawatir Eti malah akan bereaksi berlebihan."


Kata Balqis.


Dinda menghela nafas.


"Dia malah akan bereaksi berlebihan jika nanti tahunya belakangan dan bukan dari kamu sendiri. Kamu tahu, satu kebohongan akan membuat kebohongan lainnya juga mengikuti, dan itu akan jadi gunung es yang kapan saja bisa runtuh dan menimbun kamu sendiri."


Kata Dinda.


Balqis menoleh pada Eti dan Po di belakangnya.


"Besok saja ya setelah Albar pulang."


Kata Balqis.


"Eti akan marah jika tahu saat Albar sudah pulang, dia ngga bisa menyalurkan keinginannya berfoto dan lain-lain pastinya."


Mendengar itu Balqis jadi merasa simalakama.


Balqis menghela nafas.


"Ya baiklah, nanti aku akan bicara pada Eti."


Kata Balqis akhirnya.


Dinda mengangguk.


"Ini demi kebaikanmu sendiri Qis."


Kata Dinda pula.


Mereka baru akan masuk kelas, saat kemudian seorang kakak kelas memanggil Balqis.


"Diminta ke kantor Guru Qis, Bu Ririn manggil."


Kata Kakak kelas pada Balqis.


Balqis menitipkan tas nya pada Dinda.


"Aku ke kantor Guru dulu."


Kata Balqis.


Dinda mengangguk.

__ADS_1


"Kayaknya Bu Ririn bakal ngga masuk kelas lagi nih."


Kata Eti mendekati Dinda yang kemudian berjalan masuk kelas sama-sama.


"Aku mau minta kakak ku ngajak ke sana ah."


Kata Po tiba-tiba sambil mendahului Eti dan Dinda lalu menuju bangkunya.


"Apaan sih?"


Tanya Dinda yang ketinggalan berita.


"Itu hotel baru yang lagi banyak diposting di media sosial, katanya minggu ini pertama dibuka, udah kayak tempat wisata aja, temanya zombie sama hantu-hantu gitu."


Tutur Eti.


"Ah serem banget, masa ada hotel kayak gitu."


"Hmm ngga percaya, kasih lihat Po."


Kata Eti yang kemudian duduk di bangku belakang Po dan meletakkan tas Balqis yang diberikan Dinda padanya di bangku sebelah Eti duduk.


Po memberikan hp nya pada Dinda.


"Ini Nda."


Kata Po.


Dinda menatap layar hp Po.


Tampak foto-foto bangunan hotel yang mirip gedung hantu.


"Ikh serem lah, aku mah ogah dibayarin juga tidur di situ."


Kata Dinda.


Kata Po semangat.


"Aku udah minta Kak Zul pesenin aku kamar satu yang tema vampire."


Kata Po.


"Jiaaaah dia malah milihnya vampire."


Seloroh Eti.


"Biarinlah, kalo pocong sama kunti terlalu serem, hahahaha..."


Po tertawa. Dinda dan Eti jadi ikut tertawa.


Sementara itu, Balqis tampak masuk ke dalam kantor Guru dan langsung menuju meja Bu Ririn.


Bu Ririn masih tampak sibuk menyiapkan beberapa lembar soal, Balqis dimintanya duduk menunggu.


Saat Balqis mengambil tempat untuk duduk di dekat meja Bu Ririn, tampak Bang Adit keluar dari ruang kepala sekolah membawa dua map kertas.


Balqis dan Bang Adit sejenak bertemu pandang.


Balqis baru akan berdiri untuk memberi salam, namun Bang Adit yang kini posisinya sebagai Guru di sekolah tak biasanya terlihat cuek pada Balqis.


Jangankan melempar senyuman atau menyapa, melihat saja hanya sekilas itu lalu langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.


Balqis tampak diam. Antara sedih dan juga kecewa. Namun juga harus bagaimana, Balqis tentu tak punya keberanian untuk mengajak bicara lebih dulu, apalagi saat ini posisi Balqis di sana adalah seorang murid dan Bang Adit adalah Guru.


