Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
40. Makan Malam Nikmat


__ADS_3

Albar masih senyum-senyum begitu di dalam kamarnya.


Berbeda dengan Balqis yang merasa Albar hanya main-main dan tidak serius dengan pernyataan perasaannya, Albar justeru merasa yakin jika Balqis sebetulnya juga memiliki rasa padanya.


Ah mungkin belum sebanyak pada si Medit, tapi Albar yakin lama-lama pesona Albar tak akan mampu ditolak Balqis. Batin Albar penuh percaya diri.


Albar kemudian meraih hp nya.


Ada beberapa pesan dari Flo. Albar cepat membukanya.


Foto pertemuan Flo dengan seorang perwakilan dari pemilik hotel yang akan mengundang Albar ke acara pembukaan hotelnya.


Tak lupa Flo juga mengirimi foto hotel yang akan dibuka.


Zombie Hotel.


Albar mengerutkan kening.


Nama yang tak lazim. Hotelnya juga sama tak lazimnya.


Hampir semua ornamen di hotel itu adalah zombie dan hantu.


[Aku sudah pesan empat kamar di hotel ini, hahaha...]


Tulis Flo dengan bahagia.


[Kamarmu khusus tema kuntilanak]


Tulis Flo pula.


Haiiish... Dia memang gila! Rutuk Albar.


Bagaimana bisa ada ide muncul di kepalanya memesankan kamar tema kuntilanak untukku? Batin Albar heran.


Albar tentu saja langsung menelfon Flo.


"Hahaha..."


Flo terbahak begitu mengangkat telfon Albar.


"Dasar gila, apa-apaan itu kamar hotel tema kuntilanak."


Kesal Albar.


"Lha masa kalah sama Mami? Wong mami kamu aja tema vampire kok."


Kata Flo.


"Jiaaah vampire mah ngga serem."


Albar tambah kesal.


"Tuker punyamu, kamu pasti vampire juga kan?"


Kata Albar memaksa.


"Yakin mau tuker?"


Tanya Flo.


"Yakinlah, kamu kan suka curang, udah pasti kamu pake kamar biasa, apa paling vampire juga kayak Mami."


"Hahahaha..."


Flo terbahak lagi.


"Tenang Bar, itu kamar kuntilanak salah satu kamar yang paling laris. Lima belas kamar tema kuntilanak penuh di booking, kayaknya mereka kebanyakan kayak kamu, jomblo, hahaha..."


Flo terus terbahak.


Dia memang ahli dalam memancing emosi.


Albar mendengus.


"Ya udah sana kamu aja yang pake, aku mending pulang ke rumah."


Kata Albar.


"Yeee ngga bisa, acara bakal sampe tengah malam karena sekalian ulang tahun anak juragannya."


Kata Flo.

__ADS_1


"Lagian pengisi acaranya cukup banyak, oh iya Bar, hampir lupa, kamu nanti ada duet sama anak pengusaha Jepang juga, Nona Takashi Harumi."


Ujar Flo.


"Duet apa?"


Tanya Albar.


"Goyang ngebor."


Sahut Flo.


"Jiaaaah... acara tambang minyak apa bagaimana."


"Ya lagian pake tanya duet apa, ya nyanyilah."


"Ya maksudnya dia itu penyanyi juga? Mau nyanyi apa duetnya."


"Belum tahulah, makanya aku akan jemput kamu lusa supaya nanti setelah jumpa pers kita ada waktu untuk latihan dan lain-lain."


"Oh ya udah."


Kata Albar.


"Kamu beresin sendiri bajunya, biar aku nyampe sana udah tinggal balik, jangan pake ada drama aku suruh bebenah."


Flo mengingatkan.


"Iya cerewet."


"Pokoknya setelah ini jangan bikin kegaduhan lagi Bar."


Kata Flo.


"Gaduh apaan? Aku anteng aja kok."


"Ya kamu tuh kan suka aneh-aneh yang akhirnya memicu timbulnya isyu-isyu aneh."


"Enggak."


"Pegang kata-katamu Bar, ini kesempatan terakhir."


"Iya ikh, cerewet amat kamu, Mak Lampir aja ngga secerewet kamu lah."


Kesal Albar.


Flo ngomel-ngomel.


Albar masih akan tanya soal persiapan jumpa pers ketika terdengar suara Aki mengucap salam, tampaknya Aki baru saja pulang.


"Flo, ntar sambung lagi."


