
Suasana tempat untuk jumpa pers Albar teekait isyu miring ia telah menghamili seorang model sudah tampak dipenuhi para wartawan.
Kursi-kursi, kamera dan beberapa peralatan lain yang dibutuhkan untuk mendukung digelarnya acara tersebut juga telah siap.
Albar yang datang sejak satu jam lalu menunggu dengan wajah malas dan lelah.
"Jam berapa ini? Kenapa mereka belum datang?"
Tanya Albar kesal pada Flo.
Flo yang sedang menelfon sambil mondar-mandir tampak mengangkat tangannya menyuruh Albar diam.
Sekitar lima menit kemudian, barulah Flo menutup telfonnya dan berjalan ke arah Albar.
"Mereka sampai di lobby, sebentar lagi masuk ke tempat jumpa pers di gelar, kita langsung ketemu di sana."
Ujar Flo.
"Ngga dipastikan dulu mereka bakal nyampein sesuai kenyataan?"
Tanya Albar yang masih meragukan itikad baik pihak sang model.
Haiiish... Flo tampak mendesis.
"Kamu boleh ngga percaya mereka, tapi kamu ngga bisa ngga percaya padaku."
Kata Flo.
Albar menghela nafas.
"Ya ya baiklah."
Albar berdiri dari duduknya.
Ia kemudian mengikuti Flo keluar dari ruang tunggu yang berada di belakang ruangan khusus di hotel tersebut yang memang digunakan untuk disewa menggelar acara jumpa pers.
Kilat lampu kamera dari para wartawan langsung menyambut Albar begitu ia muncul didampingi Flo dan seorang penasehat hukum, di belakang meja panjang yang disediakan pihak panitia tampak duduk model yang mengaku dihamili Albar, lalu manajernya, dan beberapa orang lain dari agensi nya mungkin, dan dua orang penasehat hukum juga.
Albar menghela nafas.
Ia berjalan dengan seluruh tatapan mata seolah tertuju pada dirinya.
Model yang mengaku dihamili Albar tampak mengenakan masker menutupi setengah wajahnya, ia terus menunduk tak berani menatap kedatangan Albar.
Albar duduk di kursi nomor dua sebelah kiri dari ujung, ia tak mau dekat-dekat dengan model yang telah menfitnah dirinya untuk menaikkan popularitas.
__ADS_1
Flo duduk di kursi dekat model tersebut, kursi satu lagi dibiarkan kosong, dan barulah Albar lalu penasehat hukum Albar.
Para wartawan terus mengambil gambar, dari foto hingga rekaman video dan suara.
Jumpa pers pun dimulai tepat jam sebelas lebih lima menit.
Dibuka lebih dulu oleh Flo yang menyampaikan terimakasih karena hari ini tak ia sangka banyak sekali teman-teman pers yang datang, lalu tentu saja penjelasan mengenai alasan kenapa jumpa pers itu harus dilakukan.
Setelah cukup panjang berbasa basi, Flo akhirnya mempersilahkan pihak model yang sempat membuat Albar nyaris hancur karirnya di Industri hiburan itu untuk mengklarifikasi apa yang pernah ia katakan hingga menjadi isyu miring di tengah masyarakat.
Pihak model yang pertama diwakili sang manajer tentu saja langsung meminta maaf atas semuanya, karena kecerobohan modelnya itu akhirnya menimbulkan suasana yang tak baik.
Sang model sendiri menangis tersedu-sedu, ia tampak begitu syok namun mau bagaimana lagi toh memang setiap hal yang dilakukan haruslah ditanggung risikonya.
Menfitnah orang lain tentu saja risikonya adalah meluruskan semua sesuai yang seharusnya.
Pertanyaan-pertanyaan nyinyir dan penuh sindiran pun seolah sengaja dilempar pada sang model hingga wajahnya memerah.
Seolah semua anak panah kini tertuju padanya dan tak ragu untuk merobek seluruh tubuhnya.
Albar yang semula kesal dan sebal lama-lama jadi kasihan karena model itu terus diberondong pertanyaan aneh-aneh.
Albar akhirnya mengambil alih panggung, membuat fokus teman-teman pers kembali pada Albar Harrys.
Sepuluh perwakilan Albar Fans Club yang membawa spanduk dan poster Albar teriak histeris.
Albaaaar... Albaaaar...
"Kekasih, apa Albar sendiri sudah punya kekasih?"
Tanya salah satu wartawan.
Seperti pertanyaan iseng saja, tapi Albar tampak tersenyum sekilas.
Dengan tatapan mata ke arah kamera para wartawan di sana, Albar terlihat mengangguk.
"Ya... Saya sudah memiliki kekasih, namanya Balqis, suatu hari saya akan kenalkan pada kalian semua."
Kata Albar.
Waaaaaaaaaaaaa...
Sambutan histeris kembali terdengar memenuhi ruangan.
**--------------**
__ADS_1
Balqis matanya berkaca-kaca melihat berita jumpa pers Albar di TV, sedangkan teman-temannya heboh bersuit-suit menggoda Balqis.
"Ya Allah Aqis, idol sampai bucin sama kamu Qis."
Kata Po pada Balqis yang tampak masih menatap layar televisi.
"Pasti besok heboh nih Qis di sekolah, hahahaha..."
Eti tertawa.
Dinda merangkul bahu Balqis.
"Semoga kalian jodoh Qis."
Kata Dinda.
Balqis tersenyum tipis.
Ah Albar... kenapa dia senekat itu? Batin Balqis yang antara bahagia, terharu, bangga namun juga takut.
Ia takut hari ini dilambungkan begitu tinggi lalu ia lupa diri dan suatu hari terlempar jatuh ke bawah.
**-----------------**
Berbeda dengan Balqis yang bahagia melihat jumpa pers Albar, tampak Mami Albar di ruang TV rumahnya yang super mewah itu tampak mengurut kening.
Ia kemudian memanggil kepala pelayan rumahnya.
"Ada apa Nyonya?"
Tanya si kepala pelayan.
"Sore saya sudah harus ke Perth, saya akan ke rumah Albar sebentar, kamu siapkan semuanya."
Kata Maminya Albar.
Kepala pelayan itupun mengangguk.
Mami Albar tampak berjalan keluar rumah, memanggil supir pribadinya yang langsung tergopoh-gopoh mendekat.
"Antar saya ke rumah Albar."
Kata Mami.
**-----------**
__ADS_1