
Acara hari ini pun berjalan dengan lancar jaya tanpa hambatan apapun jua, seolah memang hubungan Albar dan Balqis mendapatkan restu dari alam semesta,
Balqis malam itu duduk di kamar lamanya, kamar yang sekian puluh tahun ditempatinya, yang menjadi saksi Balqis tumbuh diurus Aki dengan baik,
Balqis duduk di tepi tempat tidurnya yang sederhana, ia mulai merasa kembali ingin menangis melihat semua yang ada di kamar itu,
Semuanya yang seolah menyimpan banyak kenangan, termasuk saat Balqis kadang menangis sedih karena merasa kesepian hanya memiliki Aki saja dalam hidupnya,
Menangis karena ia tumbuh menjadi anak yatim piatu yang bahkan tak pernah tahu seperti apa Ibunya,
Kini, Balqis sebentar lagi akan menikah, saat di mana bagi banyak calon mempelai perempuan pastinya hari-hari ini adalah hari yang paling membahagiakan,
Sayangnya, Balqis yang juga harusnya merasakan kebahagiaan itu malah merasa campur aduk sekarang,
Ia bahagia karena akan dinikahi Albar, tapi sekaligus juga sedih karena Aki sudah tiada,
Berbeda dengan Balqis di kamar yang tengah melow mengenang masa lalunya, di kamar yang lain Flo sedang cengar-cengir karena baru saja selesai chat dengan Indra,
Meski tak secara jelas menggunakan kata i love you, tapi malam ini Indra seperti sudah tak menutupi lagi perasaannya pada Flo,
Ah tentu saja ini pasti karena ada campur tangan Albar,
Meskipun awalnya Flo agak khawatir dengan kelakuan Albar yang kadang-kadang tak jelas, tapi untuk kali ini Flo mengakui jika kadang Albar adalah saudara yang sangat banyak membantu dalam semua hal dalam hidup Flo,
Meski keduanya kadang seperti kucing dan curut, tapi hubungan sebagai saudara tetaplah tak bisa diabaikan,
Keduanya ada keterikatan yang tak bisa terlepas satu sama lain dengan mudah, termasuk saling peduli pada masalah yang harus dihadapi masing-masing,
"Tidur Flo,"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar Mami Albar bersuara, membuat Flo nyaris melompat saking kagetnya,
Ah ya, dia terlalu menikmati chat dengan Indra hingga lupa ia tidur di kamar bekas kamar Aki bersama Mami nya Albar,
Flo menoleh ke arah belakangnya di mana Mami Albar kini duduk sambil kipas-kipas wajah dengan kedua tangannya,
"Bu Dhe kenapa, kepedesan?"
Tanya Flo tak jelas,
Mami Albar menoleh ke arah Flo yang kini juga menyusulnya duduk,
"Kamu pikir Bu Dhe tidur sambil makan pecel lele apa bagaimana malah tanya kepedesan,"
Omel Mami Albar,
"Gerah Flo, tambah itu setelan kipas anginnya,"
"Lah itu sudah nomor dua Bu Dhe, kalau ditambah lagi Bu Dhe nanti terbang,"
Ujar Flo,
"Ah tidak apa, ganti nomor tiga saja, biar anginnya lebih kencang,"
Kata Mami,
"Ntar masuk angin,"
"Tidak, tidak akan,"
__ADS_1
Sahut Mami percaya diri,
Flo menghela nafas, meskipun tetap ia merangkak turun dari tempat tidur untuk mengganti setelan kipas angin,
"Harusnya tadi beli kipas angin empat sekalian, biar bisa ditaruh di tiap sudut,"
Kata Mami,
Flo geleng-geleng kepala,
"Itu kipas angin apa sesajen, tiap sudut dikasih,"
"Ya kan daripada gerah Flo, ini udah mendingan tuh anginnya lumayan kenceng,"
"Tapi Flo tidak kuat Bu Dhe, ini rasanya malah jadi kayak tidur di bawah rimbun pohon bambu,"
Kata Flo lagi yang jadi tak berani naik lagi ke tempat tidur,
"Kenapa? Udah tidur saja, besok kan setelah ke makam kita harus balik lagi ke Jakarta,"
"Aduh, Flo tidur gelar selimut saja Bu Dhe di bawah, tidak kuat kena kipas angin,"
Dan mereka pun lantas berisik debat soal kipas angin dan Flo ingin tidur di bawah saja,
Balqis yang kamarnya bersebelahan dan sedang banyak merenung jadi terganggu dengan keberisikan kedua orang tersebut,
Balqis pun akhirnya memilih berbaring saja di atas tempat tidurnya, dan mencoba tidur agar besok bangun pagi dan bersiap ke makam bersama Albar dan juga Maminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1