Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
111. Sarapan Sarapan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Balqis seperti di kampung sudah bangun. Setelah sholat Subuh, ia langsung keluar kamar dan membuka seluruh tirai dan beberapa jendela rumah, terutama yamg menuju halaman samping di mana di sana ada taman yang bisa dilihat dari kamar Balqis.


Udara pagi di Jakarta mungkin tak sesejuk di kampung, namun tetap saja rasanya lebih baik jika hari masih pagi lalu membuat rumah ada pergantian udara dengan membuka jendela dan pintu.


Bi Tuti yang merupakan asisten Rumah tangga di rumah Albar pun tampaknya masih belum bangun manakala Balqis menuju dapur dan mulai berfikir ingin masak apa untuk sarapan.


Balqis memang sangat suka memasak, sejak masih Sekolah Dasar, Balqis sudah terbiasa membuat makanan sendiri sepulang sekolah.


Meski dulu hanya baru bisa goreng telur atau sekedar goreng tempe, tapi Balqis dengan begitu nyaris tak bisa pernah merepotkan Aki hanya untuk urusan makan.


Uang yang dikasih Aki untuk beli lauk biasanya Balqis tabung untuk ia gunakan jika ada iuran mendadak di sekolah.


Balqis membuka kulkas di dapur Rumah Albar.


Tak banyak bahan makanan yang bisa diolah karena mungkin Bi Tuti hanya membeli untuk selama Albar di rumah saja.


Selebihnya mungkin Bi Tuti akan belanja lagi manakala Albar sudah berangkat ke Perth.


Balqis menghela nafas, menatap isi kulkas sambil berpikir lagi, lalu akhirnya setelah menemukan ide akan memasak apa, barulah Balqis mengambil satu persatu bahan masakan yang akan ia gunakan.


Ada telur, ada sayur, ada tempe, dan lain sebagainya.


Balqis menata bahan-bahan masakan itu dengan baik di atas meja yang ada di dapur, setelah itu ia mencari pisau dan juga wadah-wadah kosong untuk Balqis gunakan sebagai tempat menaruh sayur dan lain sebagainya.


Saat Balqis sedang mulai sibuk menyiangi sayuran, tampak Dinda berjalan ke arah dapur juga.


"Eti dan Po masih tidur, mentang-mentang lagi datang bulan nggak sholat jadi bangun siang."


Kata Dinda.


Balqis tampak tersenyum saja.


Karena untuk Balqis sendiri, meskipun ia sedang tidak dalam keadaan suci hingga wajib sholat pun, Balqis akan tetap bangun pagi.


"Masak apa Qis kita?"


Dinda menghampiri Balqis.


"Seadanya yang di kulkas sajalah, soalnya cuka adanya ini."


Kata Balqis.


"Oh ya, berarti nanti belanja lagi saja."


Ujar Dinda.


Balqis mengangguk.


"Iya nanti aku belanja aja deh, kamu catat Nda apa aja yang harus kita beli, setidaknya untuk empat hari ke depan."


Ujar Balqis.


Dinda duduk di kursi depan meja di mana Balqis meletakan bahan masakannya.


"Kamu jadi pergi sama Albar ke kampung rambutan?"


Tanya Dinda.


Balqis memang sudah bercerita pada Dinda soal rencananya dengan Albar yang akan mengunjungi makam kedua orangtua Balqis dan juga akan menemui keluarga orangtua kandung Balqis pula.


"Jadi Nda, nanti jam sembilanan."


Dinda mengangguk.


"Katanya Bang Zul juga mau jemput Po sama kita-kita untuk ambil barang yang masih tertinggal di rumah Bang Beni."


Ujar Dinda.


"Oh ya, Po kok ngga bilang aku?"


Tanya Dinda.

__ADS_1


"Dia kan share di grup, kamu kan sejak semalam habis ngobrol sama aku di kamar ngga lihat aplikasi chat sama sekali."


Kata Dinda.


"Ah iya, aku lupa."


Balqis nyengir karena baru ingat ia sama sekali belum menyentuh hp nya sejak semalam ngobrol dengan Dinda soal banyak hal.


"Nanti kalau Albar melamar jawab baik-baik, besok dia kan pulang ke Perth, jangan lagi ribut kayak sebelumnya. Sekarang kita udah mulai dewasa Qis."


