
Albar dan Aki baru saja pulang dari Mushola ikut jamaah sholat subuh, saat kemudian Balqis tampak akan mengeluarkan sepeda dari rumah melalui pintu samping.
"Bal, mau ke mana masih gelap? Kabur?"
Tanya Albar asal jeplak seperti biasa.
"Kabur, emangnya balon dikarbit."
Sahut Balqis.
Albar tampak nyengir.
"Aqis mau ke rumah Teh Diah Ki, sekalian beli lauk buat sarapan di Wa Icih."
Ujar Balqis pada Aki.
Aki mengangguk.
"Yah, nanti Aki dibelikan sayur daun singkong saja Qis, tiba-tiba Aki ingin nakan sayur daun singkong."
Kata Aki.
"Sama tempe goreng yang jangan pake tepung."
Tambah Aki lagi.
Balqis mengangguk.
"Ya Aki."
Balqis kemudian naik ke sepeda.
"Aku ngga ditanya ingin sarapan apa Bal?"
Tanya Albar.
"Katanya kamu hidup dan mati hanya untuk mie rebus."
Seloroh Balqis.
"Ya kali makan mie rebus terus seumur hidup sampe ususku lengket."
Kata Albar.
Balqis cekikikan.
"Udahlah, kamu nanti makan sama kayak aku saja. Lagian ayam goreng dari Emaknya Bang Fajar masih tuh, sayang kalau ngga dimakan."
"Jiaaah, aku makan itu lagi."
Albar geleng kepala.
"Ya kalo ngga mau ya makan wadahnya aja."
Kata Balqis sambil melet, lalu pergi dengan sepedanya.
"Begitu tuh Ki, setiap hari aku diintimidasi."
Ujar Albar pada Aki, laporan kelakuan Balqis.
Aki hanya terkekeh menanggapi.
"Oh ya Ki."
Albar mengikuti Aki masuk ke dalam rumah.
"Yah kenapa Tuan?"
Tanya Aki.
"Mungkin saya akan pulang ke Jakarta lagi dalam waktu dekat."
Tutur Albar.
"Lho kenapa?"
Aki bingung.
"Sepertinya Nyonya belum menelfon saya lagi Tuan."
Kata Aki pula.
Albar langsung menggelengkan kepalanya.
"Ini bukan atas maunya Mami, ini karena saya kemungkinan akan diminta kembali ke dunia hiburan lagi."
"Lho, apa tidak apa-apa nanti?"
Tanya Aki khawatir.
"Ngga apa Ki, nanti urusan Mami biar Flo yang urus."
Ujar Albar sambil terus mengikuti Aki sampai ke ruang dalam dan kemudian menyalakan TV.
Acara berita pagi hari ini adalah tentang penemuan mayat perempuan di dalam koper dalam keadaan terpotong dan kepala terpisah, diduga mayat tersebut adalah isteri salah satu pemilik swalayan di kota hujan.
"Ngeri sekali belakangan ini orang membunuh seakan mereka berhak atas nyawa orang lain."
__ADS_1
Kata Aki berkomentar.
Albar yang menyusul duduk di sebelah Aki sambil membuka kopiah nya tampak mengangguk.
"Ya begitulah Ki, dunia ini semakin dipenuhi manusia berhati dingin, bahkan lebih dingin dari kutub utara dan selatan."
Sahut Albar menanggapi.
Aki mantuk-mantuk saja.
"Ya ngomong-ngomong soal Tuan Albar akan kembali ke Jakarta, kalau saya terserah Tuan Albar saja, meskipun kalau menurut saya akan lebih baik jika Tuan tidak sampai nanti ribut dengan Nyonya."
Albar nyengir.
"Ngga Ki, kalau ribut juga biar Flo saja yang ribut."
Kata Albar tak bertanggungajawab.
**----------**
Balqis tampak menghentikkan sepedanya di depan rumah yang cukup bagus untuk ukuran desa itu.
Setelah meletakkan sepeda dekat teras, Balqis kemudian mengetuk pintu rumah tersebut yang sebetulnya sudah terbuka.
"Assalamualaikum."
Balqis mengucap salam.
"Waalaikumsalam."
Terdengar suara laki-laki menjawab.
Tak lama seorang laki-laki yang masih memakai baju koko, sarung dan kopiah tampak keluar dari ruang dalam.
"Eh Aqis."
Kata laki-laki itu.
"Teh Diahnya ada Mang?"
Tanya Balqis.
