Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
129. Apa Ini Apa Itu?


__ADS_3

"Ada pesan dari Bang Fajar."


Kata Dinda pada Balqis saat akhirnya Bang Pardi selesai menceritakan kisah-kisah hantu.


"Bang Fajar?"


Balqis menoleh pada Dinda.


Dinda mengangguk.


"Ah yang tadi kirim pesan ya."


Balqis akhirnya melihat hp nya.


Dinda nyengir penuh arti, Balqis sepertinya benar-benar belum tahu ada pesan dari Beni masuk.


Balqis membuka pesan dari Bang Fajar.


[Aqis, bulan ini pemasukan lumayan besar, nanti laporannya boleh ngga Bang Fajar langsung ke Jakarta saja?]


"Bang Fajar mau ke Jakarta Nda."


Kata Balqis sambil membalas pesan Bang Fajar.


[Oke Bang, pake travel saja, nanti Aqis kasih alamatnya]


Dinda menoleh pada Balqis.


"Kapan?"


"Belum tahu, tapi kayaknya minggu ini, mau laporan pemasukan usaha ayam Aki."


Kata Balqis.


"Pantas semalam nanya ingin oleh-oleh apa."


Ujar Dinda membuat Balqis tertawa kecil.


Mobil yang ditumpangi Balqis dan Dinda akhirnya sampai di depan rumah Albar.


Mereka pun turun begitu Pardi memarkirkan mobilnya di dalam pelataran rumah.


Dengan berlari kecil Balqis dan Dinda menuju bangunan utama rumah menghindari gerimis yang turun rintik-rintik.


"Aku mau langsung mandi akh."


Kata Balqis.


"Iya aku juga."


Ujar Dinda sambil mengikuti Balqis berjalan cepat menuju lantai atas ke kamar mereka.

__ADS_1


Balqis masuk ke dalam kamarnya, melepas tas, jilbabnya, sepatu dan kaos kakinya, lalu segera bersiap menuju kamar mandi.


Di luar sana gerimis mulai berubah menjadi hujan.


Dinda sendiri di kamar juga sedang bersiap akan mandi, ia sedang melepas jilbab nya tatkala ia mengingat pesan yang dikirimkan Beni pada Balqis tentang Albar.


Dinda sejenak terdiam, sepertinya Beni memang bukan orang yang bisa diperlakukan terlalu baik, tipe orang yang jika diperlakukan baik akan meminta lebih banyak, tapi kemudian tak ada rasa terimakasih.


Dinda yang khawatir Albar masih berteman dengan Beni akhirnya menunda niatnya untuk mandi.


Gadis itu memakai jilbab nya lagi lalu keluar dari kamar untuk mencari Bang Pardi untuk meminta nomor hp Albar.


"Bang Pardi di mana ya Bi?"


Tanya Dinda pada Bi Tuti yang tampak baru dari depan.


"Baru saja minta kopi itu lagi duduk di depan."


Kata Bi Tuti.


Dinda pun mengangguk sambil tersenyum, ia kemudian berjalan keluar rumah dan mendapati Bang Pardi yang tengah menyeruput kopinya di teras rumah.


"Bang Pardi, sebentar."


Dinda menghampiri Bang Pardi yang terlihat langsung berdiri begitu melihat Dinda mendekat.


"Ada apa Nona Dinda? Apa ada yang perlu Bang Pardi bantu?"


tanya Bang Pardi.


"Ooh iya Non tentu saja."


Bang Pardi mengambil hp nya dari saku celananya dan kemudian membuka daftar kontak di hp nya.


Bang Pardi mengulurkan hp miliknya di mana kini tertera nomor Albar di sana.


Dinda menerima hp Bang Pardi, menyalin nomor hp Albar, setelah itu memberikannya lagi pada Bang Pardi.


"Terimakasih Bang, tidak usah cerita ke Balqis ya Bang kalau saya minta nomor hp Albar."


Pesan Dinda.


Bang Pardi mengangguk, meskipun sedikit heran kenapa tidak boleh mengatakan pada Nona Balqis, ada apa?


Ah tidak mungkin kan kalau Nona Dinda dan Tuan Muda Albar memiliki hubungan diam-diam di belakang Nona Balqis?


Ah tidak, tidak!


