Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
63. Ada Apa Mami?


__ADS_3

Balqis entah sudah berapa kali mencoba foto dengan kalung pemberian Albar yang ia pakai, namun rasanya masih saja ada yang kurang.


Ia begitu tidak percaya diri melihat foto-foto dirinya dengan kalung cantik bertulis namanya yang kini menghias lehernya yang putih bersih.


Ah...


Balqis duduk di tepi tempat tidur.


Bagaimana ini?


Padahal Balqis ingin sekali mengirimkannya pada Albar.


Balqis baru akan mencoba foto sekali lagi, saat ia mendengar suara Eti mengucap salam, yang kemudian disusul suara yang lain juga.


Balqis segera meletakkan hp nya di atas meja belajar, lalu buru-buru keluar kamar.


Tampak Eti, Dinda dan Po yang baru pulang sekolah kini masuk ke dalam rumah Balqis.


"Haiii Qis, jumpa lagi dengan kami."


Sapa Eti.


Balqis tersenyum saja menyambut kedatangan ketiga sahabatnya.


"Udah makan belum Qis, kita bawain nasi ayam geprek nih."


Kata Po.


"Dan es campur."


Kata Dinda.


"Dan tahu bulat."


Ujar Eti.


Balqis tertawa.


"Kalian ini, pake repot beli begituan."


Balqis duduk di atas karpet yang kemudian disusul Eti dan Po, sedangkan Dinda pergi ke dapur untuk mengambilkan piring dan mangkuk.


Cimot mengeong dari dalam kandang saat Dinda keluar dari dapur, bersamaan dengan itu dari kamar mandi keluar Teh Inggit yang baru mandi.


"Eh Dinda."


Sapa Teh Inggit.


Dinda tersenyum.


"Itu kucing Albar kayaknya belum makan."


Kata Dinda.


"Ooh tadi sudah makan kok, dia pengin main Nda, biasanya mungkin diajak main sama Albar."


Ujar Teh Inggit yang kemudian menghampiri kandang Cimot lalu melepaskannya.


"Biar deh main sendiri."


Kata Teh Inggit.


Dinda mengangguk.


Teh Inggit kemudian masuk ke ruang dalam rumah di mana saat ini Balqis dan Eti serta Po sedang berbincang tentang suasana sekolah dan juga beberapa ulangan yang tadi baru saja mereka ikuti.


Dinda yang berjalan di belakang Teh Inggit tampak mengambil tempat di sebelah Balqis, lalu memberikan piring untuk Balqis.


"Eh aku punya oseng mercon kok pagi tadi masak."


Kata Balqis.


"Wah asik... Aku makan ya."


Ujar Po.


"Eh barenganlah, sana ambil."


Kata Eti.


Po bangkit berdiri.

__ADS_1


Teh Inggit terkekeh melihat anak-anak itu.


Teh Inggit masuk ke dalam kamar Aki yang mulai kemarin sudah dibereskan dan sempat untuk tidur Flo, lalu mulai malam ini akan jadi kamar Teh Inggit untuk menemani Balqis.


"Sekarang Teh Inggit yang nemenin kamu ya Qis?"


Tanya Dinda begitu Teh Inggit menutup pintu kamar untuk ganti pakaian dan bersiap pergi.


Balqis mengangguk.


"Iya, seneng banget Teh Inggit dan Navie mulai hari ini mau pindah ke rumah ini, aku tadinya sudah takut duluan kalau harus tinggal sendirian."


Ujar Balqis.


Dinda ikut lega mendengarnya.


"Malah tadi Teh Nurul dan Teh Anis juga bilang akan tidur di sini bareng Teh Inggit sampai acara tujuh harian, kalau aku sih pengennya malah tinggal di sini sekalian juga ngga apa."


Kata Balqis.


"Hmm... Ruangan samping aja Qis yang kosong, yang deket dapur tuh di kontrakan. Sapa tahu teman mahasiswa Teh Inggit ada yang nyari kos juga, lumayan kan kamu dapet uang sekaligus juga dapet temen tambahan."


Kata Dinda.


Balqis diam, rasanya ide Dinda boleh juga.


"Nanti deh aku pikirkan, sebetulnya tanah belakang kalau dibangun dua kamar lagi juga bisa ya."


Kata Balqis sambil melihat Dinda menuang es campur ke dalam mangkuk.


"Iya tuh Qis bener, bangun aja itu, bikin kos-kosan khusus cewek, kayaknya laris Qis."


