
Balqis sedang mendengarkan Albar bicara soal bagaimana suasana kuliahnya di Perth, dan juga bagaimana sistem belajar di luar negeri, ketika kemudian beberapa pelayan tampak berjalan tergesa menuju ke ruang depan, diikuti Nanny si kepala pelayan rumah.
"Nyonya besar tiba."
Kata Nanny ketika melewati ruangan dimana Balqis dan Albar duduk berbincang sambil menikmati suguhan salad buah.
Mendengar Nyonya besar tiba, Balqis yang semula sedang tertawa-tawa mendengarkan cerita Albar sambil makan buah langsung tersedak.
Uhuk... uhuk... Uhuk...
"Hati-hati Bal."
Kata Albar menepuk lembut punggung Balqis yang cepat meraih air minumnya.
Balqis meneguk air minumnya sambil berusaha meredakan batuknya, manakala dari ruang depan terlihat seorang wanita cantik melangkah dengan anggun didampingi Nanny dan pelayan lain yang membawakan tas milik sang Nyonya.
Wanita yang rambutnya yang baru dipotong sebahu, dengan celana hitam panjang dan juga atasan blues warna magenta itu tampak elegan dengan sepatu high heels dan juga kacamata hitam yang baru saja dilepas begitu masuk ruangan keluarga.
"Mam."
Albar terdengar menyapa.
"Oh... Oh... My Son."
Mami Albar merentangkan kedua tangannya seraya menghampiri sang putra.
Memeluk Albar dan mencium pipi Albar kanan kiri.
"Son... Son... Aja kaya kuwe Sooon."
Albar malah menirukan dialog di sinetron Tuyul Dan Mbak Yul.
"Ugh kamu ini."
Pok!
Mami menabok lengan Albar.
Albar nyengir sambil mengusap lengannya yang kena tabok.
Balqis di tempatnya berdiri terlihat begitu gugup.
Dan ketika akhirnya tatapan Mami Albar terfokus ke arahnya, Balqis langsung tampak berusaha setenang mungkin tersenyum dan membungkuk memberi salam.
"Jadi ini yang namanya Balqis?"
Mami Albar tampak menatap Balqis.
Sebetulnya tatapan yang biasa saja, tapi tetap berhasil membuat Balqis kedua kakinya tak bertulang.
Mami Albar mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman, Balqis yang sampai lupa menyalami calon mertuanya itu langsung menyambut uluran tangan itu.
__ADS_1
Menjabat tangan itu dengan erat dan kemudian mencium punggung tangannya.
Mami Albar tampak tersenyum melihat Balqis begitu gugup.
"Balqis, santai saja, tidak usah gugup, Mami tidak makan orang."
Kata Mami Albar ketika jabat tangan mereka terlepas.
Balqis yang mendengar Mami Albar bicara begitu jadi nyengir.
"Ayo duduk, Mami capek banget baru sampai langsung diminta ketemu dengan beberapa pemegang saham Alpha."
"Mami ada saham di Alpha juga?"
Tanya Albar.
"Lah kamu ini, ya harus ada dong, kita itu pengusaha harus sebaik mungkin melihat peluang mana saja yang bisa memperoleh keuntungan. Tuan Zion bahkan memiliki hampir tiga puluh persen saham di perusahaan kita."
Kata Mami.
Albar menggelengkan kepalanya.
"Apa dia berencana membuat hartanya tak habis sampai tujuh belas turunan?"
Gumam Albar heran.
"Kamu harus berguru padanya, dia juga menikah muda lho, dulu kalau tidak salah dia menikah saat usianya masih dua puluh empat tahun."
Ujar Mami Albar.
Tanya Albar.
"Hmm Mami kayaknya menikah hampir dua puluh sembilan."
Kata Mami.
"Tapi Tuan Zion menikah muda bisa tetap jalani karirnya dengan baik ya Mam?"
Kata Albar.
"Nah makanya, Mami ingin kalian juga begitu."
Kata Mami.
Lalu...
"Balqis jadi kuliah di UI kan?"
Tanya Mami.
Balqis mengangguk.
__ADS_1
"I... iya Tante."
Mami mengerutkan kening.
"Lho kok tante? Mami laaa... Kamu ini sudah bakal jadi anak Mami juga, kalau kamu panggil Mami dengan tante, apa kata keong racun?"
Kata Mami.
Albar mengurut kening.
Kumat nih Maminya.
"Kenapa sampainya keong racun coba Mam?"
Protes Albar.
Mami nyengir saja.
Mereka kemudian membicarakan rencana untuk ke tempat kampung rambutan di mana keluarga asli orangtua Balqis dan juga sekaligus ke makam orangtua Balqis.
Setelah itu seperti yang diperkiraan Albar, mereka juga akan ke Tasik besoknya setelah Mami nanti bertemu dengan orang yang mempersiapkan pernikahan Albar dan Balqis.
Sesuai keinginan Balqis dan Albar, jika pernikahan mereka untuk saat ini cukup akad nikah dan resepsi untuk keluarga serta kolega Mami yang dekat saja.
Nanti jika Mami ingin ada pesta besar, maka diadakan setelah Balqis wisuda dan Albar sudah aktif di perusahaan.
"Soal Anak bagaimana? Apa kalian juga membuat kesepakatan?"
Tanya Mami pada Albar dan Balqis.
Balqis yang ditanya begitu langsung terbatuk lagi.
"Tuh Mami sih, Balqis kalau diajak cerita soal begituan pasti batuk-batuk mam, makanya tidak usah bahas."
Kata Albar.
"Waduh..."
Mami tepuk jidat.
Balqis meneguk air minumnya,
Apa selalu harus begini saat mau menikah? Yang ditanya soal anak, anak dan anak?
"Kalau Mami sih, misal ternyata kalian kelepasan bikin anak dulu trus nanti lahiran ya Mami malah seneng."
Mendengar nya Balqis kali ini benar-benar tersedak dan terbatuk-batuk.
"Mami... Dibilang tidak usah dibahas juga, lagian bikin anak dikira bikin cimol apa."
Omel Albar membuat Mami cekikikan.
__ADS_1
Cucunya bentuknya cimol?
**------------**