Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
114. Menjelang Berpisah


__ADS_3

Beni yang sejak pagi terlihat tak nyaman dan kecewa karena kedatangan teman-teman Balqis sementara Balqis sendiri tak ikut serta, maka Beni pun memilih pergi saja dari rumahnya untuk jalan-jalan.


Bang Zul sendiri sampai harus bolak balik meminta maaf atas keputusan sepihak adiknya dan teman-temannya itu.


Namun, meski Beni sekilas seolah mengiyakan permintaan maaf Bang Zul itu, nyatanya tetap saja sikapnya terlihat sangat dingin dan acuh tak acuh.


"Sudah selesai belum sih? Ini sudah siang lho."


Kata Bang Zul mengingatkan.


"Iya Bang, sebentar, lagian katanya Bang Zul hari ini cuti."


Kata Po yang sudah selesai memasukkan bajunya ke dalam tas pakaian, dan juga buku-buku yang ia bawa, termasuk juga laptop.


"Ini sudah? Bang Zul bawa ke mobil."


Ujar Bang Zul.


"Okey."


Po mengacungkan ibu jarinya.


Bang Zul segera membawa tas pakaian dan tas milik sang adik yang berisi buku-buku dan lainnya.


"Nda, yang punya Balqis udahan belum?"


Po melongok di ambang pintu kamar yang semula akan ditempati Dinda dan Balqis.


"Sudah sama Bi Tuti, ini tinggal punyaku."


Kata Dinda yang sedang sibuk menyelesaikan acara bebenahnya dibantu Bi Tuti.


"Oh ya udah, aku bantuin Eti aja deh."


Kata Po.


Dinda mengangguk setuju.


Po masuk ke dalam kamarnya, tampak Eti sedang sibuk bicara dengan hp nya.


Sapa yang nelfon? Batin Po sambil melihat Eti yang ngobrol di hp dengan akrabnya.


Po berjongkok lalu meneruskan bebenah Eti yang tinggal memasukkan beberapa buku saja.


"Hahaha... iya bener... bener."


Kata Eti sambil kemudian cekikikan mencurigakan.


"Tapi kayaknya sih amanlah, aku yakin sih."


Eti terdengar bicara lagi, sebelum kemudian kembali tertawa.


"Oh baik... siap, siap."


Dan, panggilan berakhir.


Eti cekikikan, lalu memandang ke arah Po yang memandanginya dengan heran.


"Siapa sih? Siap, siap, kayak pramuka aja."


Kata Po begitu Eti sudah mengakhiri obrolannya.


"Kak Flo."


Eti duduk di atas lantai dekat Po jongkok sambil memasukkan buku terakhir milik Eti ke dalam tas dan kemudian menutupnya.


"Kak Flo memang kenapa?"


Tanya Po.

__ADS_1


"Kita diminta datang ke cafe setelah bebenah barang kita selesai."


Sahut Eti.


"Lho ada apa?"


Po bingung.


Kenapa rencananya yang semula akan pulang lalu makan dan tidur lagi malah jadi berubah.


"Kata Kak Flo, kan besok Albar balik ke Perth, jadi lebih baik biarin Albar dan Balqis berdua saja di rumah."


Tutur Eti.


"Lha berdua saja nanti yang ke tiga setan gimana?"


Po menatap Eti ragu.


"Haiiiish... setan apaan, kan di sana ada Bang Pardi dan juga penjaga rumah. Lagian Balqis dan Albar bukan pertama kali tinggal serumah dan hanya berdua saja, sebelumnya di rumah Aki kan juga mereka sering berdua saja, tapi aman saja, mereka tahulah batasannya."


Ujar Eti.


"Kata Kak Flo, kita cuma kasih waktu buat mereka ngobrol dari hati ke hati saja, barangkali juga ada banyak hal yang masih mengganjal di hati, unek-unek yang masih mengganggu perasaan masing-masing, pokoknya ya biar besok saat Albar balik ke Perth, baik Albar maupun Balqis setidaknya sudah sama-sama lega."


Jelas Eti panjang lebar.


"Oooh gitu."


Po mantuk-mantuk.


Eti kemudian mengangkat tas pakaiannya sendiri, lalu segera membawanya keluar rumah untuk diberikan kepada Bang Pardi.


**---------------**


Albar dan Balqis setelah makan akhirnya mampir ke swalayan yang tak jauh dari komplek perumahan Albar.


Mereka belanja bahan masakan untuk empat hingga lima hari ke depan.


