
Pukul setengah tujuh pagi, sebuah mobil kijang keluaran lama itu berhenti di depan rumah Aki.
Suara sorak sorai Dinda, Eti dan Po langsung terdengar membahana. Balqis terburu-buru menyambar tas sekolahnya di kamar dan memakai sepatu satu-satunya untuk sekolah.
Albar kemudian tampak mengikuti Balqis keluar.
"Aku berangkat."
Kata Balqis pada Albar.
Albar malas menyahut, ia hanya menatap Balqis yang bergegas keluar rumah, lalu masuk bergabung dengan ketiga sahabatnya yang sudah heboh menunggu.
Kepala mereka yang melongok dari kaca mobil yang dibuka membuat Albar bisa melihat dengan jelas jika mereka begitu bersemangat berangkat ke sekolah hari ini dengan mobil bersama Adit.
Tint!
Adit membunyikan klakson lalu dari kaca mobil yang dibiarkan terbuka juga, Adit melambai pada Albar untuk permisi.
Albar hanya nyengir ala kadarnya, takut dikira sombong padahal iya, wkwkwk...
Albar jadi ingat semua yang diceritakan Fajar soal Adit lagi.
Bagaimana hebatnya keluarga Adit dari jaman Kakek Buyutnya, lalu kakeknya, lalu orangtuanya, dan juga Adit sendiri.
Juara ini, juara itu, juara anu, apalah, apalah, sementara Albar ikut ajang pencarian bakat saja tereliminasi, hihihi...
Tapi...
Hmm...
Albar tersenyum miring.
Albar menatap tajam ke arah mobil Adit yang kini sudah cukup jauh dan hilang dari pandangan begitu sampai tikungan sana.
Lalu Albar beralih pada sepeda Balqis yang ia baru belikan.
Sepeda berwarna magenta itu hari ini libur tak mengantar tuan putrinya bersekolah karena kedua lutut Balqis terluka, yang akhirnya bisa membuat Adit memiliki alasan untuk menjemput Balqis berangkat ke sekolah hari ini, dan yang pasti juga pulangnya akan diantar lagi.
Albar mondar mandir di teras dengan kedua tangan ke belakang.
Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk membuat si Medit itu tidak lagi bisa bolak balik antar jemput Balqis sampai lutut Balqis sembuh dan bisa-bisa akan keterusan sampai seminggu, sebulan, setahun dan sampai Balqis lulus.
Albar kemudian masuk ke dalam rumah, si Cimot yang baru selesai makan dan dilepas dari kandang tampak berlarian ke sana kemari mengejar serangga.
Albar menuju kamarnya di loteng, mencari hp. Lalu...
🎶Angkat aku ganteng... angkat aku ganteng🎶
Terdengar suara hp Fajar yang narsis dan memicu keinginan orang lain untuk membantingnya jika mendengar.
Fajar yang sudah khusuk di kios Ayamnya di pasar langsung meraih hp nya.
"Baiklah Babang ganteng angkat dong sayang."
Kata Fajar.
Lalu dia melihat nama Bara di layar hp.
Jiaaah, dia lagi dia lagi. Batin Fajar.
"Yaaah, ada apa gerangan?"
Tanya Fajar begitu mengangkat telfon Albar. Meski kadang kalau bicara dengan Albar perut suka mendadak terkena gangguan pencernaan dan tiba-tiba juga bisa sembelit, toh tetap saja Fajar tak pernah bisa menolak teman barunya itu.
Yah teman baru yang sepertinya sultan kota dengan saldo rekening tanpa batas ruang dan waktu.
__ADS_1
Kalau kata salah satu Ceo dalam sebuah drama, orang yang ngaku kaya tapi tahu saldonya berapa berarti duitnya masih terbatas, karena buat mereka yang kaya pake kebangetan, uang nambah tiap detik jadi jumlah rekening bertambah dan berkurangnya tak tahu.
Wah, apalah arti saldo rekening Fajar yang cuma baru sembilan juta delapan ratus dua puluh delapan ribu dua ratus tiga puluh lima rupiah itu. Hihihi...
"Jur, ke sini gih."
Kata Albar tampa basa basi.
"Hah, maksudmu gimana?"
Fajar jadi keder.
"Kamu ke sini Jur."
Kata Albar mengulang.
"Iya aku enggak bolot, aku tahu kamu nyuruh aku ke situ."
