Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
90. Bukan Salah Jadi Masalah


__ADS_3

Malam pertama di Jakarta, Balqis dan ketiga temannya tidur di kontrakan milik Bang Zul.


Bang Zul sendiri malam ini tidur di rumah majikannya sekalian besok ingin pinjam mobil sebentar untuk mengantar adik dan teman-temannya.


Tentu saja bos Bang Zul memberi ijin, karena ada yang bersedia merawat dan menempati rumah itu saja sudah bagus.


Bang Zul sendiri menolak menempati karena letaknya yang terlalu jauh dengan Pejaten di mana rumah bos nya berada.


Jika saat ini kontrakan Bang Zul ada di daerah Buncit tentu saja itu sangat dekat dengan Pejaten.


"Panas banget ya Jakarta, mana banyak nyamuk."


Keluh Eti sambil sibuk nabokin nyamuk.


"Lha tadi dibilangin Bang Zul jangan buka pintu kalo udah sore ngeyel."


Kata Po.


"Ya kan sumpek Po, biasa kalo di kampung kan pintu ngga ditutup rapat."


"Eti ngga bakat jadi orang ibu kota nih."


Kata Dinda.


Semua jadi cekikikan.


"Lagian aku juga penginnya mah dapet orang Tasik lagi weeee..."


Gelak Eti.


"Hmm aku mah pengin sama orang Bogor."


Ujar Po.


"Iya kan biar dikasih bunga bangkai."


Kata Eti.


"Hahahaha Eti mah pe'a."


Po menimpuk Eti dengan bantal.


Semetara Dinda dan Balqis jadi cekikikan.


"Bayangin Po dirayu pake bunga bangkai pas ultah, yang lain mah dikasih mawar, lha dia bunga bangkai, gede banget mana bau lagi, hahahaha..."


Eti terus menggoda membuat Po semakin semangat menimpukinya.


Dan malam semakin larut, keempat gadis remaja itu lama-lama akhirnya mengantuk dan tertidur pulas.


Sepi dan sunyi, yang terdengar hanya suara kipas angin yang berputar di sudut ruangan.


Balqis yang tidur di pinggir dan berada di bawah jendela, sesekali mendengar suara kucing liar yang mengeong seperti lewat di depan kontrakan.


Antara sadar dan tidak karena lelah serta kantuk, Balqis tiba-tiba memanggil Albar.


"Bar, Cimot sudah dikasih makan belum?"


Balqis ngelindur.


Seolah di sana Albar berdiri dan yang mengeong adalah Cimot yang ingin makan ikan.


**---------**


"Apa?"

__ADS_1


Mami Albar membelalakkan matanya menatap putranya yang menyampaikan keinginannya untuk berkunjung ke Indonesia sebentar.


"Hanya dua atau tiga hari saja Mam."


Kata Albar.


Mami tampak mengurut kening.


"Untuk apalagi kamu ke sana? Semua sudah berlalu dan mulailah hidupmu lagi dengan benar di sini Al."


Kata Mami.


"Selesaikan kuliahmu, bergabunglah ke perusahaan, tahun depan ada pergantian jajaran direksi di perusahaan, setelah itu menikahlah."


Lanjut Mami.


Albar terdiam.


Mendengar kata menikah membuat hatinya sedikit takut.


Takut membayangkan menikah bukan dengan perempuan yang tak ia inginkan.


Apa mungkin bisa? Apa mungkin mampu?


Mungkin jika perempuan bisa saja jatuh cinta setelah ia menikah, namun untuk laki-laki rasanya itu terlalu sulit.


Laki-laki butuh banyak sekali alasan untuk akhirnya logikanya runtuh, sementara perempuan hanya cukup hatinya tersentuh sedikit saja maka cintanya bisa tumbuh.


Albar takut jika menikah dengan perempuan yang tak ia inginkan hanya berakhir di tempat tidur saja, sedangkan pernikahan tak hanya soal itu.


Banyak hal yang harus dibangun dua orang manusia agar bisa hidup bersama agar menjadi keluarga yang kualitasnya baik, yang damai, yang indah, yang bahagia, yang melahirkan anak-anak yang bahagia juga.