Sambil Balqis memilih bahan, tampak Albar pun setia menemani sambil mendorong troli belanja.



"Sayur di mana ya?"


Gumam Balqis sambil celingak-celinguk lalu melangkah mendahului Albar.


Hingga kemudian Balqis menemukan bagian sayur mayur dan buah-buahan.


"Besok mau dibawain bekal ngga?"


Tanya Balqis pada Albar yang terlihat malas sekali untuk menjawab.


Ya tentu saja, rasanya membayangkan ia akan pergi besok membuat Albar jadi lemas.


"Kalau mau dibikinin bekal, Balqis akan masakkan."


ujar Balqis.


"Udahlah Bal, jangan bahas keberangkatan aku duluan."


Kata Albar.


Balqis jadi tersenyum.


Ya sebetulnya Balqis juga enggan membicarakannya.


Balqis bahkan berharap jika esok tak terlalu cepat datang, agar waktunya bersama Albar masih cukup banyak tersisa.


__ADS_1


"Bal, ini aja nih, wortel buat bikin jus, mataku sudah mulai sering rabun sendiri."


Kata Albar


Balqis hanya tertawa mendengarnya.


"Habis ini ke bagian daging ya Bar."


Kata Balqis.


Albar mengangguk.


Balqis mengambil beberapa jenis sayuran dan juga buah yang akan mereka beli.


Ada bayem, ada kangkung, ada sawi...


Ah melihat sawi, Albar pun langsung ingat mie instan rebus buatan Balqis.


Albar mendekati Balqis yang kini memegangi sayuran yang ia pilih sambil memilih yang lain lagi.


"Bal, lihat sawi jadi pengen mie instan."


Kata Albar.


Balqis menoleh pada Albar yang cengar-cengir.


"Katanya tadi malam kurang tidur karena begadang di warkop makan mie instan sama ngopi."


Ujar Balqis.


"Ya kan pengin kamu yang bikin, udah setahun lebih kan aku ngga makan mie instan? Nggak apalah kalau makan langsung dua, hehehe..."


Mendengar permintaan Albar yang sangat mudah itu akhirnya Balqis mengangguk.


"Iya nanti dibikinin, tapi kamu belum makan nasi dari pagi, kalau makan mie nanti kenyang nggak makan lagi."


Balqis khawatir.


Albar menggeleng.


"Nanti malam aku makan kalau kamu masak."


Kata Albar.


"Tapi kalau kamu nggak capek, kalau capek masaknya besok saja."


Tambah Albar pula.


"Iya."


Balqis kemudian mengambil sayuran lain, setelah itu baru ia akan memilih daging untuk nantinya ia ingin membuatkan dendeng untuk bekal yang bisa dibawa Albar ke Perth.


Dendeng sapi akan cukup lama bertahan dan bisa Albar makan meski sudah sampai di Perth nanti.


Ya paling tidak, Balqis ingin saat mereka berpisah lagi, Albar tak merasa seperti kepergian sebelumnya.


Balqis ingin Albar merasa Balqis tetap ada bersamanya, meskipun kenyataannya mereka akan berada di tempat yang cukup jauh.


Albar sendiri terus mengamati Balqis memilih sayuran, Albar merasa kelak Balqis bukan hanya jadi isteri yang baik, namun juga Ibu yang baik.


Kau tahu? Jika perempuan bukan hanya tentang mereka bisa baik menjadi diri pribadi, namun juga baik untuk menjadi pendidik bagi anak-anaknya.


Ibu adalah cermin bagi anak-anak mereka. Bagaimana mereka melihat lingkungan, bagaimana mereka menjalani hidup, bagaimana mereka mengatur uang, bagaimana mereka memilih teman pergaulan, bagaimana mereka menghadapi masalah, anak-anak melihat dan meniru dari sang Ibu.


Maka, memang sebagai laki-laki, memilih perempuan bukan hanya untuk menjadi isteri, namun juga menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.


Sama halnya perempuan, yang bukan hanya memilih laki-laki hanya untuk dirinya sendiri, namun juga yang kelak bisa jadi ayah yang baik dan bertanggungjawab untuk anak-anak mereka.


Pernikahan, pada dasarnya bermakna sangat luas, karena dari sanalah akan banyak kehidupan mahluk baru dimulai, yaitu anak-anak.

__ADS_1


Butuh modal yang lengkap. Materi, mental dan ilmu.


**-----------**


__ADS_2