
Sarapan hari ini adalah sarapan yang paling heboh di rumah Albar. Bukan hanya karena menu sarapannya, namun juga peserta sarapan yang luar biasa semangat.
Ya, semangat makan, semangat bercanda dan juga semangat menggoda Balqis dan Albar untuk bolak balik diminta berfoto berdua.
"Latihan foto bareng, biar nanti pas jadi pengantin enggak kagok."
Seloroh Eti.
Balqis dan Albar yang memang menikmati sarapan mereka dengan duduk bersebelahan jadi tampak gugup dan salah tingkah.
Hingga jam sudah hampir jam delapan pagi, ketika Pardi masuk ke dalam rumah dan bertanya apakah Tuan mudanya itu akan berangkat sekarang.
Albar pun menatap Balqis, berat rasanya ia beranjak dari sana, pun juga begitu dengan Balqis yang seperti ingin menahan lengan Albar agar jangan pergi.
Tapi...
Flo berdiri dari duduknya.
"Yuk Qis, aku temani mengantar Albar ke bandara."
Kata Flo.
Balqis mengangguk pelan. Ia pun berdiri dari duduknya, namun begitu sudah hampir berdiri Balqis seperti sedikit terhuyung hingga Albar harus segera menahan tubuh Balqis agar tak sampai limbung.
"Kamu kenapa?"
Tanya Albar cemas.
Flo dan yang lain juga sama, mereka semua menatap Balqis yang jadi menangis.
"Aku nggak apa."
Kata Balqis lirih.
Albar menatap Flo seolah ia bingung harus bagaimana.
Flo akhirnya menghampiri Balqis.
"Kamu sepertinya kurang sehat Qis, mungkin lebih baik istirahat saja."
Balqis menatap Albar yang matanya kini terasa panas.
"Aku ingin mengantar Albar sampai bandara Kak."
Ujar Balqis.
Flo memandang Albar seraya menggelengkan kepalanya pelahan seolah memberi isyarat jika lebih baik Balqis tak usah ikut dengan kondisi demikian.
Albar yang paham maksud dari isyarat yang diberikan Flo akhirnya meraih tangan Balqis.
"Kamu rehat saja Bal, nggak apa nggak usah diantar, nanti aku akan kasih kabar kalau sudah sampai di Perth, yah."
Albar menatap lekat-lekat wajah kekasih hatinya.
Balqis menatap Flo yang mengangguk seolah mendukung keputusan Albar.
"Nanti setelah aku mengantar Albar, kita ke dokter, kamu mungkin kecapaian dan kurang tidur. Istirahatlah lebih dulu."
Ujar Flo pada Balqis.
Lalu Flo menoleh pada Dinda dan yang lain agar membantu Balqis menuju kamarnya untuk istirahat.
Flo juga memanggil Bi Tuti untuk membuatkan air madu untuk Balqis.
__ADS_1
Albar yang tak tahan akhirnya memilih beranjak dari sana, memantapkan langkahnya keluar rumah dan segera menuju mobil.
"Aku antar Albar dulu, kamu rehat ya."
Kata Flo lagi pada Balqis.
Ia berusaha memastikan jika Balqis akan menuruti sarannya untuk istirahat saja.
Balqis mengangguk.
"Bilang pada Albar agar hati-hati Kak."
Lirih Balqis.
Flo mengangguk.
"Iya, tenang saja."
Ujar Flo tersenyum.
Ah dua anak manusia itu, seperti tak ingat jika setahun silam hampir membuat Flo kepalanya seperti mau pecah gara-gara menengahi keduanya, tak disangka sekarang mereka malah benar-benar akan menikah.
Flo melambaikan tangan pada Balqis dan ketiga temannya sambil sedikit berlari menyusul Albar yang kini sudah berada di dalam mobil.
Sesampainya di dalam mobil tampak Albar sedang mengirimkan sebuah video ke nomor Balqis.
Flo duduk di samping Albar.
"Yuk Bang Pardi."
Kata Flo.
Bang Pardi mengangguk, lalu langsung tancap gas.
Tanya Albar pada Flo.
Tampak Flo mengangguk.
Flo jelas tak mau Albar nantinya tak tenang begitu meninggalkan Indonesia, sekarang saja melihat wajahnya sudah ketahuan bagaimana berkecamuknya perasaan Albar harus pergi di kala Balqis terlihat tak sehat.
"Ia hanya kelelahan, semalam pasti dia kurang tidur, sementara aku datang saja dia sudah bebenah dan masak pula."