"Lha tadi nanya maksudnya gimana."
"Maksudnya kamu nyadar enggak jam berapa sekarang."
"Sadarlah, enggak sadar berarti aku pingsan."
Sahut Albar.
Hiiiih... Gemes aku tuh pengin nyekek. Batin Fajar sambil meraih satu ekor ayam jualannya lalu mencekek leher si ayam buat ganti.
"Bang Fajar, itu ayam salah apa, udah mati masih aja dicekek."
Kata Seorang emak penjual lombok yang sebelahan persis dengan tempat jualan Fajar.
Fajar nyengir keki, lalu meletakkan ayam itu lagi di meja.
"Aku tuh lagi jualan Ra, berkarir, mengais rejeki untuk bertahan hidup karena tabunganku enggak bisa nambah dengan sendirinya, jangankan perdetik, perminggu saja belum tentu."
"Iya aku tahu, nanti aku ganti. Berapa sehari kamu dapat? Sejuta, dua juta, lima juta?"
Tanya Albar seenaknya.
Hadeeeh ini anak sultan satu, tidak tahu tata krama pada orang miskin.
Fajar menghela nafas.
"Juta juta apa sih Ra, juta benJUT raTa?"
Kesal Fajar.
"Ya makanya bilang aja pemasukan kamu berapa? Atau itu kamu tadi ambil berapa ayam di Aki? Nanti aku yang bayar."
Kata Albar.
"Tapi ini sayang kalau ngga dijual, nanti basi seperti basa."
"Kamu masak aja nanti, trus aku minta satu rantang."
Sahut Albar.
"Yang digoreng tapi, Cimot suka yang digoreng. Dia ngga makan opor."
(Apa banget kucing makan opor. Kayak Othor nih, kasih opor ke kucing jadi kucingnya diare)
"Ya okelah, ada apa sih memangnya?"
Tanya Fajar akhirnya.
__ADS_1
Ia kesal tapi tetap saja tak bisa marah pada Albar karena ia tahu memang kelakuan Albar itu ya sebelas dua belas sama Sinchan, jadi maklumin sajalah.
"Aku perlu di anterin ke satu tempat."
"Ke mana?"
Tanya Fajar curiga.
Hmm jangan-jangan dukun. Batin Fajar.
"Udah ke sini dulu aja, baru nanti aku kasih tahu."
"Kasih tahu atau kasih tempe? Ya nanti aku tetap harus pulang abis dzuhur Ra, aku nungguin pelanggan, kalo dia pindah lapak, mati aku."
Albar melihat jam, baru jam tujuh. Yang benar saja seorang Albar disuruh menunggu hingga dzuhur yang masih berjam-jam lagi.
Tidak bisa!
"Ya udah aku ke pasar saja."
Kata Albar lalu mematikan telfonnya.
Fajar yang keder langsung menelfon balik.
"Apa?"
Tanya Albar.
"Iya iya... aku ke sana. Aku beresin dagangan dulu."
Kata Fajar pasrah.
"Nah gitu kan enak."
Albar tersenyum lebar.
**----------**
Yah senyuman lebar itu juga terbit di wajah laki-laki paruh baya keturunan Tionghoa yang ramah tamah sumringah karena Albar datang ke dealer mobilnya yang baru saja buka dan kemudian menunjuk satu mobil paling mahal di dealer miliknya itu.
"Serius Tuan pilih yang ini?"
Tanya laki-laki sang pemilik dealer pada pelanggannya yang wajahnya ditutup masker dan kacamata hitam.
"Yah hari ini aku ambil satu, besok aku mungkin akan beli pick up satu juga."
Albar tersenyum di balik maskernya.
Si pemilik dealer sampai melongo.
"Cepet urus prosesnya, jangan lama-lama, nanti aku pindah ke dealer lain."
Kata Albar.
"Oh iya Tuan, iya..."
Albar kemudian berjalan menuju satu set kursi yang ada di dealer itu.
Sambil menunggu pemilik dealer mengurus surat-surat mobil, Albar main games saja di hp.
Fajar yang mengantar dan mendampingi Albar terus menerus jadi heran dengan Albar yang sepertinya hobi buang uang.
Apa dia hidupnya dari orok seperti itu?
Jangan-jangan saat masih jadi janin udah asal nunjuk ini itu buang duit. Batin Fajar.
__ADS_1
**------------**