Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
126. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Pagi-pagi Balqis sudah bangun seperti biasa, ia membantu Bi Tuti yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.


"Nona Balqis tidak usah repot Non, nanti capek di kampus."


Kata Bi Tuti.


"Ngga apa Bi, kan baru kegiatan mahasiswa baru aja, paling cuma perkenalan ini itu."


Kata Balqis sambil membantu mengocok telur.


"Bikin omelette kan Bi? Biar Aqis saja."


Kata Balqis.


Bi Tuti tersenyum melihat Balqis yang begitu rajin, rasanya ikut senang sekali jika kelak benar Tuan muda Albar menikahi gadis bernama Balqis ini, yang bukan hanya cantik, namun juga pintar, rajin, sholihah dan baik hati.


"Kalau begitu Bi Tuti yang buat roti panggang Non."


Kata Bi Tuti.


"Iya Bi."


Balqis kemudian melanjutkan kegiatannya membuat Omelette.


Sekitar dua puluh menit kemudian saat akhirnya seluruh menu sarapan pagi ini tersedia di atas meja makan, termasuk juga buah potong yang disiapkan Bi Tuti.


Po dan Eti turun bersama-sama, sementara Dinda masih di lantai atas sedang menerima telfon dari Ibunya di kampung.


"Waduh malah Nyonya rumah yang nyiapin sarapan, kenapa nggak bilang sih Qis."


Eti menghampiri Balqis yang baru meletakkan satu jus jeruk miliknya dan bersiap duduk untuk menikmati sarapannya sendiri.


Balqis terlihat tersenyum saja menanggapi selorohan Eti.


"Wah asik, Nuget."


Po terlihat bersemangat menarik kursi ruang makan untuk kemudian ia duduk di sana.


Eti kemudian menyusul duduk setelah lebih dulu mencomot satu potong nuget dari piring.


"Aku mau bikin teh manis ah."


Kata Po yang bangkit dari duduknya untuk menuju dapur.


"Oh iya Po, hubungi Bang Zul nanti ke sini ya."


Kata Balqis.


"Kenapa memangnya Qis?"


Tanya Po.


"Aku sudah bilang ke Albar soal Bang Zul, Po."


Po yang semula akan ke dapur akhirnya berbalik lagi dan duduk di samping Balqis.

__ADS_1


"Soal kerjaan buat Bang Zul kah Qis?"


Tanya Po.


Balqis mengangguk.


"Nanti ke sini aja, sore kita bicarain lagi ya."


Kata Balqis.


"Ini serius kan Qis?"


Tanya Po dengan mata berkaca-kaca. Rasanya Po begitu terharu. Po memeluk Balqis.


"Terimakasih Qis, terimakasih banget."


Kata Po.


Balqis balas memeluk Po.


"Sama-sama Po, semoga ini bisa jadi jalan rejeki yang lebih baik untuk Bang Zul dan kamu po."


Kata Balqis.


Po melepaskan pelukannya dan menatap Balqis masih dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Aku tadinya sudah berpikir akan menyerah saja jika Bang Zul akhirnya menganggur dan tak mendapatkan pekerjaan lagi, aku ngga mungkin membebani orangtua untuk biaya kuliah."


Air mata Po berlinang.


"Maafkan Aqis ya Po."


Kata Balqis akhirnya.


"Kenapa minta maaf Qis, justeru aku yang harus minta maaf karena jadi merepotkan kamu dan Albar."


Ujar Po.


Balqis menyeka air matanya yang berlinang di pipinya.


"Jika bukan karena Aqis, mungkin Bang Zul ngga akan sampai kena masalah kan, semua adalah karena aku."


Lirih Balqis.


Po menghela nafas.


"Enggak Qis, memang dasarnya mereka yang nggak bisa dimengerti jalan pikirannya, masa hanya karena nggak jadi nempatin rumah mereka lalu langsung main pecat saja."


Po mengomel.


Eti yang dari tadi memilih menikmati buah potong tampak menghela nafas.


"Sudah aku bilang ini bukan masalah hanya karena kita nggak jadi nempatin rumah, tapi karena Beni marah soal Balqis dan Albar."


Kata Eti.

__ADS_1


Po mengangguk.


"Iya sih, aku tahu juga soal itu. Tapi tetap saja apa yang mereka lakukan itu memperlihatkan kalo ternyata mereka orang macam apa."


Kata Po.


"Ya ambil hikmah nya ajalah, mungkin ini yang terbaik buat Bang Zul."


Ujar Eti.


Po mengangguk.


"Ya semoga bekerja di sini malah akan membuat Bang Zul lebih nyaman po."


Kata Balqis.


Po tersenyum.


"Iya Qis."


**--------------**


Sementara itu, di Perth tampak Albar baru turun dari mobil Jaguar F-Type SVR-nya.



Mobil jaguar yang atasnya dibiarkan terbuka itu membuat Albar Harrys selalu sukses menarik perhatian kaum hawa.


Albar turun sambil menggendong ranselnya dengan tetap mengenakan kacamata hitam merk Bvlgari Parentesi, yang biasanya harga untuk satu kacamatanya berkisar 400 jutaan, dan ini adalah salah satu merk kacamata yang cukup sering Albar beli.


Albar berjalan dari parkiran kampus di mana ia kuliah, saat kemudian ia melihat ada seseorang yang tak asing bersama anak-anak kampus lainnya duduk di taman kampus seperti sedang serius membicarakan sesuatu.


Albar membawa langkahnya ke sana, menghampiri sosok yang tak lain adalah Beni itu, yang kini terlihat menatap kedatangan Albar dengan tatapan mata tak lagi sama seperti dulu.


'Kita harus bicara Ben."


kata Albar pada Beni begitu akhirnya Albar berada di dekat Beni dan teman-temannya.


"Bicara soal apa? Di sini saja."


ujar Beni malas.


Albar sebetulnya kesal melihat tingkah Beni yang demikian, tapi Albar jelas tak mungkin memukulnya sekarang, meskipun sebetulnya Albar bisa langsung mengeksekusi jika saja situasi dan kondisinya memungkinkan.


Ya, sayangnya, Albar masih memikirkan nama baik negaranya. Bagaimanapun mereka kini hidup di negeri orang, di mana yang mereka bawa bukan lagi hanya diri mereka sendiri, bukan hanya nama keluarga mereka sendiri, namun juga nama bangsa dan negaranya.


Albar tentu tak mau jika karena nanti kelakuannya, lalu justeru negara nya yang ikut tercoreng.


Tampak Albar menatap Beni, berusaha diredakannya emosinya di dalam hati, dan mengajak Beni bicara baik-baik.


Beni yang akhirnya tak enak karena teman-temannya jadi mendorong Beni mengikuti Albar akhirnya mau tak mau iapun menurut.


Beni mendekati Albar, lalu akhirnya mengikuti Albar berjalan menjauhi tempat di mana Beni tadinya duduk bersama teman-temannya.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2