Kata Flo menenangkan Albar.
"Nanti aku ajak ke dokter kalau sudah mendingan, aku akan belikan dia vitamin."
Lanjut Flo lagi.
Albar mengangguk.
"Thanks Flo, aku mengandalkan mu."
Ujar Albar.
**------------**
Balqis duduk di atas tempat tidur sambil dikelilingi teman-temannya. Tampak Balqis melihat hp nya.
Pesan dari Albar sudah masuk, dan kini ia menangis melihat video yang dikirimkan Albar itu.
Ya, video yang dibuat Albar semalam di studio musiknya, di mana ia menyanyikan lagu payung teduh yang berjudul Akad.
"Jodoh nggak akan ke mana Qis, kami yakin kalian berjodoh Qis."
__ADS_1
Kata Eti yang tampak merangkul bahu Balqis.
Dinda dan Po terdengar mengaminkan.
"Sekarang, yang penting adalah kamu istirahat agar tidak sakit agar Albar di sana juga jadi tidak khawatir."
Kata Dinda.
Balqis mengusap air matanya dengan telapak tangan.
Po meraih kotak tissue yang ada di meja rias Balqis lalu meletakkannya di depan Balqis.
"Terimakasih teman-teman, aku nggak tahu kalau nggak ada kalian, selama ini sungguh aku bisa selalu baik-baik saja karena kalian bersamaku. Allah menjadikan kalian hadiah buat aku, terimakasih."
Kata Balqis.
Mereka pun berpelukan macam Teletubbies.
Sementara itu pesawat yang ditumpangi Albar telah membawa sang idol terbang jauh ke negeri seberang.
Menuju rumahnya yang lain, menuju perjuangan yang lain untuk mendapatkan restu sang Mami dan menyelesaikan apa yang sudah dia janjikan.
Albar menatap awan di langit dari kaca pesawat, tampak awan di sana begitu indah dan menawan.
Albar jadi ingat lagu Bang Katon Bagaskara yang berjudul Negeri Di Awan.
Ah yah, Balqis juga begitu, ia bak peri yang datang ke dalam kehidupan Albar untuk membawa semua keajaiban dan keindahan yang tak terkira..
Albar kemudian ingat kotak pemberian Balqis.
Albar pun segera mencarinya di dalam tas ransel miliknya, Albar mengeluarkannya, menatapnya sebentar sambil tersenyum mengingat bagaimana rona merah di pipi Balqis setelah memberikannya pada Albar.
Albar pelahan menarik pita pada kotak yang dibungkus kertas warna biru cantik itu, lalu dengan hati-hati membuka bungkusnya.
Sebuah gelang kayu tampak ada di dalam kotak itu dengan kertas yang dilipat rapi di sisinya.
Albar meraih gelang kayu tersebut, lalu segera memakainya.
Setelah itu Albar meraih kertas yang dilipat di sisi gelang tersebut, tampak pada kertas itu tulisan tangan Balqis yang bagus dan rapi.
Albar,
Mungkin ini hanyalah hadiah yang tak seberapa bagimu, hanya gelang kayu yang tentu kamu bisa membelinya langsung dari Turki kapan pun kamu mau.
Tapi,
Ketahuilah Albar, gelang ini dulu diberikan Almarhum Abah Kus pada Aqis sebulan sebelum beliau meninggal.
Kata Abah Kus, gelang itu, gelang kayu Kokka asli dari Turki adalah hadiah dari majikannya saat masih bekerja, dan Aqis rasa itu adalah Almarhum Papi Albar.
Aqis ingin Albar memakainya sekarang, selama ini Aqis hanya simpan saja, entah mungkin ini takdir kita bertemu dan akhirnya gelang ini bisa sampai di tangan Albar.
Pakailah Albar, dan mari kita maafkan masa lalu untuk bisa menatap masa depan yang lebih baik.
Maafkan Aqis yang sempat emosi dan marah, bahkan membencimu, padahal Aqis selama ini mengaji di Ustadzah Nur, bahwa sesungguhnya rezeki, jodoh dan maut adalah dari Allah.
Tapi nyatanya, mengetahui masa lalu orangtua kita justeru Aqis tak bisa menerapkan ilmu itu dan malah lebih fokus menyalahkan.
Maaf Albar, sekali lagi maafkan Aqis. Ingat selalu pesan Aqis selama Albar di Perth
Dari Aqis untuk Albar
❤️
__ADS_1
**------------------**