Nona Dinda jelas bukan gadis demikian, ia terlalu bermartabat untuk menikung sahabatnya sendiri dari belakang, dan Tuan Muda Albar juga jelas bukan laki-laki yang serakah dan murahan bisa berpindah-pindah hati dengan mudah.


Dinda tampak menjauhi Bang Pardi sambil menghubungi nomor Albar, bersamaan dengan itu sebuah mobil masuk ke halaman rumah setelah Pak Wagiman membukakan pintu pagar.

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Bang Zul itu terparkir tak jauh dari teras rumah, yang kemudian tampak Po dan Eti turun dari sana.


Bang Pardi menghambur mendekat untuk membantu Bang Zul yang turun dari mobil dan mulai membongkar isi bagasi.


**------------**


Flo berjalan memasuki rumah Indra dengan semua mata Ibu-Ibu yang hadir di sana tertuju padanya.


Flo terlihat gugup dan salah tingkah melihat mereka memperhatikannya, apalagi saat beberapa terlihat berbisik dan ada pula yang nyeletuk calon isterinya Bang Indra.


Sungguh Flo bahkan merasa aneh dengan dirinya sendiri kenapa bisa sampai berada di sana sekarang.


Indra yang masuk lewat pintu kecil di samping rumah memanggil Ibunya untuk kembali keluar agar bisa menemui Flo.


Ibunya Indra kemudian keluar dari dalam rumah dan mempersilahkan Flo untuk masuk di dalam rumah saja, dan tentu sikap ibu Indra yang demikian semakin membuat Ibu-ibu yang hadir di sana langsung semakin yakin jika Flo, gadis itu adalah calon isteri Indra.


"Syukurlah ya Bu Wati, akhirnya Bang Indra akan menikah lagi setelah lama menduda."


Kata seorang Ibu berperawakan gemuk yang mengenakan kacamata dan duduk di dekat pintu menuju ruang tengah.


Flo yang mendengar kata duda langsung kaget.


Tanpa sadar Flo memandang Ibu Indra yang tersenyum sambil mengajak Flo duduk di dekat Ibu berperawakan gemuk itu.


Dan acara pengajian untuk syukuran Indra pindah kerja pun dimulai, namun sepanjang acara Flo malah lebih memikirkan soal perkataan si ibu gemuk tentang kenyataan jika Indra ternyata seorang duda.


Bahkan sampai acara selesai Flo masih terlihat seperti orang linglung karena jadi merasa makin aneh kenapa dia tiba-tiba sampai di sana dan kenapa perasaannya juga jadi terganggu begitu mendengar Indra ternyata seorang Duda.


Ibu-ibu yang datang menghadiri undangan kini satu persatu pamit pulang, Flo yang ada di samping ibunya Indra sadar-sadar setelah semua akhirnya sepi.


"Terimakasih Nona Flo sudah bersedia hadir, Nona cantik sekali, ibu sampai hampir tak mengenali."


Ibunya Indra akhirnya mengajak bicara Flo setelah mereka tinggal berdua saja.


Flo terlihat tersenyum malu.


Malu kenapa ia sampai tiba-tiba ada di sana, seperti tidak sadar sampai rela sengaja beli tunik, bahkan ke salon demi merubah penampilan.


Ya Tuhan, aku ini kenapa sebetulnya. Batin Flo merasa benar-benar sudah gila.


Ibunya Indra merangkul Flo untuk mengajak masuk ke ruang tengah.


"Nona Flo kan dari jauh, jadi pulangnya nanti saja ya."


Ibunya Indra tampak begitu hangat pada Flo.


Indra muncul dari ruang belakang membawa kucing dalam gendongan.


Ya Tuhan, ternyata benar dia seorang Duda dengan anak kucing. Batin Flo yang sudah ruwet macam rambut berintik yang satu bulan tidak disisir.


Apalagi begitu Indra tersenyum ke arah Flo dengan manis, Flo malah jadi semakin tidak bisa membedakan mana cicak mana tokek, bahkan mana kadal dan mana kucing saja rasanya sekarang Flo tidak tahu.

__ADS_1


Ini benar-benar aneh. Otakku pasto sudah terinfeksi. Batin Flo.


**--------------**


__ADS_2