Kata Albar.


"Apaan? Ada apa?"


Tanya Flo.


"Itu Aki pulang."


Jawab Albar.


"Oh ya udah, salamin."


"Yap."


Albar menutup telfonnya, lalu meletakkan hp nya di atas kasur, baru setelah itu bergegas keluar dari kamar untuk menemui Aki.


**---------**



Albar menatap menu masakan Balqis malam ini yang begitu menggiurkan.


Perutnya yang memang sudah keroncongan terasa bertambah-tambah pula.


Albar akan mencomot satu potong ayam goreng serundeng dari piring saat Balqis cepat menabok tangannya.


"Aw!"


Albar meniup tangannya yang kena tabok.

__ADS_1


"Nunggu Aki, ngga boleh makan duluin orangtua."


Kata Balqis.


"Lha biasanya dipisahin."


Albar protes.


"Kan mau makan bareng, kalau Aki makan telat baru dipisahin."


Terang Balqis.


Albar menatap Balqis yang kini menata piring kosong di meja.


Gadis polos, sederhana, mandiri, sholihah dan punya cita-cita mulia. Sejak awal Albar mengenal Balqis, ia tahu jika Balqis berbeda dengan gadis kebanyakan yang ia pernah jumpai.


Meski yatim piatu, ia begitu semangat menjalani hidup, tak pernah sekalipun Albar mendengar Balqis mengeluh.


Bahkan saat berangkat dengan sepeda lamanya yang rantainya copot pun dia sama sekali tak bicara apa-apa.


Sungguh berbeda dengan kebanyakan gadis jaman sekarang, apalagi yang hidup di kota besar.


Meski tak semuanya, tapi kebanyakan dari mereka sudah terkontaminasi dengan gaya hidup yang mulai tak sehat.


Jangankan sampai berpikir memiliki cita-cita mulia seperti Balqis, fokus sekolah tanpa melakukan hal-hal aneh saja sepertinya sekarang sudah mulai jarang.


Kebanyakan mereka hanya berfokus pada penampilan dan berlomba terlihat memiliki ini dan itu.


Jika orangtua tak mampu maka mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, termasuk menjadi makanan empuk lelaki bangkotan.


Sungguh miris memang, tapi begitulah adanya.


Cara memandang sukses dengan cara yang salah, membuat orang juga kerap kali ingin mendapatkannya dengan cara yang salah pula.


Belum lagi jika mereka yang telah terjerumus pada kehidupan malam. Semakin kacaulah semua urusan.


Tak terfikir bagaimana masa depan kelak, yang penting senang-senang saja.


Balqis...


Melihat gadis bernama Balqis membuat Albar seolah melihat sisi dunia yang berbeda.


Ternyata memang ada gadis sepolos dan sebaik itu.


Yah...


Nyatanya, menjadi perempuan tak cukup menjadi cantik dan menarik untuk membuat laki-laki baik melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata, apalagi dengan niat maksiat.


"Ayo makan Tuan."


Aki menepuk punggung Albar yang terus menatap Balqis tanpa berkedip.


Membuat Albar sampai terkejut, lalu nyengir pada Aki yang jadi mengulum senyum.


Balqis sendiri memilih pura-pura tidak tahu.


Ia duduk saja di salah satu kursi meja makan.


Aki juga duduk di sana, baru kemudian Albar menyusul.


"Wah lengkap sekali masaknya Qis."


Kata Aki.


Balqis tersenyum.


"Buat mengeluarkan energi berlebih karena kesal pada seseorang yang hari ini terus saja bicara tidak jelas."


Kata Balqis sambil melirik Albar yang sedang menyeruput air putih dari gelas jadi hampir tersedak.


"Memangnya siapa yang membuat kesal? Sepertinya Aki harus banyak berterimakasih sama dia karena cucu Aki jadi mau masak sebegini banyak."


Kata Aki terkekeh.


Albar nyengir penuh kemenangan pada Balqis yang melirik Albar dengan kesal.


"Hmm... Sepertinya saya juga akan ikut berterimakasih padanya Ki, sudah pasti itu orangnya cowok yang ganteng, baik, mempesona, berkarisma, senyumnya manis."


Kata Albar sambil mengambil piring.


Balqis yang sedang menggigit atam goreng begitu mendengarnya jadi gantian nyaris tersedak.

__ADS_1


Aki kembali terkekeh jadinya.


**--------**


__ADS_2