"Ada Qis, masuk saja, lagi di dapur masak sarapan."
Balqis kemudian masuk ke dalam rumah dan menuju dapur rumah Teh Diah.
Tampak perempuan yang tengah hamil muda itu sedang sibuk memasak di dapur.
"Teh."
"Eh Qis."
Teh Diah tersenyum menyambut.
Balqis menghampiri lalu menyalami Teh Diah.
"Sebentar ya, tanggung."
Kata Teh Diah sambil membalik telor dadar di atas penggorengan.
Aroma sedap tercium menggugah selera.
Balqis membantu membenahi peralatan dapur yang berserakan di atas dapur, lalu mencucinya di tempat cucian piring.
"Sudah Qis, tidak usah repot."
Kata Teh Diah.
"Ngga apa Teh, cuma nyuci beginian mah ngga repot."
Ujar Balqis.
Teh Diah tersenyum.
Tak lama Teh Diah mematikan kompor, lalu mengangkat telor dadar dan meniriskannya.
"Teh Diah ambil uang punya Aqis dulu sebentar."
Kata Teh Diah lalu tampak berjalan ke kamar.
Balqis selesai mencuci wadah-wadah kotor lalu duduk di kursi ruang makan menunggu Teh Diah, saat kemudian terdengar suara seorang gadis mengucap salam di depan rumah.
Karena sepertinya suami Teh Diah pergi, Balqis akhirnya memutuskan yang keluar.
"Waalaikumsalam."
Jawab Balqis sambil melongok dari ruang dalam, dan tampak Amel berdiri di depan rumah Teh Diah.
Amel seketika ekspresi wajahnya berubah saat melihat Balqis yang keluar.
"Ada apa Mel?"
Tanya Balqis biasa saja sambil menghampiri.
"Teh Diah nya mana?"
Amel balik bertanya.
__ADS_1
Tak lama Teh Diah muncul.
"Eh Mel, ada apa Mel?"
Begitu Teh Diah muncul, baru Amel mau masuk ke dalam rumah lalu bersalaman.
"Mau beli Nuget Teh."
Kata Amel.
"Oh ya sebentar."
Teh Diah kemudian memberikan uang lima puluh ribuan enam lembar pada Balqis.
"Hitung lagi Qis."
Kata Teh Diah.
Balqis kemudian menghitungnya.
"Lebih dua puluh lima ribu Teh."
Kata Balqis.
"Sudah ngga apa-apa buat beli pulsa."
Ujar Teh Diah.
"Tapi ini kebanyakan."
Balqis seperti tidak enak.
"Sudah tidak apa Qis, bawa aja."
Ujar Teh Diah.
"Duh ya udah Teh, makasih Teh."
Balqis menyalami Teh Diah, setelah itu pamit pulang.
Sepeninggal Balqis barulah Teh Diah mengajak Amel ke kios makanan frozen nya.
"Sini Mel."
Amel mengikuti langkah Teh Diah.
"Balqis masih bikin sempolan ya Teh?"
Tanya Amel.
"Masih Mel, masih bikin, banyak yang suka kalau sempolan buatan Balqis, rasa ayamnya berasa kata yang pada beli."
Ujar Teh Diah.
Amel tampak senyum miring.
"Katanya mau nikah sama sultan, tapi masih bikin sempolan saja."
Amel nyinyir.
Teh Diah yang mendengarnya langsung menoleh pada Amel.
"Baru juga gosip, lagipula Balqis kan masih kelas dua SMA, mana mungkin mau nikah."
Kata Teh Diah.
"Orang udah pada ngomongin kok."
"Hmm... sudah ah masih pagi malah ghibah."
Ujar Teh Diah mengingatkan.
Amel jadi tersenyum malu.
Sementara itu Balqis sendiri sudah ke warung Wa Icih untuk membeli lauk sarapan.
Sampai di warung, Balqis langsung disambut emak-emak yang sudah banyak di warung Wa Icih.
Mereka bertanya soal masalah Bara yang sudah terkenal akan menjadi calon suami Balqis.
Balqis yang dikerubuti emak-emak jadi bingung. Mundur salah, maju salah.
"Bara itu kerja apa Qis?"
"Bara keturunan siapa Qis?"
"Asli Jakarta apa aslinya mana Qis? Kok kayak agak bule ya?"
"Kapan nikah Qis?"
Haiiish...
Balqis pusing tujuh keliling.
Ini semua gara-gara Albar. Kesal Balqis.
**----------**
__ADS_1