
Albar keluar dari kamarnya begitu mendengar suara Flo memanggilnya dari lantai satu rumahnya.
"Baaar..."
Flo teriak lagi.
Albar menuruni anak tangga dan melihat Flo duduk di sofa ruang TV sambil melepas tas selempang dan jaketnya.
"Wih my Flo akhirnya datang."
Kata Albar seraya menghampiri Flo.
Keduanya toss sebentar lalu duduk bersebalahan.
"Sori telat banget."
Kata Flo.
Albar mantuk-mantuk.
"Apa tuh?"
Tanya Albar melihat bungkusan di atas meja di depan mereka.
"Ooh ini, lumpia, tadi nggak tahu kenapa pengij makan ini kayaknya enak anget-anget, Bi Tuti mana Bar?"
Tanya Flo sambil buka bungkusan dan kotak isi lumpia yang masih anget.
"Ada di belakang paling."
Kata Albar.
"Bi Tutiiiiiii... Biiiiii."
Flo memanggil dengan suara strereo.
Tak lama kemudian tampak Bi Tuti asisten rumah Albar yang selama ini masih setia mengurus rumah selama Albar tak tinggal di Jakarta terlihat tergopoh-gopoh muncul dari arah belakang.
Bi Tuti, perempuan berusia empat puluh tahunan itu kemudian menghampiri Flo dan Albar yang duduk di ruang TV sambil mulai menikmati lumpia.
"Bi, buatin teh anget dong, tapi jangan kasih gula."
Kata Flo.
"Aneh banget, rasanya apa?"
__ADS_1
Tanya Albar.
"Ya rasanya teh lah, masa rasa obat nyamuk."
Sahut Flo.
"Oh Iya Non..."
Bi Tuti segera berbalik untuk bersiap kembali ke dapur saat Flo memanggil lagi.
"Ya Non, butuh apa lagi?"
Tanya Bi Tuti.
"Lumpia Bi, enak, ambil... ambil."
Kata Flo menawari Bi Tuti lumpia yang ada di bungkusan.
"Oh nanti Non saya ambil piring dulu."
Kata Bi Tuti.
Flo mantuk-mantuk.
Bi Tuti kemudian melangkah ke arah dapur lagi.
Tanya Flo pada Albar begitu Bi Tuti pergi.
Albar mengangguk.
Flo menghela nafas, ia ingat Balqis juga sedang ada di Jakarta, ah bukan sedang, tapi sudah ada di Jakarta.
Flo menatap Albar yang menghabiskan sisa gigitan terakhirnya pada lumpia yang ia makan.
"Kenapa lihatin aku gitu?"
Tanya Albar yang merasa kalau Flo memandanginya dengan cara yang berbeda, seperti ada yang ingin ia katakan tapi ragu-ragu.
"Ngomong aja."
Kata Albar pula.
Mereka sudah bersama-sama cukup lama, belum lagi mereka juga masih ada hubungan darah, jadi wajar jika satu sama lain saling bisa memahami apa yang dipikirkan.
Flo menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya.
__ADS_1
"Bar."
Panggil Flo.
"Hmm..."
Sahut Albar sembari mencomot satu lumpia lagi dari bungkusan.
Lama sekali ia tidak makan makanan dengan cita rasa sederhana milik Indonesia, ia tampak begitu menikmati setiap gigitan dan kunyahan atas lumpia yang kini ia makan.
"Kalau... Ini kalau."
Kata Flo.
Albar menoleh ke arah Flo.
"Apa sih, ngomong aja lah, ribet amat kamu."
Ujar Albar.
"Kalau kamu tiba-tiba ketemu Balqis di Jakarta gimana?"
Uhuk uhuk uhuk...
Begitu mendengar kalimat Flo, Albar langsung sukses tersedak.
Flo mendengus.
"Ini makanya aku ragu-ragu mau ngomong dodol!"
Flo menepuk punggung Albar.
Tepat Bi Tuti datang membawa satu gelas air putih dan juga satu cangkir teh tanpa gula.
Bi Tuti lekas memberikan minuman yang ia bawa ke Tuan Mudanya yang terbatuk parah.
"Lah makan sambil ngomong ini pasti Tuan Muda Albar."
Ujar Bi Tuti.
"Bukan sambil ngomong Bi, tapi keinget pacar."
Sahut Flo, membuat Albar makin terbatuk lagi.
**-------------**
__ADS_1
Nanti lagi ah, 500 kata 15 menit wkwkwk
othor kerja duluuuuuuuu...