Balqis menunduk, lalu memilih diam menunggu Bu Ririn selesai menyiapkan lembar-lembar soal untuk nanti Balqis bagikan di kelas.

__ADS_1


**---------**


Adit menghela nafas, perasaannya tak nyaman saat melihat Balqis akhirnya keluar dari kantor Guru tanpa menoleh ke arahnya lagi.


Adit bingung mengekspresikan perasaannya pada Balqis saat ini.


Jujur ia cemburu sekali saat Bara sampai datang ke sekolah hanya untuk menjemput Balqis pulang.


Apalagi dia sampai rela membelikan mobil baru untuk Balqis juga.


Ah tentu saja, Bara bukanlah tandingan untuk Adit.


Adit tahu dan sangat sadar diri soal hal itu.


Kelas sosial Bara sangat jauh dibandingkan dirinya yang hanya sekedar orang kampung.


Banyak yang bilang keluarga Adit sangat kaya, tapi nyatanya jika dibandingkan Albar yang beli mobil semahal itu saja katanya cukup diberikan pada juragan Ayam, jelas berarti dia bukan sekedar kaya, apalagi jika perbandingannya dengan orang kampung semacam Adit dan keluarganya.


Adit menatap nanar buku di depannya.


Ia seharusnya fokus menyiapkan materi pelajaran untuk kelasnya satu jam lagi, tapi nyatanya, melihat Balqis membuat perasaan dan otaknya kini tak karuan.


"Pak Adit, mau dibuatkan kopi?"


Tanya Bi Yayah pemilik kantin sekolah yang baru saja mengantar pesanan soto untuk sarapan Pak Khafid, sang wakil kepala sekolah.


"Oh makasih Bi, nanti saja, tadi saya sudah sarapan di rumah."


Kata Adit.


Bi Yayah mengangguk santun, lalu permisi pada semua Guru.


Adit kembali ke pekerjaannya, memikirkan Balqis membuatnya jadi lupa tugas utamanya di sekolah.


Balqis sendiri juga sama, terus memikirkan Bang Adit.


Memikirkan perubahan sikapnya yang jelas ketara sekali.


Balqis sungguh tak enak, tapi mau bagaimana lagi.


Nasi sudah jadi bubur.


Bukan hanya soal pulangnya Balqis yang lebih memilih dengan jemputan Albar, namu juga pastinya kabar soal perjodohan Balqis dan Albar pula yang akhirnya jadi membuat hubungannya dengan Bang Adit akan berbeda.


Balqis menghela nafas.


Ia tampak berjalan gontai dan tak bersemangat membawa lembar-lembar soal dari Bu Ririn menuju kelas.


Semua karena Albar, tapi Balqis juga sekarang tak bisa marah pada Albar. Aneh memang, tapi begitu adanya. Perasaannya pada Albar nyatanya semakin hari semakin aneh.


Berbeda dengan pada Adit yang timbul karena Balqis sangat mengagumi sosok Bang Adit yang begitu sempurna sebagai laki-laki.


Dengan Albar semua mengalir saja seperti air sungai yang tiba-tiba bermuara pada satu titik.


Balqis bahkan masih bingung dengan hatinya hingga saat ini.


Tapi yang jelas, Balqis tak bisa memungkiri jika hidupnya jadi semakin berwarna begitu ada Albar di rumah Aki.


Sikapnya yang selalu ada-ada saja, bicaranya yang ceplas-ceplos, gayanya yang aneh, dan semua keabsurdan Albar, nyatanya justeru membuat Balqis kadang jadi tersenyum sendiri tatkala tak sengaja mengingatnya.


Bagai bumi dan langit dengan Adit yang seolah seperti selalu sempurna untuk banyak hal, Albar justeru seolah tak punya kelebihan tapi entah kenapa lama-lama ia begitu menarik bagi Balqis.


**----------**


Albar Harrys versi Othor... hehe

__ADS_1



__ADS_2