Timpal Eti.


Balqis mantuk-mantuk.


"Nanti deh aku pikirkan lagi."


Kata Balqis.


Po muncul dari belakang membawa satu nampan nasi dengan dialasi kertas minyak.


"Aku ambil dari magicom, kamu yang masak kan Qis?


"Wah aku juga jadi lapar."


Kata Dinda begitu melihat oseng mercon buatan Balqis.


"Ya udah itu habisin aja, tadi aku masak buat kasih bekal Albar, itu sisanya."


Tutur Balqis.


"Ciyyyeeeeeee bekal buat calon suami dooong."


Goda Po.


"Kamu bikin bekal buat Albar doang?"


Tanya Eti.


Balqis mengangguk.


"Jiaaaaah... Dasar Aqis polos, kan Albar sama Flo dan supirnya."


Sahut Eti.


Balqis melongo, yang kemudian disambut gelak yang lain.


"Fokus Balqis cuma ke Albar nih yeeeeee..."


Goda Po membuat wajah Balqis seketika memerah seperti saos tomat.


**--------**


Jarum jam mendekati angka enam saat Albar di rumahnya untuk pertama kali akhirnya ia sholat di kamarnya.


Ya kamar Albar di rumah Maminya, yang luasnya bahkan dua kali lipat dari rumah Aki.



Sungguh ini adalah perubahan yang luar biasa untuk seorang Albar Harrys pastinya.

__ADS_1


"Aaaal... Aaaal... Temani Mami makaaaan."


Terdengar suara Mami dari luar kamar, tepat saat Albar baru masuk rokaat pertama.


Merasa tak ada sahutan dan juga tak dibukakan pintu, Mami berinisiatif membuka sendiri pintu kamar putranya.


Mami masuk ke kamar sambil celingak celinguk dan...


Waw...


Mami sampai terkejut luar biasa melihat Albar tengah khusuk menjalankan sholat.


Mami saking terkejutnya sampai berulangkali menabok pipinya sendiri.


Duuh sakit. Batin Mami mengusap pipinya yang ditampolnya sendiri.


Mami yang masih belum yakin dia bukan sedang mimpi akhirnya keluar dari kamar tidur Albar.


Mami tampak turun ke lantai satu saat ditemuinya Flo yang baru selesai mandi.


"Tan, malam ini Flo tidur sini ah, males mau pulang ke apartemen."


Ujar Flo.


"Flo."


Panggil Mami Albar dengan ekspresi seperti orang linglung.


Flo menghampiri Mami Albar.


"Ini alam nyata apa alam mimpi ya?"


Tanya Mami Albar turun berjalan menuju ruang makan.


Apa maksudnya alam mimpi? Ni Tante habis nyabu apa bagaimana sebetulnya. Batin Flo.


Flo akhirnya menyusul Mami Albar ke ruang makan.


"Coba Flo pukul Tante."


Pinta Mami Albar.


Flo mengerutkan kening.


Ah sudah jelas ini, pasti Tante make nih. Batin Flu buruk sangka.


"Cepat Flo pukul Tante biar bisa sadar dari mimpi ini."


Kata Mami.


Flo menghela nafas, lalu menurut memukul lengan Tantenya dengan kuat.


"Aduh!"


Mami Albar usap-usap lengannya.


"Kamu kok tega mukul Tante begitu sih Flo..."


Jiaaah... Ini nih males urusan sama Maminya Albar, suka nyuruh tapi lupa dia nyuruh sendiri.


Flo geleng-geleng kepala.


"Ada apa sih Tan, kayak habis lihat hantu aja mukanya lepek."


Kata Flo yang akhirnya duduk di sebelah Mami.


"Albar... Dia sholat."


Kata Mami masih dengan mata berbinar-binar, sama berbinarnya dengan mata Flo yang kini menatap kepiting saos padang di atas meja makan, bersanding dengan aneka lauk lain yang menggiurkan.


"Albar kan sejak tinggal sama Aki memang rajin sholat Tan, terutama sejak naksir Balqis."


Kata Flo sambil cekikikan sementara tangannya mencomot satu kaki kepiting.


Mami Albar menatap Flo.


"Balqis?"


Flo menoleh sekilas pada Mami Albar.


"Iya Balqis, yang tadi Flo ceritain, anaknya Mang Kus."

__ADS_1


Ujar Flo tanpa melihat perubahan wajah Mami Albar lagi.


**-----------**


__ADS_2