Pesan Dinda.


Balqis mengangguk.


"Ya Nda, thanks."


Balqis tersenyum.


"Oh, gimana Bang Fajar? Katanya mau ke sini, udah diterusin bahasnya?"


Tanya Balqis mengingat Bang Fajar di kampung.


Dinda terlihat cekikikan.


"Kenapa ketawa sih?"


Balqis jadi heran.


"Nanti aku sambungkan langsung sama Albar sajalah Qis."


Kata Dinda akhirnya.


"Kalau mau ke sini mah ke sini aja, dia kan bagian keluargaku juga Nda sekarang, kalau ngga ada Bang Fajar siapa coba yang akan urus ayam Aki?"


Ujar Balqis membuat Dinda makin tertawa.


"Iya juga sih, semalam aku bilang ke Bang Fajar, tapi kan Bang Fajar bukan keluarga siapa-siapa, ah dia langsung sedih banget kayaknya, hahahaa..."


Cibir Balqis.


Dinda tertawa.


**--------------**


Satu jam kemudian,


"Hmm... Aroma sambaaaaal."


Eti tampak muncul dengan muka lapar, sementara Po mengikuti dari belakang.


Bi Tuti yang sudah bangun setengah jam yang lalu sedang memotong buah dan mulai membuat jus untuk Albar dan yang lain.



Eti ngiler melihat menu rumahan yang sederhana namun menggiurkan.


"Bi Tuti ada pete nggak?"


Tanya Eti pada Bi Tuti asisten rumah tangga Albar.


"Wah ngga ada pete Non di rumah ini, wong yang doyan cuma saya."


"Kalau gitu nanti beli aja."


Ujar Po.


"Haiish kalian ini, tinggal di rumah semewah ini yang dibahas pete."


Dinda geleng kepala.


Balqis tampak senyum-senyum.

__ADS_1


"Nggak apa nanti aku beliin, udah itu makan, eh Bang Pardi ke mana?"


Tanya Balqis.


"Di depan Non, lagi cuci mobil."


Kata Bi Tuti.


"Qis, bangunin calon suamilah, sarapan."


Ujar Eti.


"Iya ini mau aku bangunin, panggil Bang Pardi dulu kasihan barangkali udah lapar."


Ujar Balqis.


"Jiaaah dia pacar Bang Pardi apa pacar Albar sebenernya."


Komen Eti julid, sambil mencomot satu potong tempe goreng lalu mencoleknya ke dalam cobek.


Po ke dapur ambil piring kosong, lalu di bawa ke meja makan, sementara Dinda bari selesai memindahkan nasi ke wadah untuk dibawanya ke meja makan juga.


Bi Tuti yang sudah selesai memotong buah tampak muncul dari dapur dan menuju ruang makan juga, diletakkannya piring buah potong di sana, dan juga satu piring berisi menu yang berbeda.



"Lha kok diskriminasi nih."


Kata Eti.


Dinda terkekeh.


"Albar ngga makan nasi kalau pagi, dia makan nasi kalau siang doang."


"Tapi kemarin makan nasi tiga piring, dirapel kali."


Sahut Po.


"Ehm."


Tiba-tiba terdengar suara Albar ber ehm-ehm, membuat Po menoleh dan langsung menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Si Po, udah hidup numpang pake ghibahin Tuan Rumah, hahaha..."


Eti terpingkal.


Po yang malu jadi langsung pura-pura nyomot satu buah potong, lalu ngeloyor ke dapur untuk membantu Bi Tuti mengambil jus.


Albar duduk di kursi ruang makan.


"Balqis mana?"


Tanya Albar.


"Dia manggil Bang Pardi suruh makan."


Sahut Eti sambil mulai mengambil nasi.


"Lho kok yang dipanggil Pardi duluan?"


Albar tersinggung.


Eti cekikikan.


"Ya mungkin takut kamu masih tidur atau lagi mandi saja Bang Albar, kan secara kalian belum muhrim, kalau masuk kamar kan kurang bagus, kalau Bang Pardi kan tinggal manggil saja."


Kata Dinda menjelaskan.


Albar mantuk-mantuk karena penjelasan Dinda masuk akal.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2