Albar masih tampak diam karena sibuk berpikir, tatkala Mami berkata lagi.


Albar tiba-tiba berdiri,


"Albar ngantuk Mam, yang penting Albar sudah kasih tahu Mami lusa akan ke Indonesia sebentar, malam Mam."


Albar kemudian beranjak dari sana, meninggalkan Maminya yang langsung mengurut tengkuknya yang jadi tegang.


"Ah God, apa sebetulnya yang Albar inginkan? Anak itu sepertinya ingin membuatku gila pelahan."


Gumam Mami.


**-----------**


Albar masuk ke dalam kamarnya, berjalan mendekati tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


Menikah.


Ia kembali memikirkan soal pernikahan.


Ia jadi ingat masa-masa mengajak Balqis menikah dulu, melamarnya di dekat kamar mandi, di sumur, lalu di dapur.


Albar tersenyum sendirian mengingatnya, dia merasa benar-benar jadi laki-laki paling tidak punya modal, melamar di tempat-tempat semacam itu.


Andai gadis itu bukan Balqis, andai gadis itu gadis manja yang semua hanya dilihat dari materi, pasti ia tak akan pernah menerima Albar.


Albar mengusap wajahnya dengan kasar, kenyataan jika ia jadi penyebab meninggalnya orangtua Balqis sangat menakutkan baginya.


Albar meringkuk di atas tempat tidur.


"Aku mencintainya, tapi dosaku terlalu besar padanya. Bertahan membuatku takut, pergi membuatku lebih takut. Aku menitipkannya padamu ya Allah, apakah Kau akan mengijinkan jika aku memintanya kembali?"


Lirih Albar.

__ADS_1


**----------**


Keesokan harinya, Bang Zul datang ke rumah kontrakannya membawakan nasi uduk untuk sarapan adik-adiknya.


Tapi ternyata sampai di kontrakan mereka sedang menikmati sarapan.


"Lho kok..."


Bang Zul terkejut melihat Po dan teman-temannya sedang menikmati sarapan lauk telor dadar dan mie goreng.


"Aqis masak, Bang Zul mau?"


Tanya Po.


"Aqis lihat ada beras dan bahan lainnya, jadi Aqis masak saja, ngga apa kan Bang?"


Balqis seperti tak enak.


"Wah ya ngga apa Qis, telor dadarnya kayaknya enak, abang boleh lah makan sekalian."


Ujar Bang Zul malah mendaftar.


Po segera berdiri dan berlari menuju dapur untuk mengambilkan piring dan sendok.


"Mau bikin kopi atau teh ngga Bang?"


Tanya Po.


"Tadi udah ngopi di rumah bos, air putih saja Po."


Kata Bang Zul.


"Okey."


Po segera berlari lagi menuju dapur untuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air galon dari dispenser dekat TV.


"Bang Zul emangnya bisa masak? Kok sedia bahan masakan sih?"


Tanya Po sambil meletakkan gelas minum Bang Zul.


"Oh... Ngg... Ya kadang, Ah itu iseng ya."


Bang Zul gugup ditanya Po, lalu ia sibuk mencomot potongan telor dadar.


"Aku juga lihat sabun muka cewek di kamar mandi."


Celetuk Eti membuat Bang Zul yang sedang mengunyah mie goreng langsung tersedak.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Dinda dan Balqis jadi pura-pura tidak tahu apa-apa, sementara Po menepuk punggung Abangnya.


Eti yang kadang polosnya tidak ketulungan hanya nyengir saja melihat Bang Zul wajahnya merah padam karena tersedak dan juga malu.


"Santai Bang, pasti Abang malu kalau pakai sabun muka cewek, padahal mah kan banyak cowok pakai sabun cewek juga, pakai baju warna pink juga ngga masalah."


Ujar Po yang ceritanya bijaksana dan mengerti selera Abangnya.


Dinda dan Balqis terlihat mengurut kening.


Haiiish... ada untungnya Po dan Eti kadang kambuh pentium duanya, jadi tidak sampai berpikir bahwa Bang Zul kadang bawa ceweknya di kontrakan.


Haduuh... Pergaulan Ibu kota, semoga aku kuat. Batin Dinda dan Balqis.


**---------**

__ADS_1


__ADS_2