
Tiga rombongan mobil Albar dan Balqis dari Jakarta menuju Tasik akhirnya baru benar-benar bergerak sekitar pukul sebelas siang.
Kebiasaan huru hara para perempuan yang rempong macam rantang empat susun jatuh dari lemari, semuanya menggelinding ke tempat yang berbeda.
Mobil pertama adalah rombongan para bala-bala, ada Eti, Po dan Dinda, mobilnya dikemudikan Bang Zul.
Bang Zul di beri tugas memimpin perjalanan karena ia tentu saja putra asli Tasik yang sudah bisa dipastikan tidak akan tersesat dan menyesatkan.
Apabila ada kemacetan akibat Komo lewat, maka Bang Zul tentu saja akan mendapatkan ide yang lebih cemerlang, untuk mengambil jalan alternatif lain.
Mungkin menceburkan mobil ke sungai agar hanyut sampai Tasik, atau menerbangkan mobil berkejar-kejaran dengan UFO othor, atau bisa juga menembus batas yang asalkan tidak melampaui batas.
Pokoknya, tugas Bang Zul sebagai pemimpin rombongan tentu saja adalah berat seperti konde di masuki empat batu bata.
Mobil kedua, adalah mobil mewah Mami yang cetar membahana. Di supiri si Pardi, tentu bisa dipastikan juga bahwa Mami aman tak akan tersesat pula.
Kecuali ternyata Pardi aslinya sudah pikun, bisa jadi bukannya ke Tasik, malah Mami dibawanya ke Brebes dan soan ke Othor.
Mami di mobil kedua, ditemani Flo dan juga Indra yang akhirnya ikut menjadi keluarga Albar untuk melamar Balqis.
Dan mobil ketiga, tentu saja adalah mobil yang di mana Balqis dan Albar berada, mobil mereka dibawa oleh Fajar Menyingsing, yang konon kenapa diberi nama Fajar karena memang dia lahir tepat saat ayam jantan pertama di kampung berkokok.
Fajar yang semula ingin dinamakan Hasanuddin oleh Ayahnya, karena berharap ia akan semulia dan setegas Sultan Hasanuddin akhirnya dinamakan Fajar oleh ibunya karena nama Hasanuddin terlanjur dipakai anak yang lahir bareng Fajar.
Dan nyata, memang si Hasanuddin yang lahir bersama Fajar akhirnya sekarang bersinar menjadi salah satu pengusaha terkaya dari Tasik di usia muda.
Oh oh... apalah daya Fajar sekarang hanya bisa menjadi juragan ayam potong dan juga pengasuh ayam-ayam Balqis peninggalan Aki.
"Duh udah siang begini akhirnya laparlah aku,"
Keluh Albar yang duduk bersandar di kursi sebelah Fajar di depan.
Albar sengaja duduk di sana, bukan dengan Balqis karena Dinda ikut rombongan Po dan Eti. Sedangkan Albar tentu tak menganggap Fajar supir, jadi ia duduk menemani Fajar di depan.
__ADS_1
Lagipula duduk dengan Balqis di belakang pasti hanya akan membuatnya jadi gugup, rasanya setelah sebentar lagi akan menikah, ia malah jadi salah tingkah di depan Balqis.
Apalagi, Balqis juga lebih banyak diam belakangan ini, mungkin karena ia sebetulnya sedikit sedih karena akan menikah tapi tak punya keluarga inti.
Meskipun wali dan keluarga dari Wak Icih sangat peduli, pun juga dengan keluarga Ayah kandung Balqis begitu, tapi tetap saja untuk Balqis sepertinya itu masih terasa kurang.
Bukan...
Bukan karena Balqis tak pandai bersyukur, tapi tentu itu perasaan yang wajar dari seorang gadis yang akan menikah, bilamana inginnya saat menikah adalah bersama keluarga intinya.
"Telfon Mami kamu saja Boss Bar, mampir dulu makan siang."
Ujar Fajar memberi ide.
Albar mantuk-mantuk,
"Ya memang aku mau minta mampir di warung ikan bakar, laper."
Kata Albar.
"Sesuai impian, ikan bakar, sambal lalap, nak enak."
Fajar mantuk-mantuk.
Albar menelfon Maminya, agar mereka bisa mampir rumah makan ikan bakar yang tak jauh lagi dari posisi mereka saat ini.
"Kamu ini, baru juga jalan udah lapar."
Kata Mami di sambungan telfon,
"Lah Mam, ini udah siang kali Mam, tadi pagi sarapan juga cuma satu potong sandwich. Kan belum makan nasi belum makan."
Ujar Albar.
__ADS_1
"Lah kamu di Perth jarang makan nasi juga masih hidup."
Sahut Mami.
"Ya kan ini makanya aku jadi kurus kayak concorang."
Ujar Albar membuat Fajar langsung berimajinasi concorang dengan wajah Albar.
"Ya udah... Kasih tahu itu yang paling depan, biar berhenti juga di warung makan, kasihan nanti yang lain makan mereka kembung."
Putus Mami akhirnya.
"Oh okay Mam, siap."
"Tapi kamu yang bayar."
Kata Mami lagi.
"Laaah, Mami dong, tidak sampai dua juga, coba deh."
Kata Albar.
"Lah kan baru kemarin rekeningku Mami isi seratus juta, cukup itu buat makan ikan bakar satu warung."
Mami nyengir saat akhirnya Albar mendesis.
Flo di sebelah Maminya Albar tampak ikut mengompori dengan mengacungkan dua ibu jarinya.
Albar lantas mengakhiri panggilannya pada Mami dan beralih menghubungi Bang Zul.
"Sialan Mami, uang seratus juta doang diinget-inget."
Kata Albar sambil garuk-garuk kepala, lalu bicara pada Bang Zul begitu telfonnya tersambung.
__ADS